jump to navigation

Usaha Pemekaran Wilayah ALA Dan ABAS Merupakan Usaha Jakarta Mengobok-Obok Aceh April 25, 2008

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Munculnya issue pemekaran wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam dua bulan terakhir ini menjadi tiga wilayah (wilayah NAD, ALA, dan ABAS) membuat para politikus Aceh terpecah belah. Wilayah Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS) telah dimunculkan kembali oleh DPR RI dalam rapat paripurna pada tanggal 22 Januari 2008.

Ide usang tersebut diwacanakan kembali oleh anggota DPR dalam sebuah rapat yang membicarakan Rancangan Undang-undang (RUU) pembentukan lapan wilayah dan 13 Kabupaten/Kota se-Indonesia.[1] Kerana mendapat protes keras dari Zainal Abidin Husin anggota DPR dari fraksi Bintang Reformasi asal Aceh maka pimpinan rapat Soetarjo Soerjogoeritno menyerahkan pembahasannya kepada komisi II DPR.[2]

Sebenarnya ide tersebut sudah sangat usang dan sudah ditelan masa ketika terjadinya perdamaian antara GAM dengan RI. Sebagai konsekwensi perdamaian tersebut lahirlah Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang mengklaim wilayah Aceh dari Sabang sampai Kutacane. Dengan bahasa lain wilayah Aceh ditetapkan kembali kepada ketetapan 1 Juli 1956 yaitu sebagaimana wilayah Aceh yang ada hari ini.[3] Ketika issue pemekaran dimunculkan kembali maka ide tersebut bertentangan dengan UUPA yang baru saja diwujudkan selama damai RI dengan GAM.

Ide ALA yang pernah muncul pada bulan September 2001[4] mengklaim Kabupaten Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Singkil sebagai calon anak payungannya.[5] Sementara ABAS yang pernah heboh bulan April 2003 melalui rapat khusus wakil-wakil Kabupaten Jum’at 3 September 2004 memilih dan menyepakati tujuh kabupaten meliputi Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Simeulue, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan dan Singkil sebagai stakeholdersnya.[6] Dalam konteks ini Singkil menjadi rebutan kerana ia ikut dipilih oleh kedua belah pihak.

Nilai Sejarah

Aceh yang dalam perjalanan sejarahnya memiliki keunikan tersendiri pernah menjadi pasang surut abrasi wilayah. Dari awal ia terpilah pilah dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil seperti Kerajaan Daya, Kerajaan Aceh, Kerajaan Pedir, Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Peureulak, Kerajaan Linge, Kerajaan Beunua dan lain-lain lalu disatukan menjadi Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughaiyatsyah.

Ketika kerajaan-kerajaan kecil itu wujud, semuanya menjadi kawasan penguasaan penjajah kaum Portugis dalam beberapa masa. Ketika penjajahan sudah sangat meresahkan bangsa Sultan Ali Mughaiyatsyah bersama segenap lapisan masyarakat tampil memerangi penjajah Portugis mulai dari kawasan barat dengan memerangi kerajaan Daya sampai menguasai Kerajaan Beunua di kawasan timur. Perlawanan tersebut dengan gemilang dimenangkan pihak Aceh dan penjajah Portugis lari dari wilayah-wilayah kerajaan kecil tersebut. Waktu itulah Ali Mughaiyatsyah mengisytiharkan Kerajaan Aceh Darussalam sebagai sebuah negara berdaulat yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah negara besar yang disegani oleh dunia luar.

Pada masa kerajaan dipimpin Sultan Iskandar Muda, wilayah Kerajaan Aceh Darussalam mendominasi lebih separuh Pulau Sumatera dan menjelajahi sebahagian besar semenanjung Malaysia. Pada waktu itu pula Aceh berada pada masa gemilang sehingga mampu menaklukkan dan membebaskan beberapa kerajaan kecil di semenanjung Malaysia seperti Malaka, Johor, Kedah dan sebagainya.

Semua itu terjadi ketika Aceh memiliki wilayah yang luas dan rakyatnya bersatu di bawah kekuasaan raja yang adil, gagah dan berani. Sementara ketika Aceh terpilah-pilah dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil, ia terus diobok-obok oleh penjajah Portugis. Dan ketika Aceh lepas dari Kerajaan Aceh Darussalam menjadi bahagian kecil dalam wilayah Republik Indonesia seperti hari ini, ia terus diobok-obok oleh Jakarta dan Aceh tidak berdaya membela diri. Sebelum Indonesia merdeka Aceh juga diobok-obok oleh penjajah Belanda kerana wilayahnya kecil, rakyatnya tidak bersatu dan kuasa tidak ada.

Kerana itu perlu pemikiran serius dari pihak-pihak yang sedang gencar ingin mewujudkan Kabupaten Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS) berkenaan dengan pemekaran tersebut. Bagi satu dua pejuang ALA/ABAS akan disebut sebagai pahlawan oleh sejumlah kecil masyarakat yang tidak memahami nilai sejarah. Namun untuk kekuatan bangsa Aceh, kekokohan Agama Islam dan keorisinilan peradaban Aceh mereka akan dicap sebagai penghancur tamaddun Aceh pada suatu ketika nanti.

Indonesia yang anti Syari’at Islam, anti kemakmuran Aceh dan anti kekompakan Aceh sangat mendambakan ada satu dua orang yang memperjuangkan wujudnya ALA/ABAS tersebut. Tetapi apa dan berapa banyaknya keuntungan semu yang bakal diperoleh dari pewujudan dua wilayah baru tersebut bila dikaitkan dengan kegemilangan Aceh masa lalu dengan wilayah yang luas dan kekompakan yang mantap. Persoalan inilah yang perlu dipertimbangkan matang-matang oleh pencetus ide dan pejuang ALA/ABAS sebelum semuanya terlambat dan sebelum semuanya hancur oleh ulah Jakarta.

Jakarta Menghancurkan Aceh

Dengan mengangkat kembali issue pemekaran Aceh lewat sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat di jakarta 22 Januari 2008 yang lalu berarti jakarta kembali mengungkit batang terendam untuk menghancurkan Aceh. Padahal issue tersebut sudah punah ketika terjadinya perdamaian antara dua pihak yang bertikai, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia (RI). Perdamaian yang diprakarsai mantan pimpinan Finlandia Martti Ahtisaari tersebut terjadi ketika kedua belah pihak menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki.

Pasca penandatanganan MoU tersebut issue pemekaran Aceh yang pernah muncul tahun 2001 dahulu sudah hilang dan bangsa Aceh dengan gembira menyambut perdamaian tersebut sebagai berakhirnya permusuhan pihak Aceh dengan Indonesia. Dalam rentang waktu lima sampai tujuh tahun kemudian bangsa Aceh disibukkan oleh kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah-wilayah terkena tsunami tanggal 26 Desember 2004. jadi issue pemekaran Aceh tidak terfikirkan waktu itu.

Namun apa yang harus dikecewakan adalah ketika upaya-upaya rehab-rekon dan upaya reintegrasi Aceh mulai selesai, Jakarta mengangkat kembali issue pemekaran ALA/ABAS dengan sangat bersahaja. Ini jelas-jelas bahawa Indonesia yang beribukota Jakarta bersahaja berusaha menghancurkan Aceh dengan upaya mengadukan etnis Aceh pesisir yang dominan di Aceh dengan etnis Gayo dan etnis-etnis minoritas lainnya. Kerana kawasan yang dicadangkan menjadi wilayah ALA atau ABAS didominasi etnis miniritas tersebut maka upaya penghancuran Aceh oleh Jakarta disambut meriah oleh penghuni kawasan tersebut.

Sebagai buktinya ketika Bakhtiar Chamsah mengunjungi Aceh Tengah bulan Februari 2008 yang lalu, bertaburan spanduk yang berbunyi mendukung lahirnya wilayah ALA/ABAS di kawasan dataran tinggi Gayo dan kawasan barat selatan. Sampai hari ini spanduk-spanduk tersebut sebahagiannya masih terpampang di kawasan-kawasan tertentu seperti di Tapaktuan Aceh Selatan dengan bunyinya Selamat Datang ke Wilayah ABAS (Aceh Barat Selatan).[7] Apa sesungguhnya yang jakarta mau untuk Aceh? Aceh hilang dalam peta dunia atau perang lagi seperti dahulu kala?

Kalau jakarta mau menghilangkan nama Aceh dalam peta dunia itu maknanya bermimpi di siang bolong kerana Aceh punya identitas yang jelas tidak seperti Indonesia. Kalau perang lagi yang diinginkan Indonesia, maka hanya bangsa Aceh sajalah yang menerima resiko pahit sebagaimana masa-masa yang lampau. Sementara penguasa jakarta yang hipokrit tetap meraup keuntungan dari hasil perang Aceh tersebut. Tidakkah para tokoh pejuang ALA/ABAS memikirkan prihal tersebut? Apakah mereka tidak mencoba-coba berfikir objektif bahawa belum ada suatu jaminan kesejahteraan mutlak bakal wujud dibalik pemekaran Aceh?

Menyimak keberadaan Republik Indonesia yang memasuki usia lebih setengah abad lamanya, ternyata rakyat di negara ini terus merana tanpa kesejahteraan yang memadai, maka kenapa harus Aceh yang dimekarkan? Tidakkah lebih baik Indonesia saja yang harus dimekakrkan? Agar kesejahteraan rakyat segera wujud? Tidakkah para pejuang ALA/ABAS memikirkan prihal demikian?

Kalau lebih setengah abad usia sesuatu negara belum lagi stabil sistem politiknya, belum lagi mampu mensejahterakan kehidupan rakyatnya, belum lagi mampu menjaga kehormatan negaranya, dan malah Islam sebagai agama Allah terus teraniaya, maka kenapa Aceh yang harus dihancurkan? Bukankah Indonesia lebih patut dan pantas dirobohkan? Kalau pemekaran tersebut dikaitkan dengan kesejahteraan dan kemajuan wilayah maka kenapa tidak Indonesia saja yang harus dimekarkan? Berfikirlah secara objektif dan logis, jangan biarkan diri ini dikuasai dan diobok-obok Jakarta lagi.

Secara objektif usia 63 tahun Indonesia wujud semestinya Negara yang serba Pancasila ini sudah matang dan mapan menyejahterakan rakyatnya sebagaimana negara-negara lain di belahan dunia ini. Namun sebaliknya yang terjadi, semakin tua usia negara ini semakin jahat prilaku penguasanya. Mereka terus menerus menghancurkan Aceh dengan berbagai cara dan upaya termasuk mengadu domba sesama bangsa Aceh seperti dalam masa Daerah Operasi Militer (DOM), masa Darurat Militer dan masa pemekaran wilayah ALA/ABAS.

Yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah tidakkah para boneka Indonesia tersebut sadar dan menyadari bahawa mereka dijadikan alat dan pion untuk menghancurkan Aceh? Dan tidakkah mereka bayangkan bahawa sejarah akan mencatat semua usaha mereka hari ini seperti yang tercatat terhadap Panglima Tibang dahulu kala? Kenapa tidak berfikir objektif untuk kesejahteraan anak cucu dengan berupaya memekarkan Indonesia yang telah gagal memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya? Dan kenapa selalu salah kaprah dengan upaya memekarkan Aceh yang belum tentu berdosa?

Pembelitan fakta seperti yang dikomentari Iwan Gayo yang disiarkan tabloid Kontras yang berbunyi: “Wali Nanggroe Hasan Tiro pernah berjanji kepada Husni Jalil, Gubernur GAM wilayah Linge saat itu, bahawa akan dibangunkan kantor Gubernur wilayah Linge di Takengon. Kalau Hasan Tiro tidak memenuhi janjinya dia akan tuntut Wali Nanggroe ke Mahkamah Internasional. Ini artinya pihak GAM sendiri sejak awal memang punya konsep bahawa Aceh ini akan dimekarkan kedalam 18 kegubernuran”.

Untuk pengetahuan Iwan Gayo, setahu penulis yang dimaksudkan Wali Nanggroe tersebut adalah kantor Gubernur Linge di Takengon dalam negara Aceh bukan dalam negara Indonesia. Kalau demikian Iwan Gayo harus berupaya keras memekarkan Indonesia bukan lagi berfikir untuk memekarkan Aceh. Kerana Indonesia telah gagal memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya terlebih khusus kepada bangsa Aceh.

Jadi kalau selama ini dianggap kue pembangunan tidak merata ke kawasan dataran tinggi Gayo dan barat-selatan Aceh, itu merupakan akibat kegagalan Indonesia menyejahterakan Aceh bukan kesalahan Aceh terhadap wilayah dan Bangsanya.

Catatan Kaki:

[1] Serambi Indnesia Rabu 28 Februari 2008.

[2] Kontras No. 422 Tahun 10, 31 Januari – 6 Februari 2008, hal. 3.

[3] Lihat Harian Aceh Senin 18 Februari 2008, hal 11.

[4] Serambi Indonesia 31.Desember.2001

[6] Serambi Indonesia 7 September 2004

[7] Harian Aceh Senin 18 Februari 2008, hal 1.

Komen-komen»

1. 4L_Mand - Mei 15, 2008

pemekaran meru[alan bumeran dari proses desentralisasi di Indonesia. sebeb dengan deentralisasi yang ada, maka prkatek-pratek tentang pemekaran semakin terbuka. dan ini banyak menimbulkan konflik.

2. k2n - Mei 20, 2008

erytsh

3. warga_atjeh - Mei 20, 2008

jakarta memang pintar megobok-obok aceh.. tapi kita warga aceh harus sadar diri “kenapa jakarta bisa mengobok-obok aceh?” Itu semua karena para pemimpin aceh BODOH, pemikirinya hanya sebatas perutnya, dan otaknya hanya bisa memikirkan isi perutnya. Coba kita pindahkan ibu kota ACEH ke salah satu kabupaten ALA atau ABAS mungkin aceh akan damai dan terus bertambah maju.

4. Aceh Lon Sayang - Jun 13, 2008

Why is the forum outside Nusantara? Is Malaysia interfering?

5. Banta - Jun 14, 2008

Jangan berpikiran picik, banyak daerah pemekaran menjadi lebih maju, semua tergantung kemampuan pemimpinnya! Sekarang era demokrasi setiap orang berhak untuk bersuara

6. Aceh Lon Sayang - Jun 20, 2008

FORUM ini sebaiknya dibuat oleh poetra aceh untuk poetra aceh bukan oleh malaysia. karena ini bersifat mengganggu aceh.

7. Aceh Lon Sayang - Jun 20, 2008

MALAYSIA JANGAN IKUT CAMPUR.

8. Cinta Indonesia - Julai 19, 2008

Orang Malay cuma berani ngomong di blog doang. Mereka nggak berani ngomong di muka umum kayak orang Indonesia. Maklumlah nggak ada kebebasan bersuara di M’sia. Cian deh lo bisanya cuman jelek2in Indonesia doang, nggak berapi ngejelekin pemerintahnya sendiri….

9. her khan - April 17, 2009

syehdara lon kalau mau aceh kembali ke kerajaan iskandar muda……
jangan lupa simbul kita…

adat bak poe teupereuhom,
hukom bak syiah kuala,
qanun bak putroe phang,
reusam bak laksamana…

10. her khan - April 17, 2009

sekarang jangan tanya apa yang aceh dapat berikan untuk kita,tp coba tanya kan pada benak hati kita,apa yang dapat kita berikan buat aceh tercinta………..
coba pikirkan apa prospek kedepan untuk dapat membangun aceh…
jangan mudah dipermainkan seperti boneka…

11. ank_atjeh - Ogos 23, 2010

saya rasa dengan ada pemekaran, rakyat semakin tersentuh oleh kemakmuran, kesejahteraan, dan tidak berarti kita terpecah tapi tetap aceh…


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: