jump to navigation

Namaku Taraneh, 15 September 15, 2008

Posted by ummahonline in Seni, Wayang.
trackback

I’m Taraneh, 15 (2006)
Sutradara: Rasul Sadr-Ameli
Pelakon: Taraneh Alidoosti, Hossein Mahjub, Mahtab Nasirpour, Milad Sadr-Ameli

Filem ini, I’m Taraneh, menceritakan perjuangan seorang perempuan muda dalam menempuh liku-liku hidup seorang diri. Taraneh, watak utama filem ini. Ia tinggal bersama neneknya yang sering sakit, sementara ayah Taraneh harus mendekam di balik jeriji, tapi tak jelas apa kesalahannya.

Namun, di tengah beban hidup yang menghimpit, ia tetap tersenyum. Prestasi akademik di sekolahnya pun cukup hebat, terbukti tahun itu ia dinobatkan sebagai siswi teladan. Padahal setiap malam ia harus melakukan kerja sambilan di sebuah studio mini. Akhir pekan adalah hari yang dinantinya, saat ia dapat menemui dan berbincang hangat dengan sang ayah. Segalanya seakan tertumpah di hadapan sosok yang dikasihinya itu, dan tak jarang di akhiri derai tawa bersama.

Semua berjalan secara alamiah sampai suatu hari seorang pemuda yang selalu mengincarnya mengajak menikah. Ia meragukan kesungguhan pemuda itu. Namun seorang aktivis perempuan yang ternyata ibu dari pemuda itu, mendesak Taraneh untuk menikah. “Kamu hanya akad saja dan tetap boleh melanjutkan sekolah”, jelas si ibu itu. Taraneh tak kuasa menolak. Upacara akad nikah itu akhirnya berlangsung dengan sangat sederhana, tak ada gaun pengantin, bunga dan tepuk tangan riuh para tamu. Taraneh tersenyum bahagia.

Tak lama kemanisan dirasakan Taraneh bersama suaminya, tiba-tiba terdengar khabar memilukan. Lelaki itu berselingkuh dengan perempuan lain. Taraneh sangat kecewa, ia tak sanggup melanjutkan pernikahan yang baru seumur jagung itu. Perceraian pun, akhirnya menjadi pilihan. Taraneh sedih, sang ayah pujaannya berusaha menghibur: kalau memang perpisahan yang terbaik, lakukanlah.

Penderitaan Taraneh kian lengkap, ketika seorang doktor memastikan kehamilannya. Ia segera menemui si mantan mertua yang dulunya mendesak Taraneh untuk segera menikah. Tapi hanya celaan yang ia terima. Siapa yang dapat memastikan kalau janin itu milik anakku, serang ibu itu dengan nada berang.

Taraneh tak mampu menahan lara yang semakin mendera, apalagi ditambah kematian neneknya (satu-satunya penghuni rumah). Ia juga tak sanggup menceritakan kehamilannya pada sang ayah, karena hanya akan menambah beban kesedihan orang yang dicintainya itu. Maka, ia hanya mampu tenggelam dalam kesedihan seorang diri, di sinilah terjadi rintihan menarik Taraneh kepada Tuhannya.

Lalu, mampukah Taraneh menghadapi berbagai kemelut yang melandanya? Bagaimana ia mengatasi berbagai konfik sosial, ekonomi seorang diri? Bagaimana pula perjuangannya dalam membesarkan anak yang dikandungnya? Dan apakah ia berhasil mendapatkan hak-haknya? Jawapannya boleh anda temui dengan menonton filem tersebut.

Advertisements

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: