jump to navigation

Dewasa, Mencari Lelaki Oktober 24, 2008

Posted by ummahonline in Cerpen, Seni.
trackback

Papa sudah dari tadi mengetuk kamarku, dan masuk setelah aku izinkan. Matanya agak kaget melihatku belum cuci muka. Tapi, Papa kemudiannya tersenyum, dan ikut menempelkan keningnya di kaca jendela. Kami berjajaran, belum juga bicara. Kulirik, kaca di depan Papa pun mengembun, bau rokok yang samar kurasakan keluar.

“Ada apa, Ila? Mahu main hujan?” tanya Papa, tanpa mengalihkan wajah.

Aku mengangguk.

“Ila….”

Alah, Papa pasti tak melihat anggukanku. “Iya… tapi malu, Pa. Nanti pasti Papa menyindir, bilang Ila belum dewasa.”

Papa memaling, tersenyum. “Apa hubungannya hujan dan dewasa?”

“Ya ada, Pa. Papa kan tahu, Ila suka mandi hujan. Dari dulu. Dan kalau mandi hujan, Papa juga pasti tahu, paling enak itu telanjang. Nah, kalau Ila telanjang, Papa pasti marah, dan menganggap Ila kekanak-kanakan, atau edan. Iya, kan?”

Papa tertawa, bergelak. Jemarinya mengelus rambutku. “Hari ini tidak sekolah?”

Aku menggeleng. “Malas, Pa.”

“Ya sudah. Tapi jangan lama-lama malasnya.” Papa pergi, setelah mengelus pipiku. Aku tahu, Papa pasti menuju kamar adikku, bertanya ini-itu, selalu begitu sejak dulu.

Aku kembali terperangkap kemalasan. Tak tahu sebabnya. Jendela kubuka, angin yang basah segera menyerbu kamarku. Tapi kemalasan ini tak juga pergi. Aku tak akan sekolah. Ponteng. Tanpa surat kebenaran. Tak mungkin kan, menulis “malas” di surat kebenaran? Berbohong dan bilang sakit? Papa pasti akan marah.

Ihh… kenapa ya jadi begini, bahkan keluar kamar pun aku tak tergoda. Mama pasti sibuk di dapur sana. Membuat sarapan, meski sekadar telur mata kerbau atau dadar. Samar, angin menerbangkan bau dapur ke kamarku, memancing desingan usus di perutku. Sarapan? Malas ah!

Aku memang diizinkan Papa untuk tak sekolah, jika malas. Papa tidak pernah ingin aku melakukan sesuatu dengan terpaksa. “Kemalasan itu bukan dosa,” kata Papa, “Sepanjang tidak membuat orang lain jadi menderita.” Maksud Papa, aku boleh malas dan tidak melakukan apa pun, jika kemalasan itu tidak membuat rugi orang lain. Bersekolah misalnya. Cuma satu kemalasan yang tak diizinkan Papa, solat. “Malas pun, semalas-malasnya, kamu harus tetap solat,” pintanya. Itu harga mati. Aku tak pernah menawarnya, tak pernah berani.

Papa sesungguhnya ayah yang luar biasa. Meski sedikit bicara, tapi seluruh sikap Papa menunjukkan dia sangat care pada keluarga ini. Papa juga sangat menghargai hak peribadi. Ia tidak akan pernah berani masuk kamarku sebelum aku izinkan. Papa juga tak pernah membuka laci mejaku, telepon bimbitku, bahkan saku kemeja atau seluarku. Bagi Papa, sesuatu yang belum aku ceritakan, adalah rahsiaku. “Rahsia itu adalah harta berharga bagi setiap orang. Hanya kepada orang yang paling dia cintai, harta itu ikhlas dia bagi,” kata Papa.

Aku selalu tertawa jika Papa bicara begitu. Dan sambil kurangkul, selalu aku “sanggah” ucapannya. “Kalau Ila belum cerita, itu bukan bererti Ila tidak cinta Papa. Ila cuma menunggu, sampai cinta itu bertambah tua. Seperti Papa, hahaha….” Papa biasanya tertawa, dan memicit hidungku.

Papa juga tidak berusaha tampil sempurna. Kalau ke pasaraya, misalnya, Papa masih sering tergoda pada wajah-wajah cantik, dan menatap lama, terkagum-kagum. Papa tak pernah menyembunyikannya. Dulu aku pernah “marah” dan menegur Papa. Tapi dia cuma tertawa, demikian juga Mama.

“Kenapa Ila tidak marah kalau Papa juga memandang Ila, berlama-lama?”

“Lho, memang Ila cantik?”

Papa mengangguk, tersenyum.

“Tapi…, tapi kan Ila anak Papa.”

“Papa juga memandang mereka dengan mata seorang ayah….”

Halah!

Papa tergelak, demikian juga Mama.

Itulah Papaku, demikian dekat denganku. Aku kadang merasa bukan hanya menjadi anaknya, tapi juga sahabatnya. Bahkan, kemesraan Papa membuat aku kadang merasa menjadi “kekasihnya”.

Dan kedekatan itu mulai berubah. Papa bilang, aku harus mulai mengenal lelaki, yang bukan Papa. Lelaki yang seusia denganku, dengan emosi dan fikiran yang setara. “Lelaki yang kepadanya, kamu berani membahagikan sedikit rahsia.”

“Ila sudah punya, Papa.”

“Hah! Siapa?”

“Elang.”

“Lha, itu kan adikmu?”

Aku tertawa.

Papa ingin aku tidak berada terus dalam wajah Papa sebagai lelaki yang “sempurna”. Papa bilang, kalau aku masih selalu membandingkan seorang lelaki dengan Papa, itu ertinya aku belum dewasa. “Perempuan yang dewasa Ila, sudah dapat lepas dari bayang ayahnya. Menerima lelaki lain tanpa membuat bandingan. Kamu harus lakukan begitu.”

“Papa ingin aku punya pasangan?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Papa ingin kamu punya teman lelaki agar kamu dapat belajar berurusan. Percayalah, makin banyak kamu kenal teman lelaki, kamu akan tahu betapa menarik fikiran mereka. Mengenal mereka membuat kamu tidak akan terpedaya, Ila.”

“Apakah lelaki suka memperdaya, Papa?”

“Untuk wanita cantik, iya?”

“Papa juga sering, kan?”

“lol, begitu ya?”

“Ila kan cantik. Juga Mama.”

Papa tertawa, begitu kerasnya.

Yah, aku memang harus mengenal lelaki. Hmm… tapi siapa ya? Ray? Tidaklah, dia tidak mengasyikan. Heru? Ah, dia masih kekanak-kanakan. Viktor? Tak mahulah, dia Batak. Hahaha… apapun juga hubungannya. Sudah-sudah si Galang saja. Anaknya pendiam, penyendiri, dan suka puisi. Dia agak mirip Papa. Aduh, masih “mencari” yang mirip seperti Papa? Tidak, tidak boleh. Lalu siapa?

Papa….. Ila bingung niihhh!

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: