jump to navigation

Islam dan Matematik Mac 17, 2008

Posted by ummahonline in Surat Pembaca.
trackback

Oleh: Faris Amudi

Matematik tidak hanya memiliki nilai kebenaran bukti tapi juga nilai keindahan yang agung. Saya kagum dengan ungkapan Bertrand Russel mengenai matematik, “Suatu keindahan, bagai ukiran, tanpa memohon belas kasih bantuan alam, tanpa keindahan muzik yang menjerat dan memikat, keindahannya murni dan agung, mampu menuju kesempurnaan, sungguh merupakan seni teragung yang pernah dimiliki oleh seni itu sendiri.”

Kemudian saya tertegun dengan ulasan St Augustine, pemikir Kristian terkemuka abad pertengahan, “Pemeluk Kristian yang baik dan taat harus menghindari ahli Matematik. Bahaya besar telah tiba kerana para ahli Matematik telah mengadakan akad dengan syaitan untuk menggelapkan jiwa manusia dan mengurungnya dalam ikatan neraka.”

Tak kalah garang, para hakim agung Rom membuat slogan hukum, “Dalam mempelajari geometri, ilmu yang tercela dan terkutuk seperti matematik adalah haram hukumnya.”

Dua belas abad kemudian, Ahmad Sirhindi menjuluki ahli matematik sebagai orang idiot dan para pemujanya lebih tolol dan hina kerana dia mengira bahawa matematik dan mempelajari matematik tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia kelak di akhirat nanti.

Kecaman keras terhadap matematik ini terjadi pada zaman medieval yang terkenal obscure, dogmatic, dan irrasional. George Sarton membahagi History of Science dalam beberapa zaman, setiap zaman berasosiasi pada seorang pemikir ternama, dan berakhir pada setiap setengah abad. Dari 450 BC sampai 400 BC adalah era Plato, dari 400 sampai 350 BC adalah era Aristotle, dan seterusnya.

750 M sampai 1100 M adalah merupakan zaman di mana dalam kurun 350 tahun secara keseluruhan peradaban dan ilmu dikuasai oleh dunia Islam, zaman yang tak terkalahkan secara berturut-turut muncul nama-nama dari Jabir, al-Khawarizmi, ar-Razi, al-Mas’udi, al-Wafa, al-Biruni. dan Umar Khayyam. Dan hanya setelah abad ke-11 M barulah muncul nama-nama seperti Gerard dan Roger Bacon. Tapi kehormatan atas ilmu masih disandang ulama-ulama Muslim dalam kurun dua abad berikutnya yaitu Ibn Rushd, Nashiruddin at-Thusi, dan Ibnu Nafis.

Namun setelah 1350 M umat Islam tenggelam dalam samudra dogmatik yang hanya memunculkan beberapa ilmuwan handal pada abad 15 M.

Sejarah mengungkapkan fakta bahawa kepintaran saintifik selalu diiringi dengan perkembangan matematik. Pada kenyataanya penemuan-penemuan matematik telah memuluskan jalan menuju kemajuan menakjubkan dalam sejarah ilmu dan teknologi. Tidak ada satu negara pun yang pernah mencapai kejayaannya tanpa penguasaan matematik. Ketika umat Islam mendominasi dunia sains, mereka sangat hebat dalam matematik.

Musa Al-Khawarizmi (780-850 M) merupakan salah satu dari scientific minds of Islam, yang mempunyai pengaruh dalam pemikiran Matematik lebih dari ilmuwan abad pertengahan manapun. Dia tidak hanya menyusun buku aritmetik, namun juga jadual-jadual astronomi. Magnum opus-nya Hisab al-Jabr wa-l-Muqabalah telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan digunakan selama empat abad sebagai buku panduan utama dalam mata kuliah aljabar di universitas-universitas terkemuka di seluruh Eropah.

Dengan mengenalkan jumlah yang tidak diketahui kemudian menemukannya, aljabar pemula bagi berbagai penemuan; the be-all dan end-all dari semua ilmu sains.

Penyair ternama dan juga ahli matematik yang handal, Omar Khayyam (1048-1122 M) dan Nashiruddin at-Thusi (1201-1274 M) menunjukkan bahawa setiap pembesaran rasio, yang sepadan mahupun tidak, adalah bilangan, rasional mahupun irrasional. Dan teori tersebut kemudian secara pelan dan lambat menuju kesempurnaannya disaat bermulanya zaman renaissans di Eropah.

Iqbal, pemikir kenamaan asal Pakistan memuji at-Thusi kerana telah melontarkan pertanyaan terhadap postulat Euclidean atas pararelisme. Omar Khayyam merupakan ilmuwan pertama yang membuktikan bilangan dari teori geometri bukan-Euclidean yang nantinya ditemukan oleh BolyaiLobachevsky, Riemann, dan Gauss secara terpisah selama pertengahan abad 19 M.

Omar Khayyam telah mendahului sejak 7 abad sebelum mereka, yang mana di kemudian hari, Einstein menggunakan geometri bukan-Euclidean untuk mengantarkannya pada “dunia baru” dalam bidang sains. Tidak ada petunjuk dan rumusan yang tidak dipecahkan oleh Umar Khayyam. Beliau juga mulai menggunakan grafik untuk mengkombinasi aljabar dan geometri untuk membuktikan persamaan kubik.

Pasti akan selalu diingat bahawasannya seorang geliga bernama Descartes yang kemudian memperagakan the tour de force dari kombinasi aljabar dan geometri, bersamaan dengan penemuan filsafat barunya dengan diktumnya yang terkenal, “cogito ergo sum”.

Belum ada lagi pemikir dunia Muslim yang mengikuti jejak Umar Khayyam dan menguatkan rasionalisme, kerana Imam Ghazali telah “terlanjur” menulis Tahafutul Falasifah. Memang, Ibnu Rushd kemudian juga menulis Tahafut at-Tahafut. Namun sayangnya dunia Muslim menolaknya, sebaliknya orang Eropah berebut mengambilnya. Orang Eropah menjadi averoist; pengikut setia Ibn Rushd.

Al-Biruni sukses dengan the idea of function, yang mana menurut Spangler, adalah simbol barat yang mana tidak ada peradaban lain yang bisa memberikannya walaupun hanya sekedar petunjuk dan gambaran. Idea fungsi yang dilontarkan al-Biruni mengenalkan konsep inter-dependence dan gerakan, melihat dunia sebagai sebuah kumpulan proses inter-dependence.

Konsep ini merupakan konsep dialektik. Namun lagi-lagi disayangkan bahawa umat Islam tidak boleh mengembangkan embrio yang pintar tersebut, dan akhirnya konsep tersebut beku selama berabad-abad kerana umat Islam terbuai dalam lantunan dogmatisme dan ketidakrasionalan. Embrio tersebut baru muncul dan lahir kembali tatkala tersentuh oleh peradaban barat, sungguh ironis. Ide yang dinamik tidak akan pernah maju dalam lingkungan masyarakat yang statis.

 

Akhirnya, pada abad ke 17 M, secara tragik namun desisif, keagungan sains berputar “melawan” dunia Muslim, sungguh sayang.

Geometri Descartes diterbitkan pada tahun 1637 M. Ahmad Sirhindi meninggal pada tahun 1624 M, namun dia sudah terlanjur mengutuk matematik dengan ungkapan yang tegas dan lugas. Dengan mengecam matematik, kita telah melangkah jauh keluar dari barisan ilmu sains dan teknologi.

Satu per lapan dari ayat-ayat Al-Qur’an menekankan tadabbur, tafakkur, dan ta’aqqul. Implikasinya adalah bahawasanya Al-Qur’an menjunjung tinggi keagungan akal. Tatkala kita menolak akal dengan mudah kita akan menjadi korban obscurantism dan dogmatisme. Paradigma kita masih lagi seperti Zaman Pertengahan Eropah. Islam telah menjalani transformasi dari revolusi aljabar menuju stagnasi aritmetik.

Tidak akan pernah berkembang matematik dan ilmu sains serta teknologi kecuali apabila dan hingga weltanshauung kita telah bersandar pada asas tafakkur, tadabbur, dan menjadikan ta’aqqul sebagai penjaga “pintu masuk” dunia Islam.

Islam bukanlah sistem yang tertutup sebagaimana pandangan kaum ortodoks. Kerana hal tersebut malah akan mencoreng citra Islam sebagai agama yang universal “rahmatan lil ‘alamin”. Islam adalah keimanan dimana Tuhan menyediakan manusia sesuatu yang baru, pada tiap paginya, “sarapan” yang bisa menjadi penyelesai masalah bagi berbagai permasalah-permasalahan baru yang muncul saat itu.

Sebagaimana yang telah tertera dalam Al-Qur’an, setiap masa memiliki kemuliaanya. Dan pada akhirnya, Islam telah menghubungkan dirinya kepada keagungan Tuhan dan di akhir yang lain kepada diversity of humankind (keberagaman manusia). Di sini, pluralisme adalah merupakan kekuatan dinamiknya.

Komen-komen»

1. Fuad Mardhatillah - Mac 26, 2008

Saya sepakat sekali, jika matematik menjadi alat paling berharga dalam pengembangan ilmu pengetahuan (IP) yang didasarkan pada nalar rasionalitas. Darisinilah, IP kemudian berguna bagi manusia pemiliknya untuk membantu dirinya menaklukkan alam untuk memperoleh kebaikan dan kenyamanan hidupnya di dunia. Dan selanjutnya memudahkan perjalanannya untuk menuju akhirat. Akhirat hanya bisa dicapai jika ia bisa memanfaatkan dunia dengan baik, benar, adil dan jujur, sebagai “jembatan” yang mengantarkannya kesana. sayangnya, di dunia Islam, banyak sekali orang-orang yang mengira, bahwa dengan memanfaatkan akal bagi memikir ciptaan Allah ini, akan tersesat di jalan yang salah dan menjauhkan dirinya dari syurga. Sehingga akhirnya, umat Islam malas berpikir, karena takut menggunakan akal dan selanjutnya menjadi tertinggal dan terjajah oleh bangsa-bangsa lain yang menguasai ilmu pengetahuan, ang sebagian daripadanya diturunkan menjadi tekonologi., yang membuat hidup menjadi semakin mudah.
Oleh karena itu, mari menggalakkan kehidupan berpikir umat Islam, untuk menggali segala ilmu dan himah yang terkandung dalam teks, ayat Quran maupun pada seluruh makhluk alam ciptaan Allah. Semoga umat Islam bisa keluar secepatnya dari kemenderitaannya, kejumudannya, kemiskinnannya, keterjajahannya dan kepicikannya. Agar realitas umat Islam bisa berangsur-angsur pulih, dan kemudian pada gilirannya bisa diangkat bagi Imam Peradaban oleh orang-orang non-Islam. Insyallah….

2. karim amarulah - April 18, 2008

Sebetulnya apa yang ada di Al-Qur’an semuanya mengandung Ilmu Pasti dan isi Al Qur’an hampir sebagian untuk didunia seperti sabda Nabi Ya Alloh Berikan Aku Kehidupan Yang Baik Di Dunia Setelah Itu Baru Akhirat Mengikuti.Apa Yang Diungkapkan Oleh Sahabat Fuad Juga Betul sekali Agar Umat Islam Sebagai Mana Mestinya harus Lebih diatas umat umat lain.Al Qur’an Sebagai Huddan Furqon WalBayyinat Harus segera terealisai agardunia ini semakin damai tertata beradab serta terhindardari pemanasan global yang dapat merusak lapisan sinar ultraviolet yg jaraknya kurang lebih 30 sampai 40 KM dari permukaan bumi.Sekali lagi apabila kita ingin menyelamatkan Dunia ini hendaknya Al Qur’an sebagai Undang Undang Untuk mengatur dalam skala kecil yaitu Negaradan skala besar Dunia Yang Rahmatan Lil ‘alamiin Insya Alloh


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: