jump to navigation

Terpikat Rumi 8 Abad… Mei 5, 2008

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Binhad Nurrohmat

Dan bila Dia menutup semua jalan dan celah di hadapanmu,
Dia akan menunjuk satu setapak rahsia yang tak seorang pun tahu! — (Jalaluddin Rumi, Diwan-Syamsi-Tabriz, 765)

Jurubicara terpenting dan tersohor dari Barat mengenai mistikus-penyair Jalaluddin Rumi, Annemarie Schimmel, pernah menulis: “Tidakkah aneh, mistikus abad ke-13 dari Balkh, yang bekerja di Anatolia dan terpukau kekuatan cinta mistik yang nyaris tak mungkin dibayangkan, boleh relevan dengan manusia moden abad ke-20?” Bagi Schimmel, Rumi telah mencurahkan banyak petunjuk untuk kehidupan kita melalui pancaran falsafah puisinya.

Tulisan Rumi dihimpun dalam sejumlah bunga rampai, di antaranya himpunan puisi Diwan-Syamsyi-Tabriz, Matsnawi-ya-Ma’nawi, dan Rubaiyat. Sedangkan bunga rampai percakapan, surat, dan khutbahnya dihimpun dalam Fihi Ma Fihi, Makatib, dan Majalis-i-Sab’ah.

Gaya puisi bahasa Arab Rumi mengagumkan kerana begitu indahnya mengubah ideal dan citraan puisi Parsi ke dalam bahasa Arab yang berselang-seli antara larik bahasa Arab dan Turki (bilingual) dengan beragam pola mahu pun gabungan bahasa Arab, Turki, dan Parsi (trilingual).

Puisi Rumi menampakkan teknik penulisan kelas tinggi, antara lain, berupa teknik penanjakan ritma yang merupakan gambaran kekhusyukan atau kemabukan dalam proses penciptaannya:

Dar jam-i may awikhitam

andisya ra khun rikhtam

ba yar ikhud amikhtam

zira darun-i parda’am

(Aku bergelayut di cawan anggur

dan dukaku dalam darahnya karam.

Aku berpadu dengan kekasih

di balik tirai).

dawran kunun dawiran-iman

gardun kunun hayran-iman

dar la-makan sayran-i man

farman zi qan awurda’am

(Kitaran tubuh kini kitaranku

langit berkilau menembusku

Perjalananku kini sampai Negeri Antah Berantah

sebuah perintah Tuhan kubawa sudah).

Keterampilan retorik ini amat canggih dan murni, namun spontan dan alamiah. Gaya bahasanya memainkan ritma akustik makna dengan memanfaatkan simbol huruf dan bunyi (konkretisasi fonetik) yang menjelmakan nada mistik.

Puisi Rumi kerap memanfaatkan paradoks: “Orang hendaknya diam lantaran tanda Cinta hadir berkebalikan”, “Orang dipukul kepalanya oleh Cinta”, “daya fikir digantung seperti pencuri”, mahupun “tak hanya haus yang mencari air, air pun mencari dahaga”.

Ungkapan-ungkapan non-logik ini serupa ulta bhansi dalam khazanah mistik India untuk mengungkap ehwal pengalaman mistik yang “terbalik” lantaran melampaui pagar atau batas nalar. Rumi menggubah banyak ungkapan yang nyaris tak boleh diterjemahkan lantaran ekstase meta-logik yang mungkin digubah untuk menggoncang atau menyihir sikap dan pandangan “normal” atau awam tentang kenyataan kasar mata. Bagi Rumi, akal itu belenggu, dan kekuatan yang menghidupkan segala wujud adalah Cinta, suatu perasaan kepayang yang tak masuk akal.

Dalam puisinya, Cinta kerap terdedah dalam kemabukan, kegilaan, dan ketidaksedaran. Kemabukan dan anggur menjadi simbolisme sufi tentang jiwa terkekang yang melepaskan belenggu akal atau fikiran rasional. Kegilaan memungkinkan kekuatan puitis memain-(mainkan) kebijaksanaan yang mengekang kebebasan unta mabuk (syotor-e mast) atau unta berahi mencegahnya berkeliaran di gurun pasir.

Paradoks puisi Rumi merupakan cerminan ajaran sufi tentang Kesatuan Wujud yang berwawasan yang lantas menyiratkan “penglihatan hati” kaum sufi, “sang pemilik hati”. Kaum sufi menjauhkan diri dari ego dan keperibadian yang fana dan merenung melalui “penglihatan ilahi”. Kesatuan Wujud berwawasan ini berbeza dengan Kesatuan Wujud teoritis yang muncul dari lubuk nalar rasional yang menghampakan keruhanian. Bagi kaum sufi, realiti tak dapat diketahui melalui jalan akal. Puisi Rumi menjadi menarik, antara lain, lantaran menampakkan cantuman yang memikat antara nalar dan kepayang, tarik-ulur akal dan khayalan.

Rumi juga mencemuh penyair dengan menyindir dirinya sendiri yang terlibat dalam suatu tradisi puisi yang ditampiknya: “Apalah erti puisi untukku sehingga aku harus mendustainya. Aku punya seni lain yang berbeza dari yang dimiliki penyair. Puisi itu awan gelap, aku di belakang selubung serupa rembulan. Jangan sebut aku awan hitam atau bulan yang bercahaya di angkasa.”

Puisi Rumi merupakan penerus perjalanan panjang tradisi puisi Parsi. Puisi Parsi terolah dan berkembang di kerajaan dan lingkungan pemerintahan sejak abad ke-9 di Iran bahagian timur dan menyebar ke wilayah lain yang berbahasa Parsi. Mulanya, tradisi kepenyairan muncul sebagai pertunjukan yang menghadirkan lirik karangan sendiri yang diiringi muzik dalam perjamuan rasmi kerajaan. Tradisi ini berakar dari masa Iran pra-Islam yang agaknya terpengaruh oleh qasidah Arab.

Prinsip estetik dan norma cita rasa penyair kerajaan berbahasa Parsi pun ditetapkan dengan memakai model Arab: puisi merupakan wicara berirama dan bersyair untuk menggugah takjub penonton dengan menerapkan prinsip estetika dan norma cita rasa itu.

Tapi, penyair Sana’i dari istana Ghazna melakukan perubahan yang mengubah arah puisi Parsi menuju pandangan mistik. Sana’i-lah yang merintis jalan dan menggelorakan kedalaman samudera batin yang diharungi Rumi penuh keberanian artistik dan teologi.

Tak seperti Hafizh yang masih menempatkan sejumlah realiti di bawah piawai estetis, Rumi menyentuh secara sepadan semua urusan yang dianggap atau dipercayanya sebagai perkara yang agung hingga yang remeh-temeh. Rumi begitu asyik dan santai membicarakan soal Tuhan, berahi, bulan, takdir, bawang, makanan, kuda, serangga, hingga kencing. Rumi memandang aspek simbolis setiap benda atau makhluk yang dianggap bernilai rendah atau tinggi, yang dianggap bijak, sebab untuk meraih keutuhan memerlukan kebalikannya. “Cacat adalah cermin dari kesempurnaan, sesuatu dibuktikan melalui kebalikannya,” kata Rumi.

Rumi percaya metafora merupakan jambatan menuju hakikat kenyataan dan ke mana pun dia menemukan beragam wujud atau laku Tuhan yang menuju kesatuan Abadi dan kebenaran tertinggi, seperti credo yang akrab dinyanyikan oleh kaum sufi:

Wa fi kulli syai’in lahu syahidun yadulla ‘ala annahu wahidun

(Dalam segala sesuatu bersemayam tanda, jejak bukti, yang menegaskan Dia melulu Satu).

Menurut para ahli tentang Rumi, puisi Rumi serupa pohon dengan cabang, daun, bunga, dan buah yang tumbuh dari satu akar yang dalam menghunjam dan membentuk kesatuan utuh yang tak terbahagi. Sumber dan struktur pemikiran mistiknya dan hakikat serta proses kreatif puisinya terkait dan tak terceraikan, di dalamnya bersemayam Kebenaran yang merupakan inti yang dicari manusia sepanjang masa.

Pada tingkatan teologi, Rumi suka menggunakan istilah kibriya‘ (Kebesaran Ilahi) dalam puisinya, cahaya Tuhan yang bersinar serupa matahari. Muhammad Iqbal kerap menyebut istilah ini saat membincang Rumi. Pada tingkatan praktis, Rumi suka memakai kata bu (bau wangi) yang membangkitkan ingatan masa silam dalam puisi Rumi yang berwarna-warni:

“Bulan purba wajahnya, syair dan gazal bau wanginya—bau wangi bahagian jelmaan yang tak terikat dengan pandang sejatinya.”

Dalam tradisi Islam, kata bu mengandung konotasi kisah Yusuf (dalam Al-Quran) yang terpisah dari ayahnya yang buta, Yaakub, dan sembuh oleh bau wangi pakaian Yusuf. Kibriya’ dan bu merupakan sebahagian “kata kunci” puisi Rumi.

Tak ada puisi dari dunia Islam yang dikenal baik di Barat melebihi puisi Rumi. Bahkan, menurut Sayyid Hossein Nasr, Islam tak akan pernah menyebar seluas sekarang ini tanpa meruahnya kehadiran para manusia bijak dan pujangga Parsi. Rumi begitu mahir menyisipkan ayat Al-Quran, kutipan hadith, mahupun ujaran sufi ke dalam puisinya.

Pada abad ke-15 akhir ada yang menyebut Matsnawi merupakan Al-Quran dalam bahasa Parsi. Sejumlah mistikus di sejumlah wilayah yang jauh dari pusat pembelajaran dan arus utama kehidupan sastera dikabarkan menyerahkan seluruh perpustakaannya, kecuali Al-Quran, Diwan Hafiz, dan Matsnawi Rumi.

Puisi Rumi merupakan gabungan kuat bentuk dan makna melalui keterampilan bahasa yang tampil alamiah serta menawarkan kedalaman makna yang memukau dan indah. Puisi Rumi dibangun oleh kesedaran artistik yang bagus sekaligus kedalaman pencarian realitas Ilahiah yang tak terbatas dan tak terlukiskan. Bagi Rumi, “kata-kata itu santapan malaikat”, “bahasa itu kapal”, dan “makna adalah lautan”.

Semua inilah kiranya yang boleh melantari puisi Rumi yang digubah lapan abad yang berlalu tapo masih memikat dan relevan hingga kini, dan barangkali masih terus bergema sekian abad kelak guna memenuhi angan Diwan Rumi:

“Gubahlah ghazal yang bakal tetap dilagukan manusia dalam seratus abad!”

Komen-komen»

1. kang4roo - Mei 5, 2008


++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

KALAU NAK BUAT BLOG, JANGAN LUPA MASUK LAMAN WEB “Leoxa.com”
(Themenya Terlampau Cantik Sangat & Boleh Pula Letak Adsense)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

2. La_abwa - Mei 6, 2008

Kepada hambaAllah yg asyik mengiklankan Leoxa.com, harap sdr dapat menjaga adat berada di’rumah’ orang. Janganlah gunakan ruangan komentar rencana untuk iklan anda . Gunakan ruang di sudut ‘tentang OUL’ sekali shj untuk iklan anda itu.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: