jump to navigation

Hujan, Masa Kanak Yang Menepi Oktober 21, 2008

Posted by ummahonline in Cerpen, Seni.
trackback

Barangkali, beginilah hidup tanpa ghairah. Aku cuma bergerak antara tilam, jendela, dan meja belajar. Dikuasai rasa malas. Disedari, semenjak pukul 6 tadi, hidungku menempel di kaca jendela, sambil memandang hujan yang lebat di luar sana. Kubiarkan kaca mengembun lalu menghangati nafasku yang masih berbau mimpi. Kubiarkan tanganku menggarisi kaca, membentuk silangan-silangan, yang aku sendiri tak tahu, untuk apa?

Aku juga tak tahu, mengapa kemalasan ini begitu memenjarakan.

Bangun tidur tadi, badanku seperti menolak untuk bergerak. Kupandang langit-langit, kucari-cari imbasan mimpi, tapi ingatanku tak memberi satu pun maklumat. Pasti, aku tak bermimpi buruk. Tapi, juga bukan mimpi indah. Ah, barangkali aku tak bermimpi. Aku sering tidur tanpa mimpi. Dan kata Papa, itu tidur yang baik sekali. Aneh. Bukankah dalam hidup, sebelum tidur, kita kerap memohon mimpi?

Hujan masih semakin deras di luar sana. Di tanah, air yang jatuh dari atap genting, lalu membuat cekungan kecil. Beberapa ekor ayam, berkumpul di bawah pohon mangga, seperti kedinginan. Tapi di sebelah mereka, dua itik justeru mengepakkan sayapnya, bermain dengan hujan, bergembira.

Bergembira? Rasanya, sudah lama aku tidak merasakan hal itu. Dulu, kalau hujan begini, di halaman belakang, aku pasti bertelanjang, dan berlari, mengejar ayam. Kubiarkan tanah basah melukis pahaku, kadang sampai ke badanku. Kurasakan Papa yang tertawa, dan memerintahku untuk terus berlari, sepuas-puasnya. Terkadang Papa turun gelanggang, berseluar pendek dan ikut bergulingan di taman. Lalu kegembiraan itu kami berakhir dengan mandi, dari air yang dialirkan menerusi paip getah.

Yang dulu itu, kini telah hilang.

Hilang sejak Papa bilang, aku tak lagi molek mandi di taman, dan telanjang.

Hilang sejak Papa bilang, aku harus belajar jadi dewasa.

Dewasa? Betapa mengerikan. Aku kehilangan hujan. Aku tak dapat lagi mandi bersama Papa dengan semburan air itu lagi. Dan sejak itu, aku merasa hujan cuma mendatangkan kesamaran. Seperti pagi ini.

Haahh… masa kanak, mengapa cepat pergi. Sungguh, aku tak ingin jadi dewasa dengan cara begini, terasing di suatu pagi, dan memandang hari yang begitu kusenangi, hanya dari jendela ini. Silangan-silangan dari jari yang tanpa sengaja menggarisi kaca jendelaku ini, barangkali adalah garis nasib yang memotong masa kanakku menjadi seorang gadis.

Menjadi gadis, hmm… entah apa gunanya.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: