jump to navigation

Bagaimana Seharusnya Kita Beragama? Mac 5, 2008

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Husein Alkaff

Pertanyaan di atas layak diketengahkan dalam rangka memuhasabah diri atas keagamaan kita, sehingga kita benar-benar beragama sebagaimana mestinya. Ini kerana betapa banyak orang beragama, namun keberagamaan mereka sekadar warisan dari orang tua atau lingkungan sekitar mereka.

Bahkan ada sebahagian orang beranggapan, bahawa agama hanya sebagai pelengkap kehidupan yang sifatnya eksidental. Mereka tidak ambil peduli yang lazim terhadap agama. Kerananya mereka beragama adalah dari baka, iaitu sekadar tidak dikatakan tidak beragama. Gejala perpindahan dari satu agama kepada agama yang lain bukanlah semata kerana faktor ekonomi. Malah, anggapan bahawa semua agama itu sama merupakan akibat dari ketidak pedulian yang lazim terhadap agama.

Gejala pluralisme semacam ini menjadi fenomena abad kedua puluh. Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak perlu diungkap dalam wacana umum dan terbuka. Jika harus berbicara agama pun, maka ruang lingkupnya harus dibatasi pada sisi peribadatan saja.

Agama telah dirampingkan, sedemikian rupa sehingga, hanya mengurus masalah-masalah ritual belaka. Agama jangan dibawa-bawa ke dalam kancah politik, sosial dan ekonomi. Ini kerana, jika agama dibawa ke dalam arena politik dan sosial, maka akan terjadi sengketa antara agama dan penindasan atas agama tertentu oleh agama yang berkuasa.

Demikian pula, jika agama diaktifkan dalam urusan ekonomi, maka ia akan membatasi kebebasan perilaku menimbun kekayaan, kerana banyaknya halangan-halangan dan peringatan-peringatan yang sudah tentu akan menghambat kelancaran perniagaan. Apakah benar demikian?

Tentu, bagi mereka yang masih memiliki keterikatan dengan agama akan mengatakan, bahawa pernyataan di atas relatif kebenarannya. Sebab, boleh jadi pernyataan di atas adalah suatu kesimpulan dari beberapa kes sejarah yang serpihan dan bersifat situasi, bahkan tidak bisa diitlakkan.

Namun bagi kaum muslimin, pernyataan di atas sama sekali tidak benar, kerana secara teorinya agama Islam adalah pegangan hidup (way of life) yang lengkap dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik secara individu mahupun kemasyarakatan.

Islam agama yang sangat luas dan anjal. Secara praktik hal ini telah dibuktikan, bahawa dalam sebuah pemerintahan yang menjalankan syariat Islam dengan baik, kehidupan masyarakatnya baik muslim atau bukan-muslim sentiasa aman, damai dan sejahtera, bahkan perkembangan ilmu pengetahuan di dalamnya maju pesat. Yang menjadi acuan kita adalah, bagaimana seharusnya kita beragama, agar ajarannya benar-benar terasa dan mewarnai seluruh aspek kehidupan kita.

Sebagaimana yang kita maklumi, bahawa ajaran-ajaran Dîn terdiri atas tiga aspek, iaitu akidah (keyakinan), syariah (hukum atau fiqih) dan akhlaq. Semuanya harus kita perhatikan secara sempurna. Di sini kami akan menjelaskan, walaupun ringkas, ketiga jenis ajaran tersebut.

Pertama adalah tentang aqidah. Akidah adalah perkara-perkara yang mengikat akal, fikiran dan jiwa seseorang. Misalnya, ketika seseorang meyakini adanya satu Dzat yang senantiasa mengawasi gerak-geri kita, maka keyakinan tersebut mengikat kita sehingga kita tidak leluasa berbuat sesuatu yang akan menyebabkan-Nya murka.

Pada dasarnya, inti dari akidah semua agama, adalah keyakinan akan eksistensi Dzat Pencipta alam raya ini dan ini merupakan fitrah manusia. Dengan demikian, dari sisi ini semua agama sama, khususnya agama samawi. Allah Ta’ala berfirman,“Katakanlah wahai ahli kitab, marilah kita menuju (membicarakan) kalimat (keyakinan) yang sama antara kami dan kalian.” (Ali Imran: 64).

Namun perbezaan muncul ketika berbicara tentang siapa pencipta alam raya ini, bagaimana wujud-Nya, apakah tunggal atau berbilang, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan ketuhanan.

Tentu, tidak mungkin semua agama itu benar dalam memahami Dzat Pencipta. Oleh kerananya, hanya ada satu agama yang benar dalam memahami siapa dan bagaimana Dzat Pencipta itu. Lalu bagaimana cara menentukan mana agama yang benar?

Dalam hal ini, masing-masing agama tidak bisa membicarakan hal itu menurut kaca matanya sendiri, baik melalui kitab sucinya atau pendapat para pakarnya. Umat Islam tidak boleh membuktikan bahawa Tuhan itu Allah dengan Al Qur’an mahupun Hadith, atau umat Kristian dengan kitab Injilnya. Demikian pula umat lainnya.

Berbicara tentang siapa dan bagaimana Tuhan Pencipta, harus dengan sesuatu yang disepakati dan dimiliki oleh setiap agama, iaitu akal. Keunggulan dan keberhasilan suatu agama atau aliran, tergantung sejauh mana dapat dipertahankan kebenarannya oleh akal. Maka di sinilah perlunya kita mempelajari akidah melalui pendekatan akal, atau yang sering disebut dengan ushuluddîn, ilmu tauhid dan ilmu kalam (theologi).

Lalu, Bsgaimana kita berakidah atau bagaimana cara kita mempelajari akidah?

Ayatullah Muhammad Raysyahri dalam kitab Mabani-e Syenakht membahagi manusia yang berakidah kepada dua kelompok, iaitu sebahagian orang berakidah atas dasar taqlid dan lainnya berakidah atas dasar tahqiq. Taqlid ialah menerima pendapat orang tanpa dalil dan hujah (burhan) aqli, sebaliknya tahqiq adalah menerima pendapat berdasarkan dalil dan hujah(burhan) aqli.

Berakidah atas dasar taqlid, menurut akal tidak dapat dibenarkan. Kerana masalah akidah adalah masalah keyakinan dan kemantapan, sementara taqlid tidak memberikan keyakinan dan kemantapan. Oleh kerananya, banyak berlaku dalam kes di mana terdapat kes murtad atau bertukar agama.

Al Qur’an sendiri, dalam beberapa ayatnya, mengkritik cara berfikir seperti ini, yang merupakan cara berfikir yang biasa dijadikan alasan oleh orang-orang musyrik untuk tidak mengikuti ajakan para Nabi. Misalnya, Al Qur’an mengatakan, “Jika dikatakan kepada mereka, ikutilah apa yang Allah turunkan. Mereka menjawab, tidak. Akan tetapi kami mengikuti (melakukan) apa yang kami dapati dari pendahulu kami.” (Luqman: 21).

Selain itu, Al Qur’an juga melarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan, “Dan janganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui.” (Al-Isra: 36). Bahkan Al Qur’an menyebut orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai binatang yang paling buruk, “Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli, yaitu orang-orang yang tidak berpikir.” (Al-Anfal: 22) dan ayat-ayat lainnya.

Di samping itu, terdapat sejumlah Hadith Rasulullah saw yang menganjurkan umatnya agar beragama atas dasar pengetahuan. Antara lain Hadith yang berbunyi, “Jadilah kalian orang yang berilmu atau yang sedang menuntut ilmu, dan jangan menjadi orang yang ikut-ikutan.” (Kitab an-Nihayah Ibnu Atsir, jilid I hal. 67)

Ala kullihal, akal diciptakan sebagai sumber kekuatan manusia untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan. Lantaran itu, ada ungkapan yang berbunyi, “Allah mempunyai dua hujjah (bukti kebenaran), hujjah lahiriah dan hujah batiniah. Hujah lahiriah adalah para Rasul dan hujjah batiniah adalah akal.” Sementara itu, para Mutakalimin dan filosof muslim telah bersusah payah membangun hujah-hujah rasional yang kuat dan kukuh tentang pembuktian keberadaan Allah Ta’ala.

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita tarik dari keterangan di atas, adalah bahawa dalam masalah akidah seseorang mesti bertahqiq dengan dalil-dalil akal, dan tidak boleh ber-taqlid.

Berikutnya adalah tentang syariat. Di sini, syariat menurut erti bahasa adalah tempat mengalirnya air. Lalu syariat diertikan lebih luas, yaitu untuk segala jalan yang mengantarkan manusia kepada maksudnya (lihat Tafsir Namuneh dan Tafsir Mizan dalam menafsirkan surat Al-Jatsiyah ayat 18). Dengan demikian, Syariat Islamiyah bererti jalan yang mengantarkan umat manusia kepada tujuan Islami.

Setelah seseorang meyakini keberadaan Allah sebagai Pencipta dan Pemberi kehidupan sesuai dengan dalil-dalil akal, maka konsekuensi logiknya (bil mulazamah aqliyyah) dia akan merasa berkewajiban untuk menaati dan menyembah-Nya. Namun sebelumnya, tentu dia harus mengetahui cara bertaat dan menyembah kepada-Nya, agar tidak seperti orang-orang Arab Jahiliyah yang menyembah Allah, namun melalui patung-patung (Az-Zumar: 3).

Mereka, sesuai dengan fitrah illahiah, meyakini keberadaan Tuhan Sang Pencipta alam raya. Berkenaan dengan itu, Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan bumi dan langit ? Niscaya mereka menjawab, Allah.” (Lukman: 25).

Kemudian, mereka ingin mengadakan hubungan dan berkomunikasi dengan-Nya (menyembah-Nya), sebagaimana Allah lukiskan dalam firman-Nya, “Sebenarnya kami menyembah patung-patung sebagai upaya mendekatkan diri kami kepada Allah semata.” (Az-Zumar: 3). Meskipun mereka meyakini keberadaan Allah Ta’ala, namun mereka salah dalam cara mengadakan hubungan dan berkomunikasi dengan-Nya.

Nah, agar tidak terjadi kesalahan dalam hubungan dan komunikasi dengan Allah, maka kita mesti melakukannya menurut cara yang dihendaki-Nya dan tidak mengikuti cara yang kita inginkan.

Allah dengan luthf-Nya (usaha mendekatkan hamba pada ketaatan dan menjauhkannya dari kemaksiatan) mengutus para Nabi dan menurunkan kitab untuk mengajarkan tata cara menyembah (beribadah). Oleh kerana itu, kita mesti mengikuti bagaimana Rasulullah saw beribadah, “Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Kaum muslimin yang menyaksikan Rasulullah beribadah secara langsung, tidak mengalami kesulitan untuk mengikuti beliau. Namun, bagi kita yang telah dipisahkan dari baginda dengan rentang waktu yang cukup panjang (lima belas abad), untuk mengetahui cara beliau beribadah hanyalah dapat dilakukan melalui perantaraan Al-Qur’an dan Hadith. Dan untuk memahami maksud Al Quran dan Hadith tidaklah mudah.

Menyangkut Al-Qur’an, Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Kitab Tuhan kalian (berada) di tengah-tengah kalian. Ia menjelaskan tentang halal dan haram, kewajiban dan keutamaan, nasikh (ayat yang menghapus) dan mansukh (ayat yang dihapus), rukhshah dan azimah, khusus dan umum, ibrah dan perumpamaan, mursal (mutlaq) dan mahdud (muqayyad), muhkam (ayat yang jelas maksudnya)…” (Tashnif Nahjul Balaghah: 207).

Sedangkan mengenai Hadith yang sampai kepada kita, ribuan jumlahnya dari berbagai kitab Hadith dan tidak sedikit darinya terdapat pertentangan satu dengan lainnya.

Dengan demikian, untuk dapat memahami maksud Al-Qur’an dan Hadith, harus terlebih dahulu menguasai sejumlah disiplin ilmu dengan baik, antara lain Bahasa Arab, Tafsir, Ulumul Qur’an, Ushul Fiqih, Mantiq, Ilmu Rijal, Ulumul Hadith dan sebagainya.

Orang yang telah menguasai semua disiplin ilmu tersebut dengan baik, dia dapat ber-istinbath (menafsirkan hukum) secara langsung dari Al-Qur’an dan Hadith (pelakunya disebut mujtahid). Tetapi orang yang tidak menguasai semua ilmu di atas dengan baik, maka cukup baginya mengikuti (bertaqlid) kepada hasil istinbath seorang mujtahid. Dalam masalah akidah taqlid tidak diperkenankan, sementara dalam masalah syariat taqlid diperbolehkan.

Seterusnya, juga yang terakhir ialah tentang akhlak. Para ulama dalam mengertikan akhlak umumnya mengatakan, “Akhlak adalah ilmu yang menjelaskan tentang mana yang baik dan yang buruk, serta apa yang harus diamalkan.” Di sini, mereka membagi ilmu akhlak kepada dua bahagian, iaitu akhlak teori dan akhlak praktik. Mempelajari dan mengamalkan akhlak sangat diperlukan, sebagai proses mencapai tujuan hidup, iaitu kesempurnaan.

Maka, sebagai kalimat penutup, serta sebagai jawapan atas pertanyaan bagaimana seharusnya kita beragama, maka rumusannya adalah berakidah atas dasar tahqiq dan menjalankan syariat dengan baik atas dasar ijtihad atau taqlid serta megamalkan akhlak yang mulia.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: