jump to navigation

Luhurnya Abu Dharr Mei 21, 2008

Posted by ummahonline in Cerpen, Seni.
trackback

Oleh: Ummu Akbar

Lembah Waddan yang menghubungkan kota Makkah dengan dunia luar dihuni oleh kabilah Ghifar. Kehidupan kabilah ini bergantung pada semacam pungutan yang dikenakan terhadap kafilah-kafilah dagang Quraisy yang hilir mudik dari dan ke Syam. Kadangkala, bila kafilah dagang yang lewat itu tak mahu memberi, kabilah Ghifar merompak mereka.

Tersebutlah Jundub bin Jundah yang lebih terkenal dengan sebutan Abu Dharr. Dia adalah seorang putera Ghifar yang terkemuka kerana keberanian, kecerdasan, dan wawasan berifikirnya yang luas.

Dada Abu Dharr terasa sesak menyaksikan kaumnya menyembah patung-patung mati. Dia mengecam akidah bangsa Arab yang rosak ini dan selalu berharap-harap akan datangnya seorang nabi baru mampu mengisi akal dan hati mereka dengan cahaya kebenaran dan mengeluarkan mereka dari kegelapan.

Akhirnya sampai juga ke telinga Abu Dharr berita bahawa seorang nabi baru telah muncul di kota Makkah. Dia segera berkata kepada saudaranya, Anis: “Saudaraku, pergilah ke kota Makkah untuk mencari berita tentang orang yang mengaku sebagai nabi yang menerima wahyu dari langit itu. Dengarlah apa yang diserukannya lalu ceritakan padaku.”

Anis segera berangkat ke Makkah. Di sana dia dibenarkan bertemu dengan Rasulullah dan mendengar seruannya. Setelah itu dia segera pulang, dan dinanti oleh Abu Dharr dengan berdebar-debar.

Kata Anis: “Demi Allah, aku melihat seseorang mengajak pada keluhuran budi dan akhlak. Kata-kata yang diucapkannya bukanlah syair.”

Kata Abu Dharr: “Demi Allah, engkau tidak memuaskan aku dan tidak menyampaikan apa yang kuperlukan. Begini saja, mahukah engkau menjaga keluargaku untuk sementara waktu? Aku ingin menjumpai dan bercakap-cakap dengan nabi itu.

“Baik. Tapi berhati-hatilah, jaga dirimu dari penduduk kota Makkah,” pesan Anis.

Abu Dharr segera menyiapkan perbekalan. Dengan membawa qirbah (tempat air terbuat dari kulit binatang) kecil dia berangkat ke Makkah keesokan harinya. Hatinya sudah bulat. Dia harus bertemu dengan nabi dan menanyakan tentang apa yang diserukannya.

Singkat cerita, Abu Dharr sampai di kota Makkah. Dia telah banyak mendengar berita tentang keganasan Quraisy terhadap orang-orang yang ingin menjadi pengikut Muhammad. Oleh kerana itu dia takut dan tak mahu bertanya kepada siapapun tentang Muhammad, sebab dia tak tahu apakah yang ditanya itu sahabat Muhammad atau justeru musuhnya.

Ketika malam tiba Abu Dharr tidur di masjid. Kebetulan tak lama berselang Ali bin Abi Thalib berlalu di depan masjid. Dalam sekejap saja, Ali tahu bahawa Abu Dharr adalah pendatang dari luar kota sehingga dia berkata, “Saudara, mari menginap saja di rumahku.”

Jadilah Abu Dharr menginap di rumah Ali malam itu. Pagi harinya dia membawa qirbah dan kantung makanannya untuk kembali ke masjid bersama si tuan rumah. Namun, kedua orang itu tidak saling menanyakan urusannya.

Sampai hari kedua Abu Dharr belum juga mendapatkan keterangan tentang Nabi Muhammad. Maka ketika senja turun dia pergi ke masjid untuk tidur. Seperti semalam, Ali bin Abi Thalib melewati masjid, lalu bertanya, “Anda belum pulang?”

Seperti kemarin pula, malam itu Abu Dharr kembali menginap di rumah Ali. Begitu pun keduanya tetap tidak saling bertanya atau memperkenalkan diri.

Pada malam yang ketiga, akhirnya Ali bertanya kepada tamunya, “Apa sebenarnya keperluan Anda di Makkah ini?”

Abu Dharr menjawab dengan hati-hati, “Pertama-tama, berjanjilah dulu bahawa anda mahu memberikan keterangan yang kuperlukan.”

Setelah Ali memberikan janjinya, baru Abu Dharr berterus terang, “Sebenarnya kedatanganku ke mari ini dari suatu tempat yang jauh adalah untuk menjumpai nabi baru itu. Aku ingin mendengar tentang sesuatu yang dia bawa.”

Mendengar itu wajah Ali membiaskan kegembiraan. Ia menuturkan dengan berghairah, “Demi Allah, beliau benar-benar Rasul Allah. Biasanya beliau begini dan begitu … Esok pagi anda boleh ikut aku. Nanti bila ada hal-hal yang terlihat mencurigakan, aku akan berhenti dan pura-pura buang air. Bila aku berjalan lagi, teruslah mengikuti. Dan bila aku memasuki sebuah rumah, masuklah juga.”

Malam itu Abu Dharr tidak mampu memicingkan mata sedikitpun kerana rasa rindu yang meluap-luap untuk berjumpa dengan nabi dan mendengarkan wahyu Allah.

Pagi harinya mereka berdua berangkat ke rumah Rasulullah. Abu Dharr berjalan agak jauh di belakang Ali. Jalan yang mereka tempuh lurus saja, tidak berbelok ke kanan ataupun ke kiri, sampai akhirnya memsuki sebuah rumah.

Begitu melihat Nabi Sholallohu ‘alaihi wassalam, Abu Dharr memberi salam, “Assalamu ‘alaika, ya Rasulullah.”

Rasulullah menjawab, “Wa ‘alaikassalamullahi wa rahmatuhu wa barakatuh.”

Abu Dharr-lah orang pertama yang memberi salam kepada Rasulullah dengan cara demikian. Ucapannya itu kemudian menjadi salam Islam dan ditiru oleh semua muslimin.

Rasulullah kemudian menyeru Abu Dharr ke dalam Islam. Beliau membacakan dan mengajarinya Al-Qur’an. Sebelum meninggalkan tempat itu, Abu Dharr telah mengucapkan syahadat dan resmi memeluk Islam. Dia menjadi orang keempat atau kelima yang melakukannya.

Berikut penuturan Abu Dharr: ”…Setelah itu aku tinggal bersama Rasulullah di Makkah. Beliau mengajariku dinul (agama) Islam dan membacakan Al-Qur’an. Beliau juga berpesan, “Jangan sekali-kali engkau berterang-terangan tentang Islam di kota Mekkah ini. Aku khuatir orang-orang akan membunuhmu.”

Kataku, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, saya tidak akan meninggalkan Mekkah sebelum pergi ke masjid dan mengumandangkan kebenaran Islam di tengah-tengah masyarakat Quraisy.”

Rasulullah berdiam diri mendengar kekerasannya.

Lalu aku pergi ke masjid. Orang-orang Qurasy sedang duduk-duduk sambil bersembang. Di tengah-tengah mereka Abu Dharr berdiri dan berteriak sekeras-kerasnya, “Hai orang-orang Quraisy, aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!”

Mereka terperanjat, dan sedetik kemudian semua bangkit dari duduknya dan menyerbu ke arahku. “Hajar saja orang ini! Dia telah keluar dari agamanya!” di sana-sini terdengar teriakan.

Orang-orang segera menghujani Abu Dharr dengan pukulan-pukulan keras tanpa ampun. Mungkin Abu Dharr akan tewas kalau saja Abbas bin Abdul Muthalib tidak segera datang. Dia berusaha melindunginya dan mengherdik para pemukulnya, “Celakalah kalian! Kalian hendak membunuh seorang Ghifar, padahal kafilah kalian harus melewati perkampungan Ghifar?!”

Mendengar itu, baru mereka berhenti.

Setelah siuman, Abu Dharr pergi menjumpai Rasulullah. Melihat keadanku, beliau berkata, “Bukanlah aku telah melarangmu mengumumkan Islam?”

Kataku, “Ya Rasulullah, niat dalam hati saya telah terpenuhi.” Beliau berkata lagi, “Pulanglah ke tempat kaummu dan beritakan apa yang kau lihat dan kau dengar di sini. Serulah mereka ke dalam agama Allah. Semoga dia memberi petunjuk kepada mereka melalui engkau dan memberikan pahala kepadamu. Bila kau dengar posisi Islam dalam masyarakat sudah kokoh, datanglah kembali kepadaku.”

Abu Dharr pun pulang sesuai dengan perintah Rasulullah. Saudaranya Anis menyongsong seraya bertanya, “Apa saja yang telah kau lakukan?”

“Aku memeluk Islam dan aku mempercayai Rasulullah,” jawabku.

Allah membukakan hati Anis sehingga dia berkata, “Aku tidak suka kepada Agamaku. Aku menyatakan Islam dan membenarkan dakwah Rasulullah.”

Kemudian mereka berdua menjumpai Ibu dan mengajaknya masuk Islam. Dia berkata, “Aku tidak suka kepada Agamaku. Aku juga menyatakan Islam.”

Sejak hari itu, keluarga yang beriman ini bergerak memperkenalkan Islam di daerah Ghifar tanpa jemu-jemu sehingga banyak penduduk Ghifar yang masuk Islam. Shalat lima waktu pun aktif dilakukan di masjid-masjid.

Segolongan orang berkata, “Sementara ini kita bertahan dalam agama kita. Nanti bila Rasulullah ke kota Madinah baru kita nyatakan keislaman kita di depan beliau.”

Begitulah. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, mereka semua menyatakan keislamannya. Beliau berkata, Ghfar, semoga Allah mengampuni mereka. Aslam, semoga Allah memberi mereka keselamatan..”

Abu Dharr tetap tinggal di dusunnya sampai tercetusnya perang Badar, Uhud dan Khandaq. Sesudah itu dia pergi ke Madinah dan minta izin untuk menyertai Rasulullah dan melayani semua keperluan beliau. Sebaliknya, Rasulullah juga mengutamakan dan menghormati Abu Dharr. Setiap kali berjumpa, beliau pasti menjabat tangan Abu Dharr erat-erat sambil tersenyum menunjukkan kegembiraan.

Setelah Rasulullah pulang ke rahmatullah, Abu Dharr tidak lagi merasa betah tinggal di Madinah. Dia pindah ke Syam, dan tinggal di sana selama masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Al-Faruq, Umar bin Khathab.

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, Abu Dharr pindah ke Damsyik. Di kota ini dilihatnya betapa kaum muslimin tenggelam dalam kemewahan dan sangat condong pada dunia. Keadaan ini sangat mengejutkan Abu Dharr.

Suatu kali Khalifah Utsman memanggilnya agar kembali ke Madinah. Abu Dharr segera memenuhi panggilan itu. Tapi lagi-lagi di sini dia menjumpai keadaan yang sama. Kini hatinya cemas melihat manusia begitu cenderung kepada dunia. Sebaliknya, orang-orang merasa sesak menghadapi kekerasan hati Abu Dharr yang tak bosan-bosannya memperingatkan mereka dengan kata-kata pedas.

Khalifah kemudian menyarankan agar Abu Dharr bermukim di Rabadzah, sebuah desa kecil yang masih wilayah Madinah. Abu Dharr setuju dan berangkat dengan segera. Dia hidup jauh dari manusia, zuhud terhadap kekayaan, tak mengirikan harta benda yang berada di tangan orang lain, berpegang pada cara hidup Rasulullah dan kedua sahabatnya yang mulia. Dia mengutamakan kehidupan akhirat yang kekal daripada kehidupan dunia yang fana.

Suatu hari seorang lelaki berkunjung ke rumah Abu Dharr. Melihat rumahnya kosong melompong, tamu itu bertanya, “Wahai Abu Dharr, dimana gerangan perabot-perabot rumah anda?”

Jawab Abu Dharr, “Kita punya rumah di kampung sana (maksudnya kanpung akhirat) sehingga perabot-perabot yang terbaik kukirimkan ke sana.”

Tamu itu mengerti maksudnya. Katanya lagi, “Tapi anda juga mesti memiliki perabot selama berada di kampung yang sekarang.”

“Tapi si empunya rumah tidak mengizinkan kita menetap di rumah yang ini (si dunia),” jawab Abu Dharr.

Pernah gabernor Syam mengirimkan wang tiga ratus dinar kepada Abu Dharr disertai ucapan, “Pergunakanlah uang ini untuk keperluan Anda.”

Abu Dharr mengembalikan seluruhnya seraya berkata, “Apakah Tuan Gabernor tidak menemukan seorang hamba yang lebih miskin dari saya?”

Pada tahun 32 H, malaikat maut telah menjemput seorang zuhud yang tekun beribadah yang dikatakan oleh Rasulullah: “Tidak ada dia atas bumi dan di bawah langit orang yang lebih jujur daripada Abu Dharr.”

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: