jump to navigation

Derrida, Dekonstruksi, dan Ironi Kebenaran Mei 21, 2008

Posted by ummahonline in Telaah Buku.
trackback

Oleh: Musthov

Judul: Derrida
Pengarang: Muhammad Al-Fayyadl
Penerbit: LKiS
Cetakan: Pertama, Ogos 2005
Tebal: 244 halaman

Pada 9 Oktober 2004, seorang filsuf terkemuka dari Prancis meninggalkan kita semua. Namanya telah begitu tersohor: Jacques Derrida. Salah satu konsep kunci yang diperkenalkannya ke dalam khazanah filsafat, “dekonstruksi”, telah begitu sering dikutip oleh banyak kalangan, terutama untuk menggambarkan semangat perlawanan dan sikap anti-kemapanan.

Di samping itu, dekonstruksi juga diyakini sebagai semacam jalan pintas pembebasan yang cukup ampuh untuk menghadapi serangan kebenaran yang dibangun atas dasar arrogance.

Buku ini hadir ke khalayak Indonesia untuk mengundang para pembacanya berbahagi kegelisahan dan keprihatinan seperti yang telah digeluti Derrida selama ini, sebagaimana tergambar dalam filsafat dan pemikirannya. Dalam karya ini Derrida hadir sebagai sebuah nama yang membentangkan salah satu gugus pemikiran alternatif, di tengah situasi dunia yang cenderung tak bertolak ansur terhadap yang lain, the Other, dan mengarahkan semuanya ke pusaran teleologi modenisme yang tunggal dan seragam.

Di antara kesimpulan pemikiran Derrida yang mewartakan pembebasan, sikap rendah hati, dan penghargaan atas yang lain itu, terdapat butir-butir pemikiran kefalsafahan yang sebenarnya sangatlah canggih, tajam hujahnya, cermat menganalisis, dan kadang cukup rumit.

Meski demikian, yang menarik dari karya ini adalah bahwa ia dapat disampaikan dengan cukup bernas dan mengalir tentang bagaimana Derrida menyampaikan dan membangunkan hujah menyangkut sejumlah persoalan kefalsafahan yang didiskusikannya itu.

Empat bab dalam buku ini secara berkesinambungan memberikan gambaran yang jernih dan utuh tentang dasar-dasar kritik dan keberatan Derrida atas strukturalisme yang kemudian membawakan Derrida pada bangunan filsafat yang dikembangkannya, yang banyak bertumpu pada strategi dekonstruksi, serta tentang bagaimana dekonstruksi itu sendiri membawa pada sejumlah dampak di berbagai wilayah kehidupan.

Garis besar kritik Derrida atas tradisi filsafat Barat berpusat pada serangannya terhadap metafizik kehadiran (logosentrisme) yang begitu dominan. Namun demikian, uraian dalam buku ini tidak secara eksplisit masuk dari istilah metafizik kehadiran itu, melainkan dimulai dari kritik dan ketidakpuasan Derrida atas strukturalisme, pemikiran yang diilhami oleh Ferdinand de Saussure dan di tahun 1960-an berkembang serta begitu popular di Eropah.

Bagi Derrida strukturalisme memang telah membukakan gerbang bagi penjelajahan intelektual yang dilakukannya; strukturalisme adalah pemikiran yang menyingkirkan subjek sebagai pusat wacana dengan menekankan pada aspek struktural bahasa yang lebih bersifat objektif.

Sayangnya, menurut Derrida, Saussure dengan strukturalismenya itu tak sepenuhnya berhasil mengelak dari logosentrisme; strukturalisme masih merindukan pusat dan selalu ingin bernostalgia dengan asal usul (origins, arché). Ini terlihat jelas dalam kecenderungan fonosentrisme strukturalisme, yang begitu memuja suara (phōnē), yang menjadi cerminan dari “kehadiran-diri” (selfpresence) si penutur.

Melanjutkan strukturalisme yang mengarahkan fokus kupasan ke bahasa, Derrida meradikalkan makna teks, tulisan, dan metafora. Dalam hal ini Derrida menggunakan strategi dekonstruksi untuk melawan kecenderungan fondasionalisme dan pengacuan pada subjek atau asal usul tertentu, dan kemudian menggantikannya dengan keintertekstualan.

Dengan dekonstruksi, yang dalam buku ini dijelaskan melalui komentar-komentar kritis Derrida atas filsuf-filsuf terkemuka semisal Nietzsche, Freud, Heidegger, dan Levinas, ditunjukkan bahwa makna sebuah teks selalu tertunda, berada dalam suatu usaha penataan dan chaos tiada henti, dan karena itu tak dapat mencapai titik makna yang utuh dan sempurna.

Secara positif, dekonstruksi menumbangkan hierarki konseptual yang menstruktur dalam teks dan menghidupkan kekuatan-kekuatan tersembunyi (tekstualitas laten) yang sebelumnya terbungkam.

Dengan demikian, dekonstruksi mengantar kita semua ke dalam suatu penjelajahan makna yang tak terbatas dan tak mencapai titik utama. Bukan suatu nihilisme, tetapi semacam parodi, atau ironi, tentang kebenaran, di tengah hasrat berlebih manusia untuk mencapai kepenuhan makna.

Di tengah masih cukup langkanya karya tulis yang mengupas segi-segi pemikiran konseptual yang dituturkan dengan jernih, tajam, dan kontekstual di Indonesia, tak hairan jika Goenawan Mohamad memuji karya ini sebagai “sumbangan yang amat berharga dalam khazanah penulisan filsafat dalam bahasa kita”.

Fayyadl, penulis buku ini, dengan sangat fasih dan penuh empatik membawa kita ke titik-titik penting pemikiran Derrida, untuk bersama-sama terus menyadari betapa wajah kebenaran itu relatif, dan karena itu kita harus selalu rendah hati dalam mengungkapkan setiap nilai kebenaran yang kita temukan.

Komen-komen»

1. Edi Purwanto - Julai 11, 2008

wow keren juga ya??
Fayadl bagus bukunya, tapi saya rasa ini belum membongkar tradisi othering yang sudah mengakar di kepala kita…

salam,

Edi Purwanto


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: