jump to navigation

Tersesat di Jalan Benar Mei 9, 2008

Posted by ummahonline in Surat Pembaca.
trackback

Oleh: Sofwan

Banyak orang bilang, pemikiran-pemikiran Rumi makin relevan untuk zaman kini. Padahal, ia hidup delapan abad silam. Banyak orang bilang, mengaku terpana oleh kedahsyatan pemikiran dan syair Rumi. Maknanya begitu dalam dan semuanya merupakan intisari al-Qur’an.

Banyak orang bilang, apa yang ditulis Rumi sepanjang hayatnya adalah kebenaran. Meski tercetus beratus tahun silam, kebenaran hakiki tetap menjadi sebuah kebenaran hingga masa kini sekalipun. Sebagai orang yang hidup di abad ke-13, pemikiran Rumi teramat maju. Bahkan, hasil perenungan Rumi dianggap telah jauh melampaui zamannya.

Banyak orang bilang, Rumi adalah filosof muslim yang menebarkan kebenaran dengan cara yang indah. ”Rumi…Oh…Rumi…Delapan ratus tahun sudah engkau kembali, menghadap Sang Pencipta. Namun, hingga kini, kata-katamu masih boleh memukau dan membuat orang tersedar untuk terus berada di jalan yang benar.”

Kehidupan sufi belum tampak diminati Rumi hingga usia 35 tahun. Saat itu, ia juga tidak terlihat tertarik menjadi penyair. Kepenyairan Rumi bermula ketika berumur 37 tahun. Pertemuan, pertemanan, dan pengembaraannya bersama Syamsi Tabriz—seorang darwish alias sufi pengembara dari Tabriz, Iran, yang hadir di Konya, Turki, pada 1244 membuat hidup Rumi makin berwarna.

Perpisahan dengan Syamsi Tabrizlah yang memicu Rumi untuk menulis syair. Rasa kangen pada guru spiritualnya membuat Rumi yang lahir di Balkh, Afghanistan perlahan makin merindukan Tuhan. Sepeninggalnya, Rumi pun mewariskan karya-karya fenomenal yang menggugah hati.

Seiring waktu, Diwan-i Shams Tabriz dan Mathnawi-i Ma’nawi, kemudian mendunia, dan tidak hanya jadi kebanggaan Persia. Konon, sepanjang hidupnya, Rumi melahirkan 34662 bait syair dalam bentuk ghazal alias sajak-sajak cinta mistikal, ruba’i atau sajak empat baris dengan rima teratur, dan matsnawi yang menyerupai prosa. Lantas, masih ada lagi wacana keilmuan (rasa’il) dan khutbah (khitabah).

Uniknya, dari 27 ribu matsnawi Rumi, cuma 18 yang ditulis tangannya sendiri. Hanya bagian pembuka saja yang merupakan goresan pena Rumi. Sisanya dicatat oleh murid-muridnya. Catatan itulah yang kini tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Karya Rumi tersebut telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan mempengaruhi mereka yang membacanya.

Gagasan Rumi termasuk yang mendapat tempat di hati orang yang tidak seagama dengannya, sekalipun. Itu kerana Rumi memandang semua agama adalah sama, mengajarkan cinta kepada alam keruhanian. Pemikirannya itu antara lain tercetus dalam sajak Ratapan Seruling Bambu, kisah kerinduan manusia terhadap Tuhannya.

Seorang penyair terkenal di negera kita ini mengaku merasa ‘tersesat di jalan yang benar’ saat membaca karya-karya Rumi. ”Ya, lebih bagus daripada merasa benar di jalan yang sesat,” kelakarnya.

Mustafa Bisri yang ahli fiqih menganggap penting upaya untuk mengembangkan pemikiran Rumi. Terlebih, Rumi menggunakan penanya untuk menghancurkan pedang dan tombak—membawa pesan perdamaian. ”Kemarilah, mari kita berbicara tentang Tuhan,” ajak Mustafa menirukan Rumi.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: