jump to navigation

Di Amsterdam, Memilih Tengah Julai 15, 2008

Posted by ummahonline in Catatan Kaki, Kolum.
trackback

Oleh: Ekky Malaky

Bagaimana seorang muslim memberi reaksi terhadap sebuah idea bernama “Amsterdam”? Banyak pilihan, tapi tidak mudah untuk memilihnya.

Di Amsterdam, 22 Desember 2007. “Wah, lu dari Amsterdam ya? Nanti kalau kita ke sana, temankan ya, mahu nyoba gele’ (ganja) nih,” ungkap seorang kawan baru dari Leuven, Belgium, saat bertemu di Brussel.

Ada yang beranggapan ibukota Belanda ini adalah negeri kebebasan. Maklum, di sini, hal-hal haram—dari sudut hukum agama, etika, atau hukum positif pada umumnya—menjadi legal. Sebut saja pelacuran, yang berkembang menjadi tarikan perlancongan di Red Light District, tempat pekerja seks yang kelak mendapat santunan para pesara. Atau ganja yang tersedia di berbagai coffee shop. Dan, tentu saja, perkawinan sejenis.

Tidak hanya orang Indonesia, tapi orang Eropah pada umumnya berpandangan serupa tentang mitos kebebasan di Negeri Kincir Angin ini. Sebaliknya, ada juga yang berpendapat Amsterdam adalah kota maksiat. Mereka pun memberikan batas-batas yang sangat ketat untuk dirinya dan jamaahnya.

Serba liberal atau serba mengekang, kedua kutub ini hadir di Amsterdam, khususnya dalam kehidupan keberislaman.

“Kalau ghairah kita tinggi tapi ilmu kurang, semuanya serba haram. Tapi kalau ghairah kita kurang dan ilmu juga kurang, semua serba halal,” ungkap Adiwarman Karim, pakar Ekonomi Islam, saat bercuti ke kota ini dan ada kesempatan berkunjung menemui alumni ESQ (sebuah lembaga motivasi pimpinan Ary Ginanjar, dengan alumni pelatihan yang tersebar hingga ke Amsterdam). Pernyataan Adiwarman ini menegaskan dua titik ekstrim di atas. Tentu saja ada variasi, derivasi, dan anomali.

Contohnya saja soal makanan halal. Teman saya dari Leuven itu dengan santai memesan babi panggang di sebuah restoran Cina dan memakannya dengan lahap. Ada teman yang, dengan berbagai alasan, meminum bir dan wine. Maklum, di sini, harga wine sangat terjangkau dan kadangkala lebih murah dari air mineral.

Di seberangnya, berlawanan 180 darjah, ada yang sangat hati-hati hingga bahkan makan kue tart ulang tahun anak temannya pun tak mahu. “Syubhat,” kata seorang teman saya —ertinya, ia menganggap ada bahan yang ia ragukan kehalalannya dalam tart itu. Anehnya, saat ia menolak halus tart itu, ia menawarkannya ke saya. Lho?

“Kalau mengikuti mereka, boleh saja kita tidak beli makanan apa pun,” ungkap seorang kawan.

Seorang kenalan bercerita, saat ada pertandingan olahraga kedutaan besar sebuah negeri jiran, ia yang bertugas sebagai pelayan yang membelikan ayam goreng mereka yang terkenal. Spontan mereka menolak. “Ya sudah, saya ambil saja semuanya. Enak, kan, boleh buat beberapa hari,” kata kenalan saya itu. “Seharusnya mereka sedar bahawa menyakiti hati orang itu sama berdosanya dengan makan ayam yang mereka anggap haram itu,” sambungnya.

Saya waktu itu mengulas, setidaknya terima dulu saja makanannya, baru setelah itu dibuang tanpa diketahui oleh yang memberi, untuk menjaga perasaan. Shari’ah—dengan segala cabangnya—memang wajib ditaati, tapi ukhuwah juga tak kalah pentingnya, bukan?

Malah ada yang nyaris menjadi vegetarian, kerana hanya makan sayuran, telur, roti-rotian, dan haiwan dari laut saja, jika berada dalam keadaan syubhat. Ada juga yang berpendapat, yang penting bukan babi dan minuman beralkohol. Kelompok ini lantas menafikan tentang apakah daging yang ia makan disembelih atas nama Tuhan atau tidak. Yang penting makan. “Ini Eropah, Bung! Capek juga kalau selalu cari toko halal untuk makan daging!”

Bagaimana dengan saya? Sebolehnya mungkin saya makan yang halal. Bahan mentah saya beli di toko Maghribi atau Turki. Kalau terpaksa makan di luar, ya saya cari Shoarma atau Kebab, kalau boleh, saya bawa bekal dari rumah. Tapi, sebagai contoh, kalau kita bertamu dan disuguhi makanan —dan mereka tahu saya Muslim dan kerananya mereka tidak menghidangkan babi— saya tidak enak untuk menolak hidangan yang sudah tersedia. Bismillah sajalah. Allah Maha Tahu.

***

Hal lain yang harus diadaptasi adalah soal waktu. Di saat kita sudah mulai terbiasa dengan ritme waktu musim panas, pada 28 November pukul 3 dini hari, seluruh negara dalam Kesatuan Eropah meraikan waktu musim dingin: jarum pendek pada semua penunjuk waktu dimundurkan satu jam.

Di musim ini, jarak waktu antara Dzuhur, Ashar,Maghrib, dan Isya hanya sekitar dua jam. Agak susah menyesuaikan waktu shalat tersebut kalau kita berada di wilayah yang kita tidak kenal—di Belanda sangat sukar mencari masjid—apalagi jika bertepatan dengan waktu kuliah dan urusan penting lainnya yang tidak boleh ditunda. Kerana itulah, mahu tak mahu, harus shalat di-jama’. Bukankah Rasulullah pernah menjamak shalat saat sedang di dalam kota?

Komuniti keislaman di Amsterdam lumayan banyak, asal kita tahu informasinya. Ada Persatuan Pemuda Muslim Eropah (PPME) Amsterdam dan juga PPME Al-Ikhlash (mereka pecah kerana perbezaan klasik, kelompok puritan vs kelompok tradisional). Ada juga alumni ESQ.

Bergaul bersama mereka membuat kita boleh selalu memperbaharui berbagai informasi yang relevan dengan praktik keislaman kita sehari-hari, seperti jadual shalat Eid atau masjid di lingkungan kampus. (Salah satu kiat lainnya adalah mengunduh perisian azan dari Islamicfinder.org, sehingga kerinduan akan atmosfera keberagamaan tanah air sedikit terubati, di samping lebih sedar dengan waktu shalat.)

Islam di Negeri Tulip menjadi agama yang paling cepat berkembang. Kita boleh melihat wanita berjilbab di banyak tempat, kebanyakan dari Maghribi dan Turki. Toko halal juga mulai banyak.

Masjid, walau dilarang melantunkan azan, juga mulai tumbuh. Bahkan di pasar De Bazaar, Bewerwijk, ada satu wahana khusus Timur Tengah bernama Zwarte Markt (“Pasar Hitam”), yang sangat mirip dengan Pasar Seng di Mekkah. Inilah satu-satunya tempat di Belanda yang boleh memperdengarkan azan secara terbuka. Dan yang melakukan sembahyang pun ramai bukan kepalang.

Lagu-lagu berirama padang pasir hadir di Amsterdam, mulai dari gaya blues hingga house-music. Bahkan bulan puasa kelmarin digelar Ramadan Night yang menggelar muzik-muzik keruhanian, ditonton banyak orang luar. Terjadi dialog antara peradaban di sini. Islam yang ditawarkan adalah Islam Budaya, Islam berwajah ramah. “Kerana itu, kebanyakan orang Belanda masuk Islam kerana simpati dengan keislaman dari Indonesia, kerana ciri khas yang berbeza dengan Arab,” ujar KH Hambali Maksum, tokoh Islam di Den Haag yang merupakan sesepuh di Belanda.

Dialog budaya ini begitu penting di tengah gencarnya kempen anti Al Qur’an dari Geert Wilder, seorang anggota parlemen Belanda yang terang-terangan membenci Islam (tapi tak ada yang menanggapinya dengan serius, kasihan sekali dia!).

Geert berpendapat bahwa Al Qur’an hanyalah buku tua yang mengandung ajaran fasisme, tak lebih baik dari Mein Kampf buatan Hitler. Ia juga (tipikal) menganggap Al Qur’an berisi ajaran keganasan yang menjadi sumber terorisme, sehingga “buku” ini harus dilarang peredarannya dari muka bumi ini.

Sebenarnya, sebahagian warga Belanda sudah lebih objektif memandang Islam. Saya baru saja dari Museum Tropen, dan di sana mereka sangat apresiatif terhadap Islam. Dikelola oleh Royal Tropical Institute, muzuim ini adalah salah satu yang terbaik di Eropa untuk tema etnografiknya. Isinya seputar benda seni/artifak, fotografi, muzik, filem dari negara dan budaya bukan-Barat. Koleksi dari Indonesia (dan negara-negara bekas jajahan Belanda) termasuk yang banyak dipamerkan –sekarang sedang ada pameran Asmat hingga April nanti.

Di muzuim itu ada pameran tentang Caribbean, Afrika, Amerika Latin, dan lain-lain. Termasuk dibahas tentang negara Islam, khususnya Mesir, Senegal dan berbagai negara Islam lain. Yang dibahas mencakupi shariat dan fiqh, sejarah Islam, dan pengaruh peradaban Islam di Barat.

Misalnya, ada pernyataan bahawa beberapa ilmu pengetahuan dan teknologi —seperti Aljabar, kompas, hingga granat— berasal dari Muslim. Juga, ada ratusan kata dalam bahasa dunia —seperti gitar, safari, hingga tulip— berasal dari tanah Arab.

***

Either/Or, kata Kierkegaard: manusia sering seperti harus memilih sesuatu atau tidak sama sekali. Tapi kita boleh berdiri di tengah-tengah, kerana kita adalah ummatan washatan, umat pertengahan. Wasith, kemudian jadi “wasit”, hakikatnya adalah penengah. Kerana itulah, asas fiqih moderat semacam fatwa Yusuf Qardhawi, begitu layak diterapkan: “Permudah, jangan dipersulit,” begitu intinya. Wallahua’lam.

Nota: Ekky Malaky adalah seorang pengamat pemikiran dan kebudayaan Islam, serta pengkritik filem. Merupakan lulusan Sarjana Falsafah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia dan Sarjana Muda Sastera Arab juga di universiti yang sama. Beliau terkenal sebagai penulis bebas mulai dari Sabili hingga Gatra dan Tempo, di samping terlibat dalam halaman http://www.rumahfilm.org. Kini beliau sedang melakukan sarjana penyelidikan filem di Universiteit van Amsterdam, Belanda. Manakala, tulisan ini pertama kali dimuatkan di Madina edisi Perdana, Januari 2008.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: