jump to navigation

Biara Keruhanian Februari 17, 2008

Posted by ummahonline in Telaah Buku.
trackback

Oleh: Musthov

Buku: Menerobos Kegelapan: Sebuah Autobiografi Spiritual
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Mei 2004
Tebal: 558 halaman

Memantulkan perjalanan hidup adalah bahagian dari tanggungjawab kita dalam menjalani hidup itu sendiri. Ketika alur kehidupan yang telah kita lalui dibiarkan tanpa pantulan, maka langkah-langkah kita menjadi semakin rapuh dan tak bermakna.

Buku ini mengisahkan perjalanan keruhanian Karen Armstrong, seorang pemikir lintas agama yang sering mengkaji soal-soal keruhanianian dan ilmu keagamaan. Buku ini merupakan lanjutannya dari autobiografi yang terbit pada 1981, Through the Narrow Gate, yang mengungkapkan dengan panjang lebar tentang kehidupannya di biara (1962-1969).

Sebagai sebuah sekuel, buku ini menjadi semakin menarik kerana perkembangan kehidupan keruhanian Armstrong dan karier intelektualnya sejak penulisan buku itu menjadi semakin kaya dan mengagumkan. Dari tangannya lahir karya-karya besar, di antaranya A History of God, Holy War, Muhammad, dan Buddha.

Di bahagian prakata, Armstrong meringkas pengalamannya ketika hidup sebagai biarawati Katolik Roma selama tujuh tahun. Armstrong menggambarkan bagaimana pilihannya itu pada waktu itu dikira radikal dan berani, di tengah-tengah latar keluarganya yang bukan terdiri dari keluarga yang saleh, serta dalam latar perubahan sosial di England pasca Perang Dunia Kedua.

Malangnya, kehidupan Armstrong di biara justeru tidak mampu memberikan apa yang dicarinya. Di satu sisi, biara pada tahun 1960-an masih berada dalam taklukan regim tradisional yang berada pada waktu terburuknya, sebelum kemudian mendapat pembaharuan dari Vatikan.

Armstrong merasakan kesulitan yang cukup menekan ketika dalam ritual dan doa-doa yang dijalaninya dia ternyata cukup sering tidak mampu merasakan kehadiran Tuhan yang diharapkan datang menyapanya. Akhirnya, pada 1969, setelah melalui gelogak yang hebat, Armstrong memilih untuk keluar dari biara.

Sekitar separuh dari bahagian awal buku ini, Armstrong menuturkan kegelisahannya ketika ia kembali ke kehidupan awam. Pada tahun-tahun itu Armstrong menjalani kehidupan awamnya dengan sulit, mengalami semacam kejutan budaya, yang bahkan menjadi trauma. Perlu penyesuaian yang cukup menuntut ketegaran untuk dapat berintegrasi kembali dengan suasana hidup yang berbeza.

Armstrong merasa seperti terlontardi kem pengasingan setelah meninggalkan rumah keruhaniannya di biara, terkurung dalam dirinya sendiri, tak mampu melarikan diri, atau menjangkau orang lain.

Tapi kemudian datanglah satu saat berkah. Di tahun 1972, dalam salah satu kuliahnya, Armstrong tersentuh dengan puisi T.S. Elliot berjudul Ash Wednesday. Puisi yang menggambarkan perjalanan hidup dengan menggunakan ibarat pendakian sebuah tangga spiral inilah yang kemudian menginspirasikan Armstrong untuk terus bertahan, bertawakal, dan memaknai saat kegelisahannya itu secara lebih positif.

Namun tekanan kembali datang. Pada tahun 1975, tesisnya di universiti ditolak dan kemudian pada tahun 1976 dia didiagnosis menderita epilepsi. Armstrong semakin kehilangan momentum kebangkitannya kembali. Beruntunglah bahwa pada masa-masa sulit itu Armstrong masih boleh melakukan kegiatan: mengajar di Bedford College dan kemudian menjadi guru di sebuah sekolah menengah.

Pada akhirnya, ketika menulis Through the Narrow Gate (1981), Armstrong tersentak dan ditarik kembali ke dalam suatu perasaan rindu akan yang sakral, seperti yang dulu pernah mengantarnya ke biara. Tidak lama berselang, Armstrong kemudian terlibat kerja sama dengan British Channel 4 dalam sebuah pembuatan siri televisyen berjudul Opinions. Di situlah kemudian gagasan-gagasan asli Armstrong tersemai.

Tahun 1983, Armstrong kemudian menjalin hubungan untuk membuat siri dokumentari tentang kehidupan St. Paulus. Dalam penyelidikan yang berpusat di Jerusalem itu, Armstrong menemukan banyak hal yang jauh melampaui dari apa yang di dapatnya di biara, tentang peranan St. Paulus dan perkembangan Kristian awal.

Selain itu, penyelidikan Armstrong yang pertama diyakini akan dapat membongkar ketidak-tolakansuran dogmatik gereja itu juga telah mengantarkannya untuk berkenalan dengan agama Yahudi. Dari situ terbitlah buku The First Christian (1983).

Sentuhan Armstrong dengan agama Yahudi dan Islam, selain dalam kunjungannya ke Jerusalem selama melakukan penyelidikan tentang St. Paulus itu, dan semakin akrab lagi ketika di tahun 1985 sewaktu dia mendapat kesempatan untuk meneliti tentang Perang Salib—yang meski gagal ditayangkan—yang menghasilkan sebuah karya memukau berjudul Holy War (1988).

Pada kesempatan inilah, ketertarikannya pada Islam khususnya menjadi semakin bertambah. Armstrong merasa malu bahwa selama ini dia dibesarkan dalam ketidaktahuan tentang Judaisme dan Islam.

Penjelajahan Armstrong ketika menulis buku A History of God (1993) yang dimulai pada tahun 1989 telah semakin memperkaya perspektif keruhanianian yang telah diperolehinya. Pada saat penulisan buku tersebut Armstrong juga sempat menerbitkan buku Muhammad (1992) yang mendapat sambutan baik di kalangan muslim.

Dari situ Armstrong kemudian semakin yakin bahwa perspektif empatik akan sangat berguna untuk mempelajari tradisi agama lainnya: bahwa hal penting yang harus diingat dalam mempelajari teologi adalah kesediaan untuk menyediakan sebuah ruang kosong dalam fikiran. Ini berlaku sehingga kita berada dalam keheningan kesadaran akan Wujud Ilahiah itu yang mengungkapkan dirinya, dan akhirnya menjadi bahagian dari kita sendiri.

Pengisahan Armstrong yang jujur, berani, dan lugas sungguh tidak wajar dilewatkan begitu saja. Kisah perjuangannya menerobos kegelapan dan meniti tangga menuju taman cahaya keruhanianian yang menyejukkan dari biara Katolik Roma hingga ke biara keruhanian yang dibangunnya sendiri secara perlahan dan sabar ini pada satu sisi semakin menegaskan makna penting pantulan diri agar orientasi hidup dan transformasi diri kita tetap wujud.

Yang paling penting, buku ini menuturkan pesan kepada kita tentang bagaimana menghayati dan memaknai keberagamaan dan keruhanianian dalam tatanan zaman yang seperti tak menyediakan ruang bagi yang transenden di satu sisi, dan fakta kepluralan dan pergaulan lintas sosial yang semakin terbuka di sisi lain.

Melalui kisah pengembaraan Armstrong ini kita diingatkan kembali bahawa keberagamaan dengan dasar empatik dapat membimbing kita ke suatu kesadaran teologi yang dapat menghadirkan sikap yang lebih manusiawi dan bermoral.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: