jump to navigation

Refleksi Hijrah Sebagai Momentum Menuju Islam Kaffah di Aceh Mac 27, 2008

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Tahun hijrah yang ditetapkan Umar bin Khattab sebagai tahun Islam[1] menjadi perhatian muslim seantero dunia. Ia diperingati setiap masuknya satu Muharram sebagai tahun baru ummat Islam sedunia.

Di Aceh, beberapa tahun terakhir dan khususnya 1 Muharram 1429 H/10 Januari 2008 M diperingati sebagai tahun baru Islam secara meriah. Hampir seluruh sekolah TK, MIN/SD, SLTP dan lembaga-lembaga lain berkumpul di Blang Padang untuk berbaris keliling kota Banda Aceh.[2]

Hijrah yang dalam bahasa Arab juga disebut al-Hijrah secara bahasa bermakna berpindah, meninggalkan, berpaling dan tidak memperdulikan lagi. Dalam terminologi Islam al-Hijrah juga bermakna; kaum muslimin meninggalkan negeri asalnya yang berada di bawah kekuasaan pemerintah kafir, menjauhkan diri dari dosa dan permulaan tarikh Islam.[3] Hitungan tahun baru Islam ini dimulai ketika Rasulullah SAW berhijrah besar dari Makkah ke Yasrib (Madinah) pada tahun 622 M.

Sebelumnya sudah pernah terjadi dua kali hijrah ke Etiopia dalam waktu yang berbeda. Hijrah pertama ke Etiopia tahun 616 dipimpin Usman bin Affan yang anggotanya berjumlah 18 orang termasuk Ruqayyah isteri Usman dan putri Rasulullah SAW. Mereka berangkat kesana pada bulan Rajab, tetapi tiga bulan kemudian pada bulan Syawal kembali lagi ke Makkah kerana Umar bin Khattab tokoh utama Quraisy yang terkemuka dan terkenal jagoan sudah masuk Islam. Pelaksanaan mengucap syahadatain yang sebelumnya dilaksanakan secara diam-diam di rumah Arqam bin Abi Arqam di pinggir Bukit Shafa di Makkah, langsung dilakukan secara terbuka di lapangan Ka’bah semenjak Umar masuk Islam.[4] Hijrah kedua ke Etiopia terjadi pada tahun 618, empat tahun sebelum hijrah besar ke Yasrib.

Eksistensi Hijrah Nabi

Dan sesiapa yang berhijrah pada jalan Allah (untuk membela dan menegakkan Islam), niscaya ia akan dapati di muka bumi ini tempat berhijrah yang banyak dan rezeki yang makmur; dan sesiapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian ia mati (dalam perjalanan), maka sesungguhnya telah tetap pahala hijrahnya di sisi Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. An-Nisak; 100.

Ayat Al-Qur’an di atas mengandung banyak makna dan hikmah untuk setiap muslim dan muslimah yang ikhlas berhijrah di jalan Allah dan RasulNya. Pertama, ia mengandung makna perintah berhijrah, perintah hijrah tersebut dahulu dikhususkan kepada Muhammad sebagai Rasul Allah SWT., namun untuk kondisi hari ini hijrah juga berlaku kepada semua muslim dan muslimah dalam upaya menegakkan Islam atau mempertahankan iman dari ancaman musuh-musuh Islam.

Kedua, hijrah itu bertujuan untuk menegakkan dan membela Islam, ayat di atas menyuruh muslim dan muslimah untuk menegakkan Islam kepada orang-orang non muslim dan membela Islam dari ancaman kafir, musyrik, munafik, sekularis, nasionalis, liberalis dan seumpamanya. Ketiga, Ayat tersebut meyakinkan kita bahawa di dunia ini terdapat banyak tempat hijrah yang dapat kita tuju. Kerana itu seorang muslim tidak perlu ragu dan gusar kalau negara tempat tinggalnya sedang dikuasai oleh orang kafir, golongan sekuler, golongan nasionallis, golongan liberalis, golongan musyrik, munafik dan sebagainya. Dunia Allah sangat luas dan Allah Maha Kuasa untuk memberikan tempat kepada setiap hamba-Nya.

Keempat, Allah juga menjajnjikan akan memberikan rizki yang makmur kepada muslim-muslimah yang berhijrah dari tempat yang dhalim ke tempat yang adil dan muslihat yang berlaku hukum Allah di sana. Kerana itu tidak perlu ragu utuk takut tidak dapat kerja, tidak punya rizki ketika seorang muslim berhijrah dari satu ke lain tempat. Janji Allah buat mereka akan mendapatkan rizki yang makmur, untuk itu ikutilah ketentuan Allah tersebut.

Kelima, yang mati kerana niat keluar rumah untuk berhijrah pada jalan Allah dan RasulNya, tetap mendapat pahala hijrah di sisi Allah SWT. Kerananya tiada alasan bagi seorang muslim untuk tidak berhijrah pada jalan Allah dan jalan Rasul-Nya. Sebaliknya jangan sekali-kali berhijrah pada jalan selain jalan Allah dan Rasul-Nya. Keenam, kepada setiap orang yang berani berhijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya, maka Allah dengan tegas menyatakan bahawa Allah Maha Pengampun dan Maha Mengasihani. Ertinya Allah akan mengampunkan dosa-dosa muhajirin dan mengasihinya.

Ketika seseorang muslim yang berhijrah pada jalan Allah dan jalan Rasul-Nya, lalu ia meninggal dunia, maka ia akan dikurniai oleh Allah SWT. Firman-Nya:

Dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sudah tentu Allah akan mengurniakan kepada mereka limpah kurnia yang baik. Dan (ingatlah) sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi limpah kurnia. Al-Haj; 58.

Rasulullah SAW berhijrah, baik hijrah pertama dan kedua ke Etiopia maupun hijrah besar ke Yatsrib (Madinah) merupakan manifestasi pertahanan iman, pengembangan amalan dan ekspansi wilayah serta kekuasaan Islam. Oleh kerananya setiap muslim dianjurkan untuk mengikuti langkah Nabi tersebut sebagai eksistensi konkret refleksi tahun baru hijrah dalam kehidupan beragama. Hijrah dalam perspektif Islam berkonotasi positif untuk mempertahankan aqidah Islamiyah, untuk beramal shalih atau beralih dari amal jahat ke amal baik dan untuk mengembangkan Islam itu sendiri.

Hijrah Dari Hukum Thaghut Ke Hukum Allah

Sebuah hadis shahih riwayat Bukhari yang diangkat dalam kitab 40 hadis-hadis pilihan oleh Imam Nawawi menyatakan: Barangsiapa yang berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijrah untuk dunia (untuk memperoleh keuntungan duniawi) dan untuk menikahi wanita maka hijrah itu untuk apa yang diniatkannya.[6 Makna hadis tersebut menunjukkan kita ada dua hijrah dalam kehidupan manusia, yaitu hijrah untuk Allah dan hijrah untuk nafsu manusia sendiri.

Sebagai ummat Islam, kita diperintahkan Allah untuk menjalankan dan mengamalkan hukum Allah dalam kehidupan ini. Perintah tersebut melingkupi semua sisi kehidupan baik yang menyangkut dengan persoalan sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya. Tidak melaksanakannya atau gagal melakukannya bererti kita gagal mengabdikan diri dalam hidup ini kepada Allah, ketika kegagalan tersebut menimpa seseorang muslim maka boleh jadi ia telah menjalankan hukum thaghut.

Kehidupan muslim-muslimah di dunia raya ini sudah sangat beragam amalan syari’ahnya. Kebanyakan mereka sengaja menyisihkan Hukum Islam ciptaan Allah dan mengamalkan hukum lain buatan manusia. Keadaan seperti ini terjadi di hampir seluruh negara mayoritas muslim yang berstatus negara nasional, negara sekuler, negara demokrasi dan seumpamanya. Baik penguasa maupun rakyat negara tersebut secara langsung atau tidak langsung telah mengamalkan hukum thaghut buatan manusia dengan meninggalkan Hukum Islam ciptaan Allah SWT.

Kita faham bahawa Hukum Islam memiliki dimensi kehidupan ummah yang sangat lengkap dan sempurna. Huquq Allah (hak-hak Allah) dan Huquq al-‘Ibad (hak-hak hamba).[7] Huquq Allah melingkupi persoalan hablum minallah dan hablum minannas, Hablumminallah meliputi persoalan-persoalan salat, puasa, haji, dan sebaginya. Sementara Hablumminannas berkenaan dengan zakat, infaq sadaqah dan sebagainya. Huquq al-‘Ibad meliputi persoalan-persoalan; Munakahah iaitu bidang nikah, talaq, ruju’, fasakh, li’an, dhihar, hadhanah (pemeliharaan anak), persoalan warisan (mawaris) dan lain-lain; persoalan Mu’amalah menyangkut dengan jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, hutang piutang, gadai menggadai, mawah memawah, persoalan bank, asuransi, saham, jasa dan sebagainya; terakhir adalah persoalan sosial kemasyarakatan yang membidangi masalah-masalah Hukum Tata Negara, Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Internasional, Hukum Perang dan Damai, bentuk dan konsep negara, model pemerintahan dan seumpamanya.[8]

Selain itu Hukum Islam secara gamblang mempunyai Fiqh sebagai operasional Syari’ah yang membidangi seluruh seluk beluk kehidupan manusia. Ia terdiri dari fiqh ‘ibadah, fiqh munakahah, fiqh mu’amalah, fiqh jinayah, fiqh mewaris dan fiqh siyasah. Kesemua itu sudah sangat lenkap untuk konsumsi ummat manusia, kalau ada perkara-perkara baru dalam kehidupan ini yang belum terkafer dalam konsep tersebut maka Islam membolehkan ummatnya melalui alim ulama untuk berijmak, berijtihad dan qiyas.

Kerana itu kini sudah masanya bagi kita untuk berhijrah dari hukum thaghut yang ditinggalkan penjajah Belanda di Indonesia kepada Syari’ah (Hukum Islam) yang sudah lama di ciptakan Allah SWT bagi kita. Sudah lebih setengah abad lamanya kita hidup bersama hukum thaghut di negeri ini belum mampu memberikan kesejahteraan, kedamaian, keamanan dan ketenteraman kepada warga negara yang raya ini. Maka kenapa kita harus bertahan dengan hukum tersebut yang dilarang oleh Allah SWT. Kita mengakui bahawa Islam punya hukum sendiri tetapi kenapa kita bisa ditipu oleh non muslim atau kaum nasionalis, sekularis, liberalis dan sebagainya yang dengan sengaja menyisihkan Hukum Islam dalam kehidupan kita. Bukankah itu merupakan bahagian daripada menyisihkan keta’atan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa?

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) kini secara resmi dinyatakan berlaku Hukum Islam (Syari’ah). Syari’ah punya banyak bidang menyangkut kehidupan ummah sebagaimana tersebut di atas, marilah kita amalkan dan kita praktikkan dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Sempena tahun baru Hijrah 1429 ini semua kita wajib mempelajari syari’ah, mengamalkan syari’ah dan mensosialisasikan syari’ah di bumi Aceh yang mutuwah ini.

Ibdak binafsik (mulai dari diri sendiri) merupakan konsep paling mujarab untuk menjalankan Syari’ah di NAD. Marilah kita tinggalkan semua jenis hukum thaghut dan kembali ke Hukum Islam agar kita selamat di dunia dan selamat pula di akhirat nanti. Al-qur’an telah menceritakan banyak kasus tentang kaum yang tidak mengamalkan Syari’ah yang berakhir dengan kehancuran kerana diturunkan berbagai bala oleh Allah Yang Maha Kuasa. Marilah kita menjauhkan diri dari berbagai bala Allah yang mengancam kehidupan kita dengan menjalankan sepenuhnya Hukum Allah dan meninggalkan semuanya hukum thaghut dalam kehidupan ini.

Hijrah Masyarakat Aceh Menuju Islam Kaffah

Kalau kita mengertikan hijrah itu sebagai perpindahan, baik fisik maupun amalan dari tempat atau perbuatan jahat ke tempat dan perbuatan baik, maka khusus untuk masyarakat NAD harus berhijrah amalan dari yang jahat, sesat, salah ke amalan baik dan sempurna sesuai Syari’ah. Persoalan esensil bagi masyarakat Aceh hari ini adalah; wilayah yang diberi nama Nanggroe Aceh Darussalam ini secara resmi dan sah telah ditetapkan sebagai wilayah berlaku Syari’at Islam kaffah oleh pemerintah Indonesia. Ertinya, masyarakat Aceh kalau tidak mengamalkan Syrai’ah akan bersalah dengan Allah dan salah pula dengan Indonesia.

Kerana itu tiada alasan buat masyarakat Aceh untuk tidak mengamalkan Hukum Allah dalam kehidupan ini. Lebih jauh dari itu seraya menyambut tahun baru Hijrah 1429 masyarakat Aceh yang muslim dan muslimah harus berhijrah menuju Islam Kaffah di Aceh. Selama ini semua kita mengklaim sudah menjalankan dan mengamalkan Islam secara kaffah tetapi kita sendiri belum begitu faham dengan konsep Islam Kaffah tersebut. Lalu memudahkan kaum sekuler, kaum nasionalis dan kaum liberalis membolak balik amalan Islam kita.

Hijrah Masyarakat Aceh menuju Islam Kaffah bermakna seluruh ummat Islam di Aceh mulai tahun baru 1429 H ini harus shalat tepat waktu dengan berjama’ah, harus membayar zakat tepat waktu bagi yang hartanya sudah sampai nisab dan haul, harus mendaftarkan naik haji segera bagi yang sudah mampu, harus berpuasa penuh sebulan Ramadhan bagi yang tidak berhalangan, harus berkasih sayang sesama muslim,harus saling membantu sesama muslim, harus bersopan santun sesama muslim, harus menegakkan dan mengamalkan amal ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan.

Yang lebih penting lagi adalah kepada para pelaku politik harus mengamalkan praktik politik Rasulullah SAW. Baik kalangan eksekutif, yudikatif maupun legislatif harus beramal transparan sesuai dengan ketentuan undang-undang, jauh dari manipulasi, jauh dari korupsi, jauh dari penipuan baik terhadap rakyat ataupun terhadap pemerintah, dan jauh dari kekerasan serta paksaan seperti yang terjadi selama ini. Kalau tidak demikian maka masyarakat Aceh masih menentang kebenaran dan mengamalkan kejahatan yang dapat berefek kepada hancurnya tatanan hidup masyarakat dalam berbagai dimensi kehidupan.

Yang dikatakan berhijrah menuju Islam kaffah adalah semua masyarakat Aceh mengamalkan amalan Rasulullah SAW dalam kehidupan ini. Hal ini selaras dengan hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah yang mengandung dua dimensi; dimensi badani dan dimensi amali. Secara alami Baginda dan para sahabat berpindah tempat tinggal dari Makkah ke Madinah (hijrah badani), dan semua muhajirin yang disambut hangat oleh kaum anshar di Madinah dapat mengamalkan ajaran Islam secara kaffah kerana tidak ada gangguan lagi seperti di Makkah (hijrah amali).

Demikianlah yang harus dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menyambut tahun baru Hijrah 1429 ini. Kerana tidak ada halangan apa-apa untuk terus tinggal dan menetap di Aceh maka hijrah badani rasanya belum terdesak bagi masyarakat Aceh hari ini. Tetapi hijrah amali sudah sangat mendesak bagi penghuni Aceh yang penuh praktik kaum jahiliyah dalam kehidupan ini. Bagaimana caranya menghapuskan korupsi, bagaimana mendidik dan mengajarkan golongan tertentu yang suka memaksa masyarakat agar ikut mereka, memaksa pengusaha agar memberikan fee kepada mereka atau meminta paksa agar mereka dapat memasukkan material terhadap proyek yang sedang dikerjakan.

Disedari atau tidak perkara-perkara seperti itu sedang marak terjadi di Aceh hari ini dan tiada satu pihak pun yang coba menyelesaikannya mengikut peraturan dan perundang-undangan yang ada. Semua elemen masyarakat Aceh terdiam seribu kata, masyarakat terus menjadi jera sepertinya negeri ini tidak memenuhi syarat lagi untuk dikatakan sebuah negara. Marilah kita berpikir dengan otak di dalam kepala dan jangan berpikir dengan perut dan syahwat yang ada di bawahnya, cobalah kita renungkan kalau orang lain berbuat demikian terhadap kita bagaimana rasanya. Sekali-sekali cobalah kita ingat-ingat bagaimana nanti ketika kita berada dalam neraka sementara teman-teman kita menikmati indahnya syurga.

Hanya dengan hijrah amalilah kita dapat selamat dalam hidup dan kehidupan ini. Kekerasan hati, kebrutalan jiwa dan kejumudan otak tidak dapat menyelamatkan seseorang dari ancaman neraka. Hanya hijrah amali yang disertai dengan ketulusan hatilah yang bakal memberikan keselamatan kepada seseorang kita. Insya Allah.

Catatan Kaki:

1. Akram Diya al Umari, Madinan Society at the time of the Prophet, USA., IIIT, 1416/1995, hal. 55.

2. Lihat Harian Aceh Jum’at 11 Januari 2008, Lihat Juga Serambi Indonesia Jum’at 11 Januari 2008.

3. Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005, hal., 20.

4. Joesoef Sou’yb, Agama-agama besar di dunia, Jakarta: Al-Husna Zikra, hal., 410.

5. Ibid., hal., 412.

6. Lihat Imam Nawawi, Matan Arba’iyn an-Nawawiyah (Annawawi’s forty Hadith), Translated by Ezzeddin Ibrahim and Denys Johnson Davies,Riyadh: IIFSO, 1413 H/1992 M, hal., 27.

7. Muhamad Mumtaz Ali, The Concept of Islamic Ummah & Syariy’ah, Kuala Lumpur: Pelanduk Publications, 1992, hal., 65.

8. Ibid.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: