jump to navigation

Politik Syaitan Februari 14, 2008

Posted by ummahonline in Surat Pembaca.
trackback

Oleh: M Turkan

“Sesungguhnya Fira’un telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya terpecah belah; dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fira’un termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dan Kami akan teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fira’un dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan.” — Al-Qashash: 4-6

Imam Khomeini membahagi politik menjadi tiga bahagian: Politik Keduniaan, Politik Syaitan dan Politik Tuhan.

Dalam politik pertama, masyarakat dituntun kepada keuntungan duniawi dan pemenuhan material saja. Pada politik ketiga, manusia dibawa ke tingkat yang paling utama—tidak hanya sekedar memenuhi sisi material—akan tetapi mengisi manusia dengan nilai-nilai ilahiah dan kedekatan maknawi kepada Tuhan. Sementara dalam politik kedua, manusia diarahkan ke tujuan yang bersifat kekuasaan dan masyarakat diajak untuk selalu haus akan kekuasaan dan posisi.

Dapat diamati bagaimana politik syaitan ini tidak pernah berubah sejak zaman Fira’un hingga sekarang, yakni melakukan usaha memecah belakan dengan cara menguatkan sebahagian pihak dan melemahkan yang lain dengan memberi secangkir kekuasaan dan kekuatan.

Bahkan untuk itu mereka tega melakukan kekejian, bahkan sampai pada pembunuhan bayi-bayi yang baru lahir, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Ertinya, untuk meraih dan melangsungkan kekuasaan, mereka tega sekalipun harus membunuh jutaan manusia.

Praktik pembantaian dan pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di beberapa negara adalah hal yang wajar dan lumrah dalam cita-cita orang-orang yang mengejar kekuasaan. Dan tidak hanya pada kes di atas semata, malahperistiwa yang saat ini sedang berlaku seperti di Sudan, Iraq, Palestin, Yaman, Afghanistan dan di sebahagian negara-negara Islam, adalah bukti nyata akan bengisnya praktik politik syaitan ini.

Kalau mahu jujur, itu sebenarnya disebabkan oleh satu faktor saja, iaitu keresahan akan runtuhnya hegemoni, kekuasaan dan pemerintahan mereka. Ini persis seperti keresahan yang ada pada Fira’un di saat dia merasa akan muncul seorang bayi yang akan menumbangkan kekuasaannya, sehingga ia harus membunuhi bayi-bayi yang baru lahir.

Pada saat yang sama, penguasa-penguasa zalim atau fira’un ini akan menebarkan khabar fitnah bagi menutupi kejahatan itu dengan cara mencari kambing hitam. Selain itu, mereka juga menempatkan diri mereka pada posisi sebagai pahlawan dan polis dunia.

Negara mana pun akan mendapatkan dukungan yang bersifat semu dalam segala bidang seperti ekonomi, politik, keamanan, dan sebagainya jika mereka siap berdiri di belakang kekuasaan yang dibangunkannya. Sebaliknya bila menentang, negara tersebut akan diganggu, dipecah-belahkan, sebelum akhirnya dikunyah-kunyah.

Ini persis dengan apa yang tengah dialami oleh negara Iran: yang kerana dianggap membangkang, Iran selalu digugat kepentingannya di dalam beragam perkara. Namun sialnya, mereka tidak sedar kekuatan rakyat Iran tidak boleh dilumpuhkan dengan slogan dan gertakan.

Saat ini, fira’un hadir dan ada di mana-mana di samping bayang-bayang fira’un terbesar: Amerika Syarikat. Dengan segala kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, ia memaksakan kehendaknya ke atas seluruh bangsa, meruntuhkan sebahagian di antaranya dan mengukuhkan sebagian yang lain.

Dan di lain pihak, tidak ada yang ditakuti oleh Amerika selain gerakan-gerakan kemerdekaan di atas asas Islam. Sebab itu, Islam hanya mengakui kekuasaan Allah dan menentang kekuasaan zalim dari siapa pun.

Dalam tauhid disebutkan bahawa setiap manusia harus bergantung hanya kepada kekuasaan Allah, dan manusia tidak berhak mengakui kekuasaan selain kekuasaan Allah swt. Dengan demikian, slogan dan garis perjuangan yang dijalankan mereka meyakini bahawa Islam dan Allah swt adalah satu-satunya penguasa yang harus ditaati.

Jadi, hal ini sangat tidak menguntungkan, bahkan mampu mengancam kelanggengan kekuasaan Fira’un di mana pun dan bila masa pun. Oleh kerana itu, adalah hal yang wajar bila Islam menjadi musuh utama bagi para politikus yang berorientasi pada kekuasaan. Bahkan permusuhan ini ditegaskan kembali setelah peristiwa 11 September 2001.

Penegasan ini sangat ketara ketika Bush membuat garis merah: “Aku atau Pengganas”. Sejak saat itu, ketika terjadi penindasan dan pembunuhan di mana saja, mereka selalu menjadikan Islam sebagai kambing hitam dari segala bentuk kejahatan, walaupun pelaku kejahatan itu mereka sendiri.

Dengan segala kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki, mereka melakukan propaganda luar biasa dengan menyebarkan kepada kenyataan umum untuk meyakinkan dunia bahawa Islam adalah identik dengan kekerasan, keganasan, atau terorisme. Sambil menyebarkan maklumat bohong, mereka kononnya telah bertindak sebagai polis dunia yang melindungi hak asasi manusia dan nilai kemanusiaan. Dan atas nama demokrasi, mereka menekan negara-negara dunia ketiga agar sesuai dengan kehendak mereka.

Sebenarnya, pekerjaan mereka adalah pekerjaan syaitan. Mereka adalah para hamba syaitan dengan menjadikan manusia saling mencurigai, memusuhi, dan berperang antara satu sama lain. Kemudian mereka mendukung kelompok yang mendukung kekuasaan mereka dan memerangi kelompok yang tidak menyembah terhadap kekuasaan dan kemahuan mereka.

Allah Swt. Berfirman, “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu…(Al-Ma’idah: 91).

Inilah yang dimaksudkan oleh ayat dalam surat Al-Qashash di atas bahawa Fira’un senantiasa berupaya melemahkan sebahagian golongan dan menguatkan sebagian yang lain.

Ironi sekali, ketika kita melihat banyaknya politikus di dunia ketiga begitu gentar untuk menjarakkan hubungan dengan politikus syaitan (Amerika Syarikat dan Barat). Hakikatnya, tangga politik yang mereka pijak adalah semata-mata demi kekuasaan dan perut mereka. Memang wajah politikus kita persis seperti badut yang bertopeng malaikat, tapi hati mereka busuk seperti Fira’un dan terbelenggu dengan jaring syaitan besar.

Dari Rasulullah saw kita menangkap isyarat, “Beruntunglah orang-orang yang sibuk dengan aib dan kezalimannya berbanding sibuk dengan aib dan kezaliman orang lain.”

Ertinya, setiap kita mesti berjuang membebaskan hatinya dari kekuasaan syaitan. Ia harus berusaha menciptakan keadilan dalam dirinya. Jika kezaliman masih berkuasa di hatinya, maka jangan harap kita boleh percaya kepada penguasa seperti mereka.

Disedari atau tidak, atau mungkin berpura-pura pongah bila saat ini para pemimpin negara-negara adikuasa pada hakikatnya adalah fira’un besar. Langkah-langkah politik mereka adalah cermin politik syaitan yang hanya memantulkan semula kejahatan dan untuk kejahatan.

Begitu pula jika para pemimpin dunia ketiga; selama berorientasi pada kekuasaan dan perut maka, hakikat mereka adalah fira’un yang hatinya belum terbebaskan dari kekuasaan syaitanik, sehingga yang muncul darinya juga kejahatan dan demi kejahatan.

Dalam banyak cara untuk mengugat citra Islam, mereka menyebarkan berita palsu dan fitnah. Mereka berharap setiap orang akan ketakutan dan tidak selasa apabila bersentuhan dengan Islam dan merasa malu bila disebut sebagai muslim. Mereka berusaha agar dunia ini terasa sempit bagi orang-orang Islam. Mereka telah berbohong dengan mengatakan bahawa Islam hanya dibangun di atas kekerasan, keganasan dan perang.

Mereka mengindentikkan orang-orang kafir dan munafik dengan orang-orang yang tidak menerima Islam (bukan-muslim). Walhal, orang-orang kafir dan munafik tidaklah sama dengan orang-orang yang tidak beragama Islam. Orang-orang kafir adalah mereka yang menolak dan memerangi kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang memaksakan pembohongan terhadap orang lain, liar, bertindak tanpa aturan, dan hanya mengikuti hasrat syaitan.

Sementara munafik adalah sekelompok orang yang tak bermoral, manusia pengecut yang ingin hidup di bawah kebijakan Islam tetapi selalu berusaha menghancurkan Islam dari dalam.

Tentu saja, ada banyak lemparan tuduhan mereka terhadap usaha untuk melawan gejala buruk di atas. Mereka sangat tangkas untuk menyainginya dengan menyatakan sebagai kekerasan dan keganasan. Jika memerangi kejahatan dan sikap dayus semacam itu dianggap begitu, maka biarkan saja mereka mengatakan bahawa Islam agama kekerasan.

Politik Islam dibangun atas julangan moraliti dan kemanusiaan sehingga dengan politiknya akan selalu berhadapan dengan kebiadaban dan ketidakadilan. Politik Islam selalu memerangi penipuan, pengkhianatan, keganasan dan segala bentuk sifat-sifat buruk syaitani. Islam dengan politiknya tidak mengejar kekuasaan, kerana kekuasaan hanya milik Allah Swt. semata. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Islam itu mencintai perdamaian, iaitu perdamaian yang berasaskan keadilan dan kemanusiaan. Islam tidak hanya menghendaki manusia hidup sejahtera dan damai dari sisi material saja, sebab ini adalah politik keduniaan yang hanya mementingkan nafsu semata-mata.

 

Komen-komen»

1. bukamata - Februari 21, 2008

sila2lah lihat link ini…


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: