jump to navigation

Revolusi Iran dan Artikulasi Perlawanan Terhadap Imprealisme Mac 12, 2008

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Imam Cahyono  

Revolusi ibarat sebilah pedang mempunyai banyak mata. Ia sentiasa mengundang simpati, dan juga ironi. Di satu sisi, ia dirindukan banyak orang lantaran menjanjikan sebuah perubahan tatanan yang radikal.

 

Manakala, pada sisi lain, ia sangat ditakuti kerana harganya demikian mahal, dan selalu diikuti dengan aksi rusuhan dan terkorbannya banyak jiwa. Bahkan, revolusi seringkali juga memakan “anak-anak”-nya sendiri. Demikianlah revolusi Islam di Iran pada 11 Februari 1979, atau 26 tahun lalu.

Memang, revolusi Islam tersebut adalah sebuah gerakan rakyat (popular movement), iaitu gerakan yang melawan regim diktator Shah yang zalim dan menindas, yang pada akhirnya berubah menjadi sebuah pemerintahan diktator religius, di mana kekuasaan mutlak dipegang kelompok konservatif yakni di tangan para Mullah, (Suroosh Irfani, Iran’s Islamic Revolution: Popular Liberation or Religious Dictatorship?, 1983).

Malah, Alan Woods mengkritik lebih keras bahawa revolusi Iran yang dipimpin Ayatullah Khomeini telah membawa negeri itu mundur kembali pada abad ke-6 (Zayar, The Iranian Revolution: Past, Present, and Future, 2000).

“After every revolution, a group of opportunists stick themselves to the revolution. This causes the revolution to deviate from its path. However, this in itself is a factor in the evolution of the revolution and revolution becomes a continuous affair,” ujar Taleqani (B. Afrasiabi and S. Dehlan, Taleqani and History, 1980). Ayatullah Taleqani adalah salah seorang tokoh penting dalam revolusi Iran, yang namanya justeru lenyap ditelan oleh revolusi itu sendiri.

Kendati dicibir banyak orang, revolusi 1979 juga dikagumi kerana telah memberikan sumbangan berharga kepada sejarah dan peradaban. Pertama, revolusi Islam Iran menghadirkan agama sebagai tujahan teori pembebasan alternatif — seperti halnya teologi pembebasan di Amerika Latin.

Agama ternyata boleh menjadi idea besar gerakan perubahan, berbeza dengan gagasan kiri Marxist, world system theory and dependency theory. Sumbangan ini tentu tidak boleh lepas dari sumbangan intelektual revolusi Iran, Ali Shari’ati.

Tesis Shari’ati yang paling monumental adalah bahawa kesedaran kolektif yang menjadi asas gerakan revolusioner tidak selalu berangkat dari kesedaran kelas — seperti konsep Marx — tetapi juga dari kesedaran agama yang radikal (Ali Rahnema, An Islamic Utopian: a Political Biography of Ali Shari’ati, 2000). Ia berhasil menggabungkan teori dialektika dengan teologi pembebasan yang revolusioner.

Ketika itu, tidak ada orang yang percaya bahawa agama dapat mengambil inisiatif terjadinya revolusi. Tak pernah ada orang yang percaya pada kekuatan tradisi atau semangat agama dari rakyat di negara-negara berkembang yang boleh dijadikan sebagai sentimen teologi terhadap anti-imperialisme.

Tapi, Shari’ati berhasil menggunakan bahasa agama sebagai simbol perlawanan yang merupakan artikulasi kelas. Ia percaya bahawa kesedaran agama radikal yang dibentuk oleh proses sosial yang tempang merupakan evolusi sejarah itu sendiri.

Ia berhasil menemukan gagasan Shi’ah yang semula berwajah mesianik menjadi sangat revolusioner. Shari’ati berhasil melakukan sintesis antara sosialisme dan Syi’ah, untuk membangkitkan perlawanan terhadap rezim Pahlevi melalui slogan anti-imperialisme dan kapitalisme. Ia juga berhasil menemukan pandangan Shiah baru sebagai simbol revolusi yang mengekspresikan bangsa Iran yang merdeka, sekaligus mempunyai komitmen yang kuat dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Revolusi 1979 merupakan pakatan luas, melibatkan berbagai asas sosial yang melingkupi sentimen-sentimen kelas dan sub-budaya dalam masyarakat seperti gerakan mahasiswa, aktivis gerila bawah tanah, dan para mullah yang cemas dengan proses pembaratan.

Revolusi ini juga disebut sebagai perjuangan kaum bazari yang dipimpin para mullah dan merupakan artikulasi keresahan orang-orang miskin, kelas menengah yang secara politik ditindas dan kelompok-kelompok minoriti di kalangan elit yang menginginkan perubahan kerana mengalami dislokasi politik akibat tekanan regim penguasa.

Kedua, “kemenangan” melawan hegemoni Barat dan kapitalisme global. Revolusi Iran bukanlah semata revolusi di dalam negeri saja (revolution within nation), namun juga sebuah artikulasi melawan imperialisme Barat dan kapitalisme global (revolution challenge global capitalism).

Kejayaan revolusi 1979 merupakan fenomena spektakuler kerana berhasil meruntuhkan Dinasti Pahlevi yang didukung negara adidaya Amerika Serikat. Bukan hanya Shah Iran yang cemas melarikan diri ke luar negara, tetapi AS juga kehilangan muka alias dipermalukan.

Setiap tahunnya, berbagai nostalgia revolusi selalu diperingati, mulai dari Kuba, Mexico, Russia, Cina, Iran, dan negara-negara lainnya. Akankah revolusi terjadi lagi pada masa mendatang, khususnya di era globalisasi? Dengan agama atau ideologi lain sebagai penggeraknya?

Dalam buku The Future of Revolutions: Rethinking Radical Change in the Age of Globalization (2003), sejumlah pengamat revolusi seperti John Foran membahas panjang ehwal masa depan revolusi. Membincang soal revolusi pada masa mendatang adalah bergantung pada definisi yang digunakan.

Bagi kalangan konservatif, terutama penganut tesis berakhirnya sejarah (the end of history), revolution is over, revolusi sudah selesai dengan kemenangan kapitalisme. Tesis ini juga disemangati oleh Margaret Thatcher dengan jargon TINA (There is no alternative).

Era globalisasi juga telah menyempitkan peranan negara sehingga revolusi dalam arti perubahan radikal dalam sebuah negara dan struktur masyarakat dengan bayarannya yang sangat mahal tampaknya mustahil akan terjadi kembali.

Bagi kelompok kedua, revolusi belumlah selesai selama keadilan dan agihan sosial ekonomi masih tempang. Pada kenyataannya, era globalisasi justeru kian melebarkan jurang antara kaya dan miskin, antara negara maju dan negara berkembang. Neoliberalisme dan kapitalisme kian eksploitatif dan menindas.

Menurut penulis, revolusi tidak akan terjadi selama keadilan sosial benar-benar dapat diwujudkan. Sebaliknya, jika keadilan, agihan-semula ekonomi, sosial, dan politik seperti yang dijanjikan neoliberalisme dan kapitalisme hanya sebatas angan-angan, tentu akan mengundang perlawanan dari kelompok yang berjuang menuntut keadilan sosial.

Menurut Trotsky (1961), “a revolution takes place only when there is no other way out.” Revolusi akan terjadi tatkala ada keadaan objektif yang tak boleh diubah tanpa revolusi itu sendiri. Jika kesejahteraan dan kemakmuran yang dijanjikan kapitalisme dan neoliberalisme tak juga terwujudkan, revolusi akan terulang menjadi kenyataan yang tak terelakkan.

Jadi, revolutions will continue to be with us. Revolusi sememanya belum selesai!

Komen-komen»

1. Muhammad Azry bin Pateh Akhir - Julai 10, 2008

saya merasakan revolusi perlu ada di malaysia memandangkan prejudis terhadap kaum dan sosioekonomi sekarang menjadi tumpuan utama dalam sensitiviti masyarakat malaysia. Revolusi ialah satu gerakan yang perlu dimulakan dengan akal fikiran yang waras serta pelan induk yang komprehensif serta secara holistik, yakni dipimpin oleh sekumpulan intelektual yang tidak lari dari batas2 agama. perundangan di Malaysia terutama sistem mahkamah syariah perlu diberi perhatian untuk evolusi agar tidak mudah diperkotak-katikan. Wasalam.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: