jump to navigation

Merengkuh Kembali Makna Keimanan Sejati Mac 1, 2008

Posted by ummahonline in Telaah Buku.
trackback

Oleh: Musthov

Buku: The Heart of Islam: Pesan-Pesan Universal Islam untuk Kemanusiaan
Penulis: Seyyed Hossein Nasr
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, November 2003
Tebal: lviii + 406 halaman

Keberagamaan setiap saat selalu tercabar oleh gerak kemajuan zaman. Pada Abad Pertengahan dan Moden, agama digempur oleh berbagai hujah falsafah rasional untuk disudutkan ke alam kehampaan, atau nihilisme, sehingga muncul wacana tentang wahyu dan akal (agama dan falsafah).

Namun, pada era global ini, cabaran agama-agama adalah keganasan dan konflik, kehidupan pluralistik, dan tanggungjawab untuk menjelmakan kedamaian dunia.

Belakangan ini, Islam sering kali dituduh sebagai agama yang berperanan dalam terjadinya aksi-aksi keganasan, seperti yang berlaku dalam peristiwa 11 September atau ledakan bom di Kuta, Bali. Ini telah membuat Muslim menjadi tertekan oleh serentetan stigma negatif. Akibatnya, kesalafahaman semakin menjadi-jadi, dan penyertaan Islam sebagai sebuah agama dan gugus peradaban dalam seharah dunia kian jadi terhambat.

Dalam konteks dan bingkai sosial yang demikian, Seyyed Hossein Nasr melalui karya terbarunya yang berjudul The Heart of Islam ini menyajikan sebuah paparan yang tidak saja bersifat apologi atau reaktif terhadap situasi tersebut, tetapi juga menegaskan keruhanian universal Islam yang terpendam sedemikian rupa dalam ajaran-ajarannya.

Yang dilakukan Nasr dalam buku ini tidak saja usaha pengkelasan bagi orang di luar Islam atas salah tafsir yang terjadi, tapi juga kontekstualisasi dan refleksi atas sejumlah ajaran Islam menghadapi tantangan global yang begitu mencabar.

Nasr membuka uraiannya dalam buku ini dengan dimensi teologi Islam. Dalam bahagian ini, Nasr menekankan keterhubungan Islam dengan gugus agama besar lainnya, yakni Yahudi dan Kristian. Nasr menegaskan bahwa Islam mengimani Tuhan Yang Esa (monoteis) dan juga mengakui nabi-nabi sebelum Muhammad (nabi kaum muslim). Ini bererti bahawa Islam adalah bahagian tak terpisahkan dari rumpun agama Ibrahim dan memandang dirinya terkait erat dengan kedua agama tersebut.

Meski begitu, Islam mendakwa sebagai pelengkap kedua agama itu dan sebagai bentuk terakhir dari pesan monoteisme Ibrahim. Islam adalah agama primordial sekaligus agama terakhir, sehingga ini menggambarkan ciri universal Islam serta kemampuannya untuk menyerap secara intelektual dan budaya berbagai hal dari tradisi sebelumnya.

Keuniversalan keimanan yang diakui Islam ini selanjutnya mendapatkan dukungan dari pengalaman sejarah Islam itu sendiri, manakala Islam mengalami hubungan langsung dengan hampir semua agama yang ada: Yahudi dan Kristian di Arab, agama Zoroaster dan Manichaeisme di Persia, Hindu dan Buddha di India, dan juga agama-agama China. Ini menjadikan budaya Islam berkembang ke arah perspektif keagamaan yang melebar dan kosmopolitan.

Salah satu wujud keterbukaan ini terlihat dalam beragam corak keberislaman yang berkembang di seantero dunia: ada Sunni, Shi’ah, Wahhabi, dan sebagainya. Yang menarik, kekayaan spektrum Islam ini menjadi kompleks saat Islam berhadapan dengan hegemoni Barat dalam bentuk kolonialisme, yang dimulai dari penyerangan Napoleon atas Mesir pada tahun 1798.

Dari sini, muncullah banyak respons terhadap kemunduran posisi umat Islam dalam kancah dunia. Nasr mencatat tiga sikap umat Islam yang berkembang. Ada kelompok yang berpandangan bahwa kaum muslim menjadi lemah kerana penyimpangan yang terjadi dari ajaran keimanan yang murni, ada kelompok yang meyakini Mahdiisme, dan ada kelompok yang mendukung proses kemodenan Islam.

Meski demikian, Nasr mencatat bahawa ketiga sikap tersebut bukanlah yang dipilih oleh kebanyakan umat Islam. Menurut Nasr, “muslim tradisional” lebih memilih untuk merawat keberlangsungan tata cara hidup dan pemikiran Islam tradisional, bukannya mengemukakan reaksi dan apologi.

Tentu saja ini tidak menafikan perlunya langkah pembaruan. Namun, kelompok ini bukannya menentang apa saja yang datang dari Barat, tetapi lebih kepada penolakan atas pengaruh merosak dari budaya moden Barat yang mengancam nilai-nilai Islam—sama halnya juga bahwa ada sejumlah hal yang mengancam nilai-nilai Kristian dan Yahudi di Barat.

Pada bahagian ini Nasr menekankan bahawa muslim tradisional ini tidak mengenal aksi-aksi keganasan dalam menjaga kelestarian Islam. Tindakan yang islami adalah mempertahankan dan melakukan pembelaan diri. Keganasan, bila bukan untuk pembelaan diri, dengan dalih apa pun tidak dibenarkan Al-Qur’an dan syariat.

Mengenai fenomena “fundamentalisme” yang kerap melancarkan aksi kekerasan atas nama agama, Nasr memberi catatan bahawa kita perlu melihat konteks terjadinya tindakan-tindakan keganasan yang diterajui oleh kaum fundamentalis itu dengan cara yang sama yang dengannya Barat mampu meletakkan peristiwa semacam pembersihan etnik oleh Serbia dalam konteksnya, dengan tidak menjelaskan kejadian tersebut sebagai tindakan yang hanya terkait dengan agama semata.

Ertinya, harus dikelaskan latar belakang kejadian tersebut, dan jangan langsung secara apriori dikaitkan dengan agama. Nasr juga melancarkan kritik yang keras bahawa sebenarnya tidak cuma fundamentalisme dalam agama yang berpotensi dogmatik, ekstrim, dan fanatik, tetapi juga fundamentalisme sekular yang juga mampu mendatangkan sikap agresif terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Di bahagian yang lain, Nasr juga berbicara tentang Hukum Tuhan, dan menegaskan bahwa syariat tidak hanya suatu hukum positif yang konkrit, tapi juga suatu kumpulan nilai dan kerangka bagi kehidupan keagamaan kaum muslim yang mengandung nilai-nilai etis dan etos keagamaan itu sendiri. Inilah yang menjadi landasan bagi terciptanya suatu ummah (komuniti) yang diredhai Tuhan.

Dengan demikian, Nasr mengingatkan bahwa dari perspektif Islam, nilai suatu masyarakat di mata Tuhan terletak pada kualiti kebijaksanaannya, ketinggian moralnya, dan bukan pada jumlah kekuasaannya.

Sementara, di tiga bab terakhir dari tujuh bab buku ini, Nasr menegaskan komitmen Islam terhadap nilai cinta, kedamaian, keadilan, dan tanggung jawab kemanusiaan. Huraian dan pemantulan pemikiran Nasr yang begitu jelas sepanjang buku ini bermakna penting kerana Nasr mengajak kita untuk menemukan dan merengkuh kembali makna keberimanan dan keberislaman yang sejati dalam konteks sosial global saat ini.

Yang khas dari Nasr adalah perspektif kefalsafahan dan perennial yang begitu kental, sehingga paparannya tampak sebagai langkah pra-semakan dan muhasabah diri terhadap berbagai aspek ajaran mendasar agama untuk dikembalikan ke jantung maknanya yang hakiki. Langkah ini telah meneguhkan kembali nilai-nilai kebijaksanaan dalam agama, dan inilah yang amat diperlukan saat ini menghadapi cabaran masa depan yang semakin kompleks dan berat.

Komen-komen»

1. dhima - September 8, 2008

assalamu’alaikum,,
bagus banget artikelnya,,
kbtulan lagi butuh artikel ttg ni,,
thx y??

tolong kirim ke email saya donk artikel tentang “Manusia Dalam Perspektif Islam,,
wassalamu’alaikum,,


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: