jump to navigation

Memulakan Falsafah September 14, 2008

Posted by ummahonline in Buku.
trackback

Judul: Berfilsafat: Sebuah Langkah Awal
Penulis: Mark B. Woodhouse
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2000
Halaman: 240 halaman (tanpa indeks)

Orang yang mendengar kata ‘falsafah’ akan menanggapi dengan sikap yang bermacam-macam. Seringkali falsafah dihubungkan dengan sesuatu yang berbau pemberontakan, sehingga kemudian terdengar agak ‘menyeramkan’.

Malah, secara keliru, falsafah dikatikan dengan sesuatu yang berbau mistik. Sayangnya, berbagai pandangan itu tidak didasarkan pada suatu pengetahuan yang memadai, sehingga ia sebenarnya hanyalah prasangka-prasangka tak berdasar.

Yang lebih menghairankan adalah pandangan yang menganggap aktiviti berfalsafah sebagai sesuatu yang tidak berguna. Falsafah dianggap berbicara tentang sesuatu dengan terlalu abstrak, sehingga seperti mengajak orang melayang tanpa menjejakkan kakinya di bumi. Kesan seperti ini semakin parah kerana ungkapan-ungkapan falsafah dianggap terlalu rumit dan absurd.

Buku ini adalah sebuah usaha cerdas penulisnya untuk menepis segala atribut miring yang dilekatkan kepada falsafah itu, terutama anggapan bahwa falsafah tidak bersifat praktis dan terlalu teoritis.

Melalui buku ini juga, pembaca yang masih awam falsafah diajak berkenalan dengan falsafah dengan titik tekan pada pembentukan kemampuan praktis berfalsafah—meski mungkin hanya amatur—tanpa harus banyak meneliti persoalan-persoalan khusus dalam cabang falsafah tertentu atau pemikiran-pemikiran dalam aliran falsafah yang begitu beragam.

Buku ini terdiri dari tujuh bab dan lampiran tentang sejarah dan pemikiran para filsuf ditambah glosarium istilah-istilah penting. Dua bab pertama membahas tentang objek pembahasan dan kegunaan falsafah.

Dalam dua bab awal yang menjadi semacam pengantar teoritik terhadap masalah-masalah falsafah ini, Mark B. Woodhouse menjelaskan bahwa permasalahan falsafah mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu-ilmu empirikal (hlm. 15).

Falsafah tidak berhubungan secara langsung dengan dunia empiris. Falsafah lebih berkaitan dengan ide-ide mendasar (seperti ide tentang keadilan, kebahagiaan, cinta, dan sebagainya) dengan menekankan kepada makna dan hubungan logis di antara premis-premis yang dibangun, sehingga falsafah selalu berusaha menembus partikulariti fakta empiris (hlm. 25).

Termasuk pula dalam hal ini adalah masalah asumsi-asumsi tersembunyi yang diandaikan dalam setiap pernyataan. Falsafah tidak menghentikan penyelidikannya pada dataran fakta empiris yang dangkal. Pemikiran falsafah selalu berusaha untuk menyeberangi dan melampaui fakta, masuk ke palung samudera hakikat realiti yang tak terjamah ilmu-ilmu khusus. Dengan cara ini, pemahaman terhadap realiti dapat bersifat lebih umum, mendasar, dan mencapai hakikat yang terdalam.

Selain kehendak untuk menemukan kebenaran tertinggi (the ultimate truth) falsafah juga memiliki kegunaan praktis yang lebih jelas. Woodhouse menegaskan bahwa kegiatan berfalsafah dapat membiasakan seseorang untuk bersikap mandiri secara intelektual, lebih tolak-ansur terhadap perbezaan sudut pandang, dan semakin membebaskan diri dari dogmatisme (hlm. 47).

Memang, hal-hal yang tersebut tidak semata-mata ditemukan hanya dalam aktiviti berfalsafah. Akan tetapi, cara kerja falsafah yang merayakan kebebasan intelektual serta menuntut kesetiaan kepada kekuatan hujah menjadikan falsafah sebagai alternatif terbaik untuk mencapai maksud tersebut.

Implikasi yang lebih jauh dari kegiatan berfalsafah adalah terbitnya rasa kepekaan terhadap hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya (hlm. 50). Falsafah mengajarkan sikap hati-hati terhadap hal-hal yang dianggap remeh-temeh. Asumsi-asumsi apriori yang dibiarkan menggelantung dalam pikiran dibongkar. Dengan cara pandang ini, tak berlebihan bila beberapa orang memandang falsafah terkesan hendak membongkar tatanan realitas yang telah mapan.

Dalam bab ketiga hingga kelima, Woodhouse sudah mulai mengajak pembaca untuk langsung berfalsafah. Sebelumnya, Woodhouse mengemukakan bahawa dalam berfalsafah ada beberapa langkah persiapan yang harus diperhatikan (hlm. 57).

Misalnya, falsafah membutuhkan sikap batin yang khas: keberanian menguji sesuatu secara kritis, kesediaan mengajukan hipotesis sebagai tanggapan awal, tekad untuk menempatkan nilai kebenaran sebagai ukuran, dan kemampuan untuk memisahkan keperibadian seseorang dari benda yang dibicarakan.

Berfalsafah juga mesti dikembangkan melalui praktik. Kerana itu, ketika seseorang sedang belajar falsafah sebenarnya ia telah memulai berfalsafah. Dua sisi peranan falsafah juga harus diingat dengan baik, bahwa ia mengemban fungsi kritis sekaligus konstruktif.

Pada tiga bab ini Woodhouse memberikan jurus-jurus ampuh dan sistematik untuk secara praktis membedah suatu persoalan dengan pendekatan falsafah. Pada bahagian inilah sebenarnya cara kerja falsafah dikemukakan secara lebih rinci. Beberapa garis besar pertanyaan falsafah yang dapat diterapkan kepada suatu fakta empiris diuraikan secara baik, seperti pertanyaan apakah premis-premis yang dikandung sudah benar?, apakah konsekuensi logisnya dapat diterima?, apakah istilah-istilah kunci sudah terfahami secara benar?, dan sebagainya.

Dua bagian terakhir adalah imbuhan kemampuan praktis lainnya yang juga diperlukan dalam kegiatan berfalsafah, yakni tentang bagaimana cara membaca karya falsafah dan cara menulis karangan falsafah.

Sebagai buku pengantar tentang falsafah, buku ini memiliki beberapa kelebihan dibanding buku yang lain. Pertama, dengan menekankan aspek praktis Woodhouse menepis anggapan bahwa falsafah hanya bergelut dengan masalah-masalah teoritik yang abstrak.

Kedua, kerana mengedepankan pendekatan praktis, maka proses internalisasi kepada pembaca berlangsung secara lebih efektif. Apalagi Woodhouse melengkapi huraian-huraiannya dengan contoh dan pertanyaan-pertanyaan yang diikuti dengan jawabannya.

Ketiga, secara tidak langsung Woodhouse mengajak pembaca—terutama orang yang telah bergelut dengan dunia falsafah—untuk menegaskan sisi praktis dari falsafah.
Namun, penting dicatat bahwa setiap usaha menjelaskan falsafah nyaris selalu terjebak ke dalam pemihakan epistemologis tertentu.

Meski sejak awal Woodhouse sudah berusaha menghindar dari pemihakan ideologis, akan tetapi, dalam mendefinisikan falsafah, secara epistemologis Woodhouse tampak lebih berpihak kepada aliran rasionalisme yang mementingkan koherensi antar-ide tinimbang kesesuaian faktual.

Selain itu, pada bagian lain, terdapat suatu kejanggalan teoritik dalam pemikiran Woodhouse, ketika di awal ia menghendaki huraiannya lebih menekankan sisi praktis, sementara pada bagian lain Woodhouse mengatakan bahwa aktiviti berfalsafah terutama berhubungan dengan aktiviti berfikir.

Padahal, kalau mau mendengarkan ujaran Karl Marx, sisi praktis mestinya lebih ditekankan, yakni ketika Marx menulis: “Para ahli falsafah hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah bagaimana mengubahnya”.

Tentu, perbedaan dan pemihakan adalah sesuatu yang wajar dalam falsafah, dan itu tidak kemudian mengurangi nilai lebih buku ini. Dalam kerangka kontekstual yang lebih luas, yakni dalam konteks kehidupan sosial sehari-hari, buku ini dapat menjadi modal dasar untuk menjadi titik tolak bagi usaha-usaha menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Maka, tradisi berfikir kritis yang tersemai dari kegiatan berfalsafah sepertinya penting untuk dimasyarakatkan.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: