jump to navigation

Memaknai Haji Februari 16, 2008

Posted by ummahonline in Telaah Buku.
trackback

Oleh: Lukman Santoso

Buku: Makna Haji
Pengarang: Dr. Ali Shari’ati
Penerbit: Zahra, 2007
Halaman: 260 mukasurat

Ibadah haji dalam rukun Islam merupakan ibadah yang kelima setelah syahadat, shalat, puasa dan zakat. Ibadah ini dilakukan pada hari-hari tertentu di bulan Dzulhijjah dengan urutan amalan-amalan tertentu. Setiap pelaku haji melakukan amalan-amalan tersebut pada tempat-tempat yang tertentu pula.

Ini termasuklah di antaranya Makkah, tempat para jamaah haji melakukan thawaf (mengelilingi ka’bah), sa’i (lari-lari kecil), dan tahallul (memotong rambut). Kemudian Arafah, suatu padang tandus tempat para jamaah haji melakukan perenungan dan berdoa sebanyak-banyaknya.

Lalu Mina, tempat para jamaah haji melontar tiga macam jumrah, dan seterusnya hingga ritual haji selesai. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apa rahsia yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji itu. Apakah ia hanya sekadar ritual belaka, atau ada makna luhur di sebalik semua ritual tersebut?

Berlatar pada kefahaman itulah, Dr. Ali Shari’ati melalui buku ini, mengajak kita untuk menyelami ritual haji menuju makna yang sesungguhnya. Ia juga menggiring kita ke dalam lorong-lorong haji yang penuh hikmah. Kerana haji dalam kefahamannya bukan sekadar ritual perlancongan yang hampa makna, sebaliknya haji merupakan sebuah langkah maju menuju ‘pembebasan diri’, bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati.

Melalui buku ini, Dr. Ali Shari’ati juga akan memberitahu kita tentang siapa saja kepalsuan yang ternyata menjadi sahabat, kekasih dan pembela kita, yang harus kita waspadai dan kita bongkar topeng-topeng kemunafikannya. Mulai dari penafsiran makna ritual miqat, ka’bah, tawaf, sa’i, Arafah, Mina, hingga makna ritual qurban, eidul adha, maka Ali Shari’ati, dengan bahasa yang khas memberikan pemahaman yang begitu komprehensif bagi kita tentang makna haji.

Memahami makna haji, dalam konteks ini membutuhkan pemahaman secara khusus dengan sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, kerana praktik-praktik ritual ibadah ini memiliki keterkaitan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim as. bersama keluarga beliau.

Para pemikir seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan manusia yang mempengaruhi atau bahkan merubah jalannya sejarah kemanusiaan. Tapi seperti ditulis Mahmoud al-Akkad, penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as. merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tak dapat diabaikan para pemikir atau sejarawan, ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, elektrik, atau rahsia-rahsia zarah betapa pun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut.

Haji dalam pemahaman Shari’ati merupakan kepulangan manusia kepada Allah swt yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak diserupai oleh sesuatu apapun. Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta.

Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, tetapi untuk ‘berkembang’. Tujuan ini bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya. Makna-makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan bukan-ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam bentuk nyata atau simbolik dan kesemuanya pada akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan universal.

Semisal, dalam konteks niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram, haji memiliki makna yang lebih universal dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pakaian ihram melambangkan pola, status dan perbezaan-perbezaan tertentu.

Tak dapat disangkal lagi, bahawa pakaian pada kenyataannya dan juga menurut al-Qur’an berfungsi sebagai pembeza antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya.

Pembezaan tersebut dapat mengantar kepada perbezaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologi pada pemakainya. Di Miqat Makanya di tempat dimana ritual ibadah haji mulai, dan pembezaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama dalam aspek pengaruh psikologinya, hingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.

Di Miqat ini, apapun ras dan suku harus dilepaskan. Semua pakaian yang dikenakan sehari-hari yang membezakan sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan) harus ditinggalkan. Semua ditinggalkan ketika Miqat dan seorang haji berperanan sebagai manusia yang sesungguhnya.

Di Miqat dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ka’bah yang dikunjungi dalam pemahaman Shari’ati mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana misalnya ada Hijr Ismail yang erti harfiahnya pangkuan Ismail. Di sanalah Ismail putra Ibrahim, pembangun Ka’bah ini pernah berada dalan pangkuan Ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan hamba, yang konon kuburannya pun di tempat itu.

Namun demikian hamba wanita ini ditempatkan Tuhan di sana atau peninggalannya diabadikan Tuhan, untuk menjadi pelajaran bahawa Allah swt memberi kedudukan untuk seseorang bukan kerana keturunan atau status sosialnya, tapi kerana kedekatannya kepada Allah swt dan usahanya untuk menjadi Hajar atau berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban.

Selain itu, melalui buku setebal 260 halaman ini, Shari’ati juga mengupas makna pengorbanan Ismail yang hingga sekarang diabadikan umat muslim diseluruh penjuru dunia, makna eidul adha, makna bermalam di Mina serta makna beberapa ritual lainnya. Shari’ati melalui buku ini hendak menunjukkan kepada kita bahawa sesungguhnya haji bukanlah sekadar proses lahiriah formal belaka, melainkan sebuah detik revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia.

Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang “tampil beza” (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya, dan ini adalah kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah pelancong yang berlibur ke tanah suci di musim haji, tidak lebih. Buku ini amat penting untuk dibaca oleh siapapun, sebagai usaha untuk menumbuhkan kesedaran baru akan makna haji yang hakiki.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: