jump to navigation

Falsafah Perennial: Kembali ke Masa Depan Julai 2, 2008

Posted by ummahonline in Telaah Buku.
trackback

Oleh: Zainal Abidin Bagir

Tajuk: The Philosophy of Seyyed Hossein Nasr
Pengarang: L. E. Hahn, R. E. Auxier, L. W. Stone, Jr.
Penerbit: Open Court, Illinois , AS;
Tahun: 2001

“Benarkah falsafah perennial adalah falsafah ketinggalan zaman?” demikian seorang pembaca buku ini menggambarkan reaksi umum terhadap jenis falsafah yang dikembangkan Seyyed Hossein Nasr. Dalam dunia Barat saat ini yang didominasi oleh falsafah analitik dan continental, perennialisme memang tak mendapat tempat.

Oleh kerana itu, cukup menghairankan—dan merupakan penghargaan tersendiri—bahawa Nasr boleh terpilih untuk serial Library of Living Philosophers ini.

Sejak diterbitkannya nombor pertama siri ini pada 1939, Nasr adalah failasuf non-Barat kedua (S. Radhakrishnan yang pertama). Sebagai failasuf Muslim, dialah satu-satunya. Dengan itu ia disejajarkan bersama John Dewey, Bertrand Russell, Einstein, Carnap, Popper, Sartre, Quine, Ricoeur, Gadamer, dan belasan nama masyhur lainnya.

Berbeza dari mereka, Nasr sendiri dengan yakin menempatkan dirinya berhadapan dengan modernisme, sebagai “suatu falsafah yang premis dan asumsi-asumsinya saya tolak dan saya tentang selama empat dasawarsa terakhir ini.” Tak menghairankan kalau pertanyaan yang kerap muncul dalam buku ini adalah tentang kewajaran dan keabsahan hikmah perennis -nya di dunia (pasca-) modern.

Falsafah perennial adalah nama lain dari metafizik Islam sebagaimana difahami Nasr. Ia juga menyebutnya sebagai ilmu tentang Kenyataan Ultim, yang ada dalam semua agama atau tradisi spiritual sejak awal sejarah intelektual manusia hingga kini. Meskipun disebut “falsafah”, warna mistikalnya amat kental.

Buku ini terdiri dari tiga bahagian: autobiografi intelektual, esai-esai tentang pemikiran Nasr yang diikuti oleh tanggapannya, dan bibliografi lengkap karya Nasr. Huston Smith, salah satu dari 29 penyumbang di buku ini, mengawali dengan mendaftar beberapa ciri falsafah perennial yang menyebabkannya sulit tumbuh dalam iklim falsafah moden.

Pertama, perenialisme adalah suatu metafizik yang mendakwa memiliki akses langsung melalui fakulti intuitif kepada Sang Kebenaran/Kenyataan, terkait dengan agama, dan bersifat tradisional. Padahal, falsafah moden sejak awal sudah menentang ketiga hal ini. Namun bagi Nasr, tetap adanya kehausan intelektual-spiritual manusia moden yang tak boleh dipenuhi falsafah sekular menunjukkan masih adanya tempat bagi perennialisme.

Gagasan adanya Kebenaran, dengan “K” besar, juga menentang arus relatifisme yang dianggap sebagai temuan penting falsafah kontemporer. Lebih jauh, Mehdi Aminrazavi, murid Nasr, mempertanyakan sulitnya mengesahkan dakwaan kaum perennialis yang berasal dari “ilmu intuitif langsung” tentang Kebenaran. Bagi Nasr, relatifisme dan pertanyaan tentang kesahan hanya muncul dari kaum rasionalis yang tidak mengakui keabsahan akal intuitif (intellect) sebagai akal yang lebih tinggi daripada akal diskursif/rasional (reason). Tugas Nasr berikutnya, yang sayangnya tak dilaksanakannya dengan cukup baik, adalah menjustifikasi intelek ini tanpa lebih dulu mengasumsikan keberadaannya.

Nasr kemudian, mengikuti failasuf besar Suhrawardi, mengingatkan bahawa dakwaan para ilmuwan sekalipun (dalam mekanik kuantum, misalnya) tak dapat disahkan orang awam. Ada prasyarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu, di antaranya memahami matematik tingkat tinggi, yang hanya boleh diperoleh setelah menuntut bertahun-tahun. Demikian pula dengan “dakwaan” kaum perennialis, yang kesahannya menuntut persiapan intelektual-spiritual yang memadai. Namun, sejauh mana analogi ini boleh dipegang? Apakah, misalnya, ada kemampuan prediktif serupa dalam ilmu intuitif?

Dalam mekanik kuantum, para ilmuwan yang memiliki tafsiran berbeza-beza sekalipun boleh mencapai konsensus setidaknya dalam hal jangkaan. Sementara, seperti ditunjukkan Aminrazavi, dakwaan perennialis kerap bertentangan. Dia memberikan contoh pandangan evolusionis Teilhard de Chardin, yang mendakwa mendapatkan pengalaman ilahiah, tapi lalu dikritik oleh Nasr, yang memiliki dakwaan serupa.

Jawaban Nasr: “selalu ada kesepakatan dalam hal-hal yang menyangkut prinsip”–misalnya prinsip tauhid—meskipun ekspresinya mungkin berbeza-beza. Namun jika dibatasai pada prinsip amat umum seperti itu, apakah lalu pemikir Muslim seperti Sayyid Qutb dan Fazlur Rahman, misalnya, yang tampaknya akan menentang banyak aspek perennialisme, boleh disebut juga sebagai perennialis?

Gagasan utama lain dalam falsafah perennial adalah tentang Rantai Keberadaan (Great Chain of Being), yang mengimplikasikan adanya hierarki ontologis, sementara sains moden berkembang pesat tanpa asumsi ini. Huston Smith melihat adanya kecurigaan umum yang keras terhadap segala gagasan tentang hierarki, kerana dianggap memberi dasar bagi penindasan dan totalitarianisme.

Namun bagi Smith, yang disetujui Nasr, hierarki tak serta merta bererti penindasan. Sementara relatifisme justeru tak berdaya meruntuhkan totalitarianisme kerana menafikan adanya tolok ukur sebagai alat pengoreksi pandangan yang keliru. Jadi relatifisme atau absolutisme perennial sama saja: boleh mendukung penindasan boleh menetangnya.

Dalam tulisannya tentang falsafah perennial dalam konteks publik, Robert C. Neville, pendukung perennialisme, punya kritik lain terhadap Nasr. Ia melihat Nasr terlalu terikat dengan bentuk kuno perennialisme, dan tak mahu belajar dari beberapa aspek positif modenisme, seperti sekularisasi politik, yang menafikan autoriti dan menghormati toleransi. “Bagaimana mungkin [Nasr] yang lari dari Revolusi Islam menyanjung autoriti?” tanyanya.

Nasr menganggap ada dua kesalahfahaman di sini. Pertama, benar bahawa dalam masyarakat religius-tradisional ada penindasan atas nama absolutisme tradisi; tapi dunia moden sekular tak lebih baik dari segi ini. Jumlah manusia yang dibantai atas nama nasionalisme, fasisme, dan komunisme di abad 20 tak lebih sedikit. Selain itu, Tradisi juga membedakan autoriti yang benar dan sesat.

Satu hal lain yang juga menjadi sasaran kritik Neville, Aminrazavi, dan beberapa penulis lain adalah sikap amat kritis Nasr terhadap sains moden. Nasr menjawabnya dengan mengatakan, “Saya tak pernah menolak penemuan Galileo tentang jumlah bulan yang mengelilingi planet Jupiter, atau penemuan-penemuan lainnya yang tak terlalu penting bagi Tradisi.” Yang ditolaknya adalah pandangan dunianya, khususnya keyakinan akan tak adanya Pencipta, yang sebetulnya tak boleh disimpulkan oleh sains.

Dari sisi ini, tulisan Wolfgang Smith amat menarik. Matematikawan penganut perenialisme ini menunjukkan bahawa falsafah perennial, dengan sedikit ubahsuai, memiliki model ontologi yang boleh menjelaskan paradoks mekanik kuantum.

Smith menganggap upaya ini sebagai memenuhi anjuran Nasr agar fisikawan “mengintegrasikan fisika ke tatanan ilmu yang lebih tinggi [perennial].” Bagaimana pun, penolakan Nasr atas teori evolusi Darwin dianggap memberikan nama buruk bagi perennialisme. Menilik jawabannya atas tuduhan ini, Nasr tampaknya masih terjebak pandangan keliru yang popular tentang evolusi. Tak adakah kemungkinan mengintegrasikan teori evolusi ke “tatanan ilmu yang lebih tinggi”?

Selain respons terhadap modenisme, di bagian lain buku setebal seribu halaman ini beberapa sarjana non-Muslim membahas dan mengajukan kritik-krtitik terhadap perenialisme sebagai dasar perbandingan agama. Pengkaji falsafah Islam seperti Chittick dan Hosein Ziai menulis tentang tema-tema perennial dengan cemerlang. Sementara Parviz Morewedge mengajukan keberatan terhadap cara “bukan-rasional” Nasr dalam memahami tradisi falsafah Islam. Ia yakin falsafah Islam boleh ditampilkan sebagai falsafah rasional yang sensitif terhadap pandangan failasuf Barat seperti Wittgenstein, misalnya.

Pada akhirnya Nasr mengakui bahawa ia tidak boleh sepenuhnya mempertimbangkan setiap pandangan dan keberatan moden. Pertama, jumlahnya terlalu banyak. Lalu, banyak aliran yang muncul sebentar lalu tak dianggap terlalu penting lagi, seperti strukturalisme. Haruskah falsafah perennial menjawab semua keberatan itu? Baginya itu adalah tugas orang lain.

Falsafah ini telah ada di masa lalu dan akan tetap hidup di masa depan. “Tugas hidup saya adalah menyajikannya secara asli kepada audien moden,” ujarnya. Seperti diakui banyak penulis di buku ini, baik yang mendukung ataupun mengkritiknya, Nasr telah berhasil dengan baik melaksanakan tugas itu.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: