jump to navigation

Ismail Raji Al-Faruqi: Satu dan Tiada Lagi April 12, 2008

Posted by ummahonline in Tokoh.
trackback

Oleh: Tetamu

Nama besarnya telah membelah perhatian dunia intelektual sejagat. Konsep dan teorinya tentang penggabungan pengetahuan telah mengilhamkan berdirinya berbagai projek keilmuan sperti International Institute of Islamic Thougth (IIIT).

Berkat sumbangannya juga, agenda besar “Islamisasi ilmu” hingga kini tumbuh dan berkembang di berbagai negara, meskipun agenda tersebut harus menuai badai kritik dan kecaman. Projek Pan-Islamisme Jamaluddin Al Afghani pun dilanjutkannya, walau hasilnya tidak diperoleh sepenuhnya.

Itulah antara lain sosok Ismail Raji Al Faruqi. Sosok cerdik yang sangat dihormati dan disegani berbagai kalangan intelektual—Islam dan Barat—ini dilahirkan di daerah Jaffa, Palestin, pada 1 Januari 1921. Saat itu, negerianya memang tak separah sekarang, yang hari ini menjadi sasaran senjata canggih pemerintahan zionis. Malah, ketika Faruqi dilahirkan, Palestin masih begitu harmonis dalam pelukan kekuasaan Arab.

Al Faruqi melalui pendidikan dasarnya di College des Freres, Lubnan sejak 1926 hingga 1936. Pendidikan tinggi ia tempuh di The American University, di Beirut. Pendidikan sarjana muda pula diperoleh pada 1941. Setelah lulus sarjana muda, ia kembali ke tanah kelahirannya menjadi pegawai di pemerintahan Palestin, di bawah mandat Inggeris selama empat tahun, sebelum akhirnya diangkat menjadi gabernor Galilea yang terakhir. Namun pada 1947 wilayah yang dipimpinnya jatuh ke tangan Israel, hingga ia pun hijrah ke Amerika Syarikat.

Di Amerika Syarikat itu garis hidupnya berubah. Dia dengan tekun menggeluti dunia akademik. Di sini pula, ia memperoleh sarjananya di bidang filsafat dari Universiti Indiana, AS pada 1949, dan gelar sarjana keduanya dari Universiti Harvard, dengan judul tesis On Justifying The God: Metaphysic and Epistemology of Value. Sementara pendidikan kedoktorannya diraih dari Universiti Indiana. Tidak hanya itu, Al Faruqi juga menuntut ilmu agama di Universiti Al Azhar, Kaherah, Mesir selama empat tahun.

Usai saja pengajian Islamnya di Kaherah, Al Faruqi mulai terlibat di dunia kampus dengan mengajar di Universiti McGill, Montreal, Kanada pada 1959 selama dua tahun. Pada 1962 Al Faruqi pindah ke Karachi, Pakistan, kerana mahu terlibat Central Institute for Islamic Research.

Setahun kemudian, pada 1963, Al Faruqi kembali ke AS dan memberikan kuliah di Fakulti Agama Universiti Chicago, dan selanjutnya berpindah ke program pengajian Islam di Universiti Syracuse, New York. Pada tahun 1968, ia pindah ke Universiti Temple, Philadelphia, sebagai guru besar dan mendirikan Pusat Pengajian Islam di institusi tersebut.

Selain itu, ia juga menjadi professor tamu di berbagai negara, seperti di Universiti Mindanao City, Filipina, dan di Universiti Qom, Iran. Bahkan, ia merupakan perancang utama kurikulum The American Islamic College Chicago. Al Faruqi mengabdikan ilmunya di kampus hingga akhir hayatnya, pada 27 Mei 1986, di Philadelphia.

Pemikir yang ikut melakukan berbagai kajian Islam di berbagai Negara ini—Pakistan, India, Afrika Selatan, Malaysia, Mesir, Libya, dan Arab Saudi—ini sangat terkenal dengan konsep integrasi antara pengetahuan (umum) dan agama. Dalam keyakinan agamanya, ia tidak melihat bahwa Islam mengenal dikotomi ilmu. Kerana, katanya, ilmu dalam Islam asalnya dan bersumber pada nash-nash dasarnya, yakni Al-Qur’an dan Hadis.

“Bukan seperti sekarang, saat dunia Barat maju dalam bidang ilmu pengetahuan, namun kemajuan itu kering dari ruh keruhanian. Itu tak lain kerana adanya pemisahan dan dikotomi antara ilmu pengetahuan dan agama,” katanya.

Gagasan-gagasannya yang cerah dan teorinya untuk memperjuangkan projek integrasi ilmu, yang ia kemas dalam bingkai besar “Islamisasi ilmu”, itu dituangkan dalam banyak tulisan, baik di majalah, media lainnya, dan juga buku. Lebih dari 20 buku, dalam berbagai bahasa, telah ditulisnya, dan tak kurang dari seratus artikel telah disiarkan. Di antara karyanya yang terpenting adalah: A Historical Atlas of the Religion of The World, Trialogue of Abrahamic Faiths, The Cultural Atlas of Islam, Islam and Cultural.

Gagasan “Islamisasi ilmu” tak hanya ia perjuangkan dalam bentuk buku, namun juga dalam institusi pengajian Islam dengan mendirikan IIIT pada 1980, di Amerika Syarikat. Kini, lembaga bergengsi tersebut memiliki banyak cawangan di pelbagai negara, termasuk di Indonesia dan Malaysia. Namun pemikirannya juga menimbulkan pro-kontra di kalangan ilmuwan Muslim dan Barat.

Hal demikian tak membuatnya larut dalam kritikan. Tak cukup dengan IIIT saja, ia mendirikan pula The Association of Muslim Social Scientist pada 1972. Kedua lembaga antarabangsa yang didirikannya itu menerbitkan jurnal Amerika tentang ilmu-ilmu Sosial Islam.

Berbagai kegiatan ini ia lakukan semata didorong oleh pandangannya bahawa pengetahuan dewasa ini benar-benar telah sekular dan kerananya jauh dari tauhid. Maka, dirintislah teori agar kemajuan dan pengetahuan tidak berjalan melewati di luar jalur etika. Hal ini dilakukan melalui konsep Islamisasi ilmu dan paradigma tauhid dalam pendidikan dan pengetahuan.

Pemikirannya tentang Pan-Islamisme pun tak kalah penting. Seakan tak merasa rendah diri, pemikiran Pan-Islamismenya terus didengungkannya di tengah berkembangnya negara-negara nasional di dunia Islam dewasa ini. Al Faruqi tak sependapat dengan berkembangnya nasionalisme yang membuat umat Islam terpecah-pecah.

Baginya, sistem khilafah (kekhalifahan Islam) adalah bentuk negara Islam yang paling sempurna. “Khilafah adalah prasyarat mutlak bagi tegaknya paradigma Islam di muka bumi. Khilafah merupakan induk dari lembaga-lembaga lain dalam masyarakat. Tanpa itu, lembaga-lembaga lain akan kehilangan dasarnya,” tegasnya.

Dengan terbentuknya khilafah, jelasnya, keragaman tidak bererti akan lenyap. Dalam pandangannya, khilafah tetap bertanggung jawab melindungi keragaman. Bahkan, khilafah wajib melindungi pemeluk agama lain, seperti Kristian, Yahudi dan lain sebagainya. “Tak ada paksaan dalam Islam,” katanya. Menurutnya, negara-negara Islam yang ada saat ini akan menjadi wilayah-wilayah persekutuan dari sebuah khilafah yang bersifat universal yang harus senantiasa diperjuangkan.

Dalam bidang perbandingan agama, sumbangan pemikiran Al Faruqi tak kecil. Karyanya A Historical Atlas of Religion of the World, oleh banyak kalangan dipandang sebagai buku piawai dalam bidang tersebut. Dalam karya-karyanya itulah, ia selalu memaparkan pemikiran ilmiahnya untuk mencapai saling pengertian antara umat beragama, dan pemahaman intelektual terhadap agama-agama lain. Baginya, ilmu perbandingan agama berguna untuk membersihkan semua bentuk prasangka dan salah pengertian untuk membangun persahabatan antara sesama manusia.

Kerana itu pula, Al Faruqi berpendapat bahwa Islam tidak menentang Yahudi. Yang ditentang Islam adalah Zionisme. Antara keduanya (Yahudi dan Zionisme) terdapat perbezaan mendasar. Ketidakadilan dan kezaliman yang dilakukan Zionisme, menurutnya, begitu rumit, majmuk, dan amat genting, sehingga praktis tidak terdapat cara untuk menghentikannya tanpa suatu kekerasan perang. Dalam hal ini, negara zionis harus dihancurkan. Sebagai jalan keluarnya, orang-orang Yahudi diberi hak bermukim di mana saja mereka kehendaki, sebagai warga negara bebas. Mereka harus diterima dengan baik di negara Muslim.

Lantaran pemikirannya inilah, kalangan Yahudi tidak senang dengannya. Nasib tragis pun menimpa diri dan keluarganya, ketika meletus serangan teroris di Eropah Barat, yang lalu berlanjut pada kerusuhan di Amerika Syarikat pada 1986. Gerakan anti-Arab serta semua yang berbau Arab dan Islam begitu marak dipelopori beberapa kalangan tertentu yang lama memendam perasaan tak senang terhadap Islam dan warga Arab.

Dalam serangan oleh kelompok tak dikenal itulah, Al Faruqi dan isterinya, Dr Lois Lamya, serta keluarganya terkorban. Untuk mengenang jasa-jasa, usaha, dan karyanya, organisasi masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) mengabadikan dengan mendirikan The Ismail and Lamya Al Faruqi Memorial Fund, yang bermaksud melanjutkan cita-cita “Islamisasi ilmu.”

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: