jump to navigation

Simone de Beauvoir dan Feminisme Oktober 3, 2008

Posted by ummahonline in Buku.
trackback

Judul Buku: Pembebasan Tubuh Perempuan: Gugatan Etis Simone de Beauvoir terhadap Budaya Patriarkat
Penulis : Shirley Lie
Pengantar : Karlina Supelli
Penerbit : Grasindo, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2005

Di kalangan para aktivis gender, Simone de Beauvoir merupakan salah satu tokoh utama yang harus ditelaah. Magnum opusnya, Le Deuxième Sexe (1949), dicatat sebagai karya klasik yang memberikan huraian yang cukup komprehensif tentang keadaan (ketertindasan) perempuan dan telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dan mendorong inspirasi gerakan-gerakan pembebasan perempuan.

Karya klasiknya itu, yang dalam bahasa Inggris berjudul The Second Sex, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Pustaka Promethea Yogyakarta (2003).

Buku yang semula adalah tesis di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini adalah salah satu dari sedikit karya dalam bahasa Indonesia yang cuba menyusun dan mengkontekstualkan pemikiran-pemikiran Beauvoir. Gagasan-gagasan Beauvoir yang dapat dikatakan bersifat falsafah dan merupakan kritik tajam terhadap budaya patriarkat yang menindas dalam buku ini diletakkan dalam kerangka praksis-etis pembebasan kaum perempuan.

Untuk itu, penulis buku ini, selain mengolah dari The Second Sex, juga banyak mengolah pemikiran falsafah Beauvoir yang tertuang dalam The Ethics of Ambiguity.

Budaya patriarki memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap tubuhnya perempuan. Unsur-unsur biologi pada tubuh perempuan dilekatikan dengan sifat-sifat patriarki dengan cara menegaskan bahawa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan disudutkan dalam fungsi biologisnya saja.

Dengan cara demikian, tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi alat untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tidak dapat meluaskan dimensi subjektivitinya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarki ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke pelbagai pranata sosial: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan mungkin juga negara.

Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex) dalam struktur masyarakat. Akibatnya, perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identiti kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif, konstruktif, dan aktual.

Dalam situasi yang demikian ini, pola hubungan kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Kaum laki-laki tak mahu adanya ketegangan hubungan subjek-objek, sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial, dengan menyangkal subjektiviti perempuan.

Pada titik inilah pemikiran Beauvoir tentang etika ambiguiti menjadi penting dikemukakan. Dengan etika ambiguiti, Beauvoir menolak sikap yang ingin mengelak dari ketegangan hubungan tersebut. Menurut Beauvoir, ketegangan antara “keperluan akan orang lain” dan “kekhuatiran dikuasai orang lain” (diobjekkan) merupakan situasi yang harus diterima apa adanya dan ditransendensikan ke dalam situasi yang lebih teratur dan manusiawi.

Jalan pembebasan kaum perempuan ditempuh dari dua jalur utama, yakni tahap pemikiran dan praktik. Pada tataran pemikiran, tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarki yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi.

Selain menempatkan konsep subjek dengan tubuh yang berbeda dan ambiguiti, Beauvoir juga menyerukan untuk mengubah pola hubungan antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologi dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etika, yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati.

Di tahap praktik, Beauvoir mengusulkan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan, yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial, budaya, dan politik, yang dicapai melalui revolusi sosial.

Selain melakukan sistematisasi, buku ini cukup berhasil melakukan kritik dan kontekstualisasi pemikiran-pemikiran Beauvoir dalam konteks maslaah-masalah kekinian perempuan di era globalisasi. Di beberapa bahagian, misalnya, menurut penulis buku ini, Beauvoir kadang terlihat terlalu menyederhanakan persoalan situasi perempuan dan tidak menyesuaikan dengan kerumitan situasi penindasan perempuan.

Di akhir bahagian, penulis buku ini menambahkan bahwa selain ancaman nilai-nilai patriarki sebagaimana tampak jelas dalam pemikiran Beauvoir, perempuan kini juga dicabar oleh kekuatan pasaran bebas yang untuk beberapa hal tidak jauh berbeza dengan budaya patriaki dalam soal menyempitkan ruang perempuan ke dalam kategori objek belaka, di tengah kegamangan kaum perempuan untuk terjun ke dalam ketegangan dan sifat dasar kebebasannya.

Karya ini cukup berhasil menyajikan pemikiran-pemikiran falsafah Simone de Beauvoir tentang praksis etika pembebasan perempuan dalam bahasa dan huraian yang cukup mudah dicerna tanpa harus kehilangan segi kedalaman kajiannya.

Buat mereka yang terjun di tahap gerakan (sosial) pembebasan perempuan, buku ini dapat menyuguhkan peta umum keadaan perempuan dengan berbagai kerumitan persoalannya, dan buat kaum perempuan sebagai individu, Beauvoir melalui karya ini memberikan semangat dan seruan untuk hidup lebih autentik dan hidup dengan menggali identiti dan kebebasannya.

Nota: Tulisan ini pertama kali dimuatkan di Jurnal Perempuan edisi 45, Januari 2006.

<–>

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: