jump to navigation

Keruhanian Wanita Dalam Perspektif Agama-Agama September 28, 2008

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Oleh: Khotimatul Husna

Semangat kaum feminis menyuarakan “berdikarinya” wanita menjadi antara fenomena yang paling menonjol pada zaman ini. Dimulai sejak abad ke-17 (ketika istilah feminisme pertama kali digunakan), para pejuang hak-hak wanita bergerak dan terus mendesak perubahan nasib bagi wanita ke arah keadaan yang lebih baik dan adil, serta bangkit dari “kejayaan” patriarki, yakni dunia yang didominasi laki-laki.

Dominasi maskulin memang sangat hegemoni, sehingga segala sisi hidup manusia yang bernuansa laki-laki dengan mengutarakan nilai-nilai kekuasaan, kekuatan, kekerasan, telah menjadikan harmoni dunia lenyap kerana terpenjaranya nilai-nilai feminin yang berwujud cinta, kasih sayang, dan perdamaian.

Bahkan, hegemoni maskulin itu sejak lama memasuki wacana agama, sehingga tafsir teks agama yang berkembang dan dijalankan sebahagian besar merupakan tafsir yang cenderung patriarkal.

Padahal, sumber ajaran agama berupa kitab suci tidak ada yang mengajarkan dominasi satu jenis atau golongan atas jenis atau golongan yang lain, melainkan selalu mengajarkan keseimbangan hidup antara dua sisi yang berbeza untuk berpasangan.

Dalam agama Kristian misalnya, dalam Alkitab, Kitab Kejadian Fasal 1 dan 2, terutama Kejadian 1:26:27 disebutkan, manusia diciptakan Tuhan. Manusia yang diciptakan itu laki-laki dan wanita. Penjelasan Kitab Kejadian ini menunjukkan, baik laki-laki mahupun wanita mempunyai tanggung jawab sama di hadapan Tuhan, sama-sama berpotensi mewujudkan rupa Tuhan dalam perbuatan yang akan mencerminkan sifat Ilahiah.

Kerana itu, wanita dengan sisi feminin yang menonjol berpeluang menonjolkan sisi profetik sebagaimana ditunjukkan oleh Maryam. Dengan asas keruhanian tinggi dan kasih sayang, serta tanpa menggunakan kekerasan, Maryam mampu menaklukkan kekuasaan yang sangat lazim yang disimbolkan dengan Firaun (Kitab Keluaran 2:7-8).

Dalam Islam, Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa nilai-nilai feminin tak dapat diingkari, kerana merupakan bahagian dari sifat dunia yang polar, maskulin-feminin, lelaki-wanita, yin-yang, dzakar-untsa. Keberagaman dunia merupakan sistem yang sengaja diciptakan Tuhan agar antara makhluk saling berinteraksi satu sama lain. Oleh kerana itu, mengingkari nilai feminine—atau menafikan satu unsur kemajmukan dunia—berarti melanggar sunnatullah atau hukum alam (QS 49:13), yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan dunia.

Nilai feminin ini tercermin dari jiwa atau nafs, bentuk kata benda feminin yang bererti semangat kedamaian atau nafs muthmainnah (QS 88:27-28), bukan seperti stereotype yang selalu menganggap nilai feminin sebagai nafs penghasut, yang dicitrakan dalam diri wanita sebagai Hawa atau Zulaikha.

Meskipun nafs juga mengandung unsur lawwamah (menuduh atau menghasut), namun hal itu boleh dikalahkan oleh unsur muthmainnah melalui proses pendekatan diri pada Tuhan.

Oleh kerana itu, dalam dunia keruhanian, wanita bolehmencapai tahapan tertinggi pada puncak asketis dan ketenangan batin kerana jiwa tadi memang bersumber dari unsur feminin. Bahkan dzat, kata ganti Tuhan dalam bahasa Arab, merupakan bentuk kata benda feminin yang menunjukkan dalam Tuhan terkandung unsur feminin, selain kata ganti huwa atau dlomir hu dari kata ganti laki-laki yang biasa digunakan untuk menggantikan kata Tuhan.

Dzat Tuhan yang feminin berwujud dalam sifat-sifatnya, seperti kasih sayang (Ar-Rahiim), kelembutan (Lathiif), damai (Salaam), dan lain-lain, di samping sifat maskulin Tuhan seperti pemaksa (Al-Qohhar), yang kuat (Al-Qowiy), yang menjaga (Al-Muhaimin), dan lain-lain.

Dzat Tuhan merupakan hakikat yang dituju, didambakan, dan diharapkan setiap hamba yang mendalami keruhania keagamaan. Fenomena keruhanian yang lebih dekat dengan unsur feminin tersebut, ditunjukkan oleh sejarah mistisisme berupa pola pendekatan kepada Yang Tertinggi dengan mengedepankan jiwa yang feminin dalam diri para tokoh mistis.

Dalam sejarah mistisisme Islam-juga agama lain-dapat ditemukan wanita dengan keunggulan keruhanian, seperti Rabi’ah al-Adawiah yang menyerahkan hidup untuk mencintai Tuhan-nya, sehingga tidak boleh menemukan cinta lain kerana kesempurnaan cinta telah ditemukannya dalam Tuhan.

Nama lain adalah Maryam, Fatimah, Khadijah, Aisyah, dan lain-lain, sebagai sosok yang konsisten dengan cintanya kepada Tuhan. Mereka selalu berjuang mencintai Tuhan-nya sehingga mereka mendapat julukan kembang peradaban (julukan yang diberikan Annemarie Schimmel dalam Jiwaku adalah Wanita).

Bahkan, juga Zulaikha, wanita yang controversial, sebagai seorang hamba dan kembara dalam perjalanannya untuk mencari keindahan Tuhan, telah menemukan kesempurnaan dan keindahan-Nya dalam diri Yusuf, akhir dari pencariannya adalah boleh bersatu dengan keindahan tersebut. Di sanalah puncak keruhanian, yakni pertemuan dengan Yang Maha atas segala keindahan.

Sedangkan dalam agama Buddha, Sang Buddha mendirikan Bikhuni Sangha sebagai wadah bagi wanita mencapai tingkat tertinggi dalam agama, dengan menjalankan Dharma. Keserasian batiniah yang ditekankan dalam agama Budha, melahirkan tokoh panutan seperti Dewi Tara, Prajnaparamita, dan Bodhisatva Kwan Im.

Agama Hindu pun mengakui kekuatan keruhanian wanita dan menyembah kekuatan ini yang disebut Stri Shakti yaitu bahasa Sansekerta untuk kekuatan wanita yang diwujudkan berupa kuil atau pura yang dipersembahkan kepada Durga, Kali, Laksmi, nama-nama dewi perlambang Stri Shakti. Tanpa Stri Shakti, para Dewa tidak dapat mencipta (Gedong Bagoes Oka, Wanita dalam Perspektif Hindu).

Demikianlah wanita diakui mempunyai peranan besar dalam mengubah wajah dunia dengan kekuatan keruhanian tanpa kekerasan.

Dalam sejarah tokoh keruhanian laki-laki seperti Rumi, Ibn Arabi, dan lain-lain, dalam perilaku dan amaliah mistisnya cenderung mengedepankan unsur feminin untuk menampakkan kasih Tuhan kepada manusia. Jalaluddin Rumi dikenal sensitif dengan syair-syairnya yang lembut dan syahdu menyentuh nurani. Demikian juga Ibn Arabi, tokoh sufi, penyair, dan filsuf yang cenderung feminin dalam karya-karyanya.

Keruhanian tidak mengenal jenis kelamin, laki-laki atau wanita. Dalam keruhanian jenis kelamin adalah profan kerana merupakan simbol duniawi. Dalam dunia yang tidak dikenal eksistensi individu kerana bertentangan dengan sifat keabadian, sedangkan keruhanian adalah dunia jiwa abadi yang bersifat feminin.

Keintiman keruhanian dan feminin pada akhirnya melahirkan sifat kenabian sebagai pantulan cahaya Tuhan yang memenuhi jiwa suci. Oleh kerana itu, wanita mempunyai potensi besar untuk menduduki puncak profetik dengan kesahajaan femininanya untuk mewujudkan perdamaian dunia dan keselamatan umat manusia, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Tuhan kepada nabi-Nya.

Advertisements

Komen-komen»

1. sabahdaily » Keruhanian Wanita Dalam Perspektif Agama-Agama - Oktober 1, 2008

[…] Khotimatul Husna Maklumat ini telah diterbitkan pada Wednesday, October 1st, 2008 dalam kategori bicara agama. […]


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: