jump to navigation

Kayangan Kirmizi (1) Oktober 25, 2008

Posted by ummahonline in Cerpen, Seni.
trackback

Khadijah mendadak bangkit dari tempatnya. Sebuah perasaan menakjubkan menjalar dari dalam diri. Sebuah perasaan yang dihimpit kegembiraan dan harapan, bagaikan cahaya yang menyeruak membelah kegelapan.

Dia berfikir, “Dari arah manakah datangnya arus yang tenang dan menyenangkan ini?”

Setiap kali ia memikirkannya, tidak juga diperoleh jawapan yang jelas. Kini, apapun yang berhubungan dengannya akan membawanya kepada kesedihan, kegelisahan, kepahitan dan keputusasaan.

Dia menyaksikan dengan matanya sendiri, bagaimana Quraisy menyakiti, menzalimi, menghina dan menganggap suaminya sebagai pembohong. Walhal, ia adalah insan yang terpercaya, al-Amin.

“Mungkin ini petanda kehamilan yang baru. Kehamilan dari musim semi—harapan dan kehidupan!” fikir Khadijah menduga kemungkinan.

Lantas, bagaimana? Bukankah sebelumnya Abdullah dan Qasim wafat dalam waktu yang singkat setelah dilahirkan?

Kejadian itu mencengkamnya dalam kesedihan yang mendalam. Kesedihan tersebut seperti luka yang selalu baru. Terukir dan bersemayam di dalam jiwanya yang terdalam.

Tiba-tiba, sesuatu menghampiri fikirannya, “Tidak! Dia adalah harapan.”

Khadijah merasakan harapan dan asa di dalam jiwanya. Bak mekarnya musim semi, tergambar wajah yang memiliki kemuliaan dan keagungan.

Kehamilan ini ia rasakan ringan seperti terbang melayang. Diselimuti ketenangan ibarat mata air yang mengalir jernih dan segar untuk diminum.

Rasa itu berbaur dengan lingkaran cahaya bening dan lembut menyeluruhi wajahnya. Kehamilan itu memberinya tanda yang lain; seleranya hanya tertuju pada kurma dan anggur segar, dan bukan pada yang lain.

Dalam keadaan dan udara tersebut, Khadijah memakai pakaian lengkapnya. Hanya suaminya yang kini menanti kedatangannya; dan suaminya pula disertai anak saudaranya.

Kemudian, mereka bertiga bergerak menuju Ka’bah; kiblat kerunduan seluruh hati; rumah yang dibangun dan didirikan Ibrahim as yang diperuntukan bagi Tuhannya. Keheningan mulai mengitari sekeliling tanah Ka’bah yang luas.

Hanya bisikan dan suara halus terdengar dari kedua lelaki yang sedang duduk di tepi Zam-zam. Salah satu dari kedua lelaki tersebut, terpegun melihat kea rah Dar al-Shafa.

Sebuah pemandangan terlihat menakjubkan baginya. Seorang lelaki, yang usianya tampak 40-50 tahun dengan pandangan berbinar dan matanya yang besar serta hitam bak rembulan, berjalan perlahan di atas muka bumi.

Di samping kanannya, seorang pemuda bak anak singa. Di belakang keduanya, tampak seorang wanita yang membungkus tubuhnya dan rambutnya yang panjang.

Ketiganya berjalan ke arah Hajjarul Aswad. Setelah mengusap serta menciumnya, mereka thawaf, mengelilingi Ka’bah. Kemudian, lelaki agung tersebut berdiri di salah satu sudut diikuti pemuda di samping kanannya, dan dibelakangnya seorang wanita.

Lelaki bermata hitam mengumandangkan Allahu Akbar. Pemuda dan wanita itu juga menuruti kalimat Allahu Akbar. Lelaki tersebut dengan wajah bercahaya melaksanakan ruku’ serta sujud yang diikuti oleh wanita dan anak muda tersebut.

Di sisi Zam-zam, seorang yang baru tiba berbisik, “Cara ini, hingga kini aku belum pernah mendengar tentangnya.”

Seorang lelaki dari Bani Hashim mendengar ucapanya, lalu berkata, “Lelaki itu adalah Muhammad putera saudaraku, Abdullah, wanita itu ada isterinya. Dan pemuda itu adalah Ali, putera Abu Thalib. Sekarang di seluruh jagad raya ini, tidak ada seorang pun, kecuali tiga orang tersebut yang menyembah Tuhan dengan cara demikian.

Kerananya, kebencian merambat bdi seluruh wajah orang yang berada di sekitarnya. Orang-orang mengawasi kelompok kecil tersebut hingga mereka meninggalkan Ka’bah dan lenyap di balik tembok-tembok rumah.

Hari demi hari, dan bulan demi bulan berlalu. Setiap saat janin yang dikandung Khadijah menjadi lebih besar. Dari wajahnya, terpancar cahaya dan setiap saat semakin berkilau. Sakitnya persalinan telah dirasakannya.

Menghadapi keadaan masyarakat ketika itu, Muhammad merenung dan memikirkan di antara bebatuan Hira’ tentang Makkah dan perjalanan semesta dan manusia. Wajahnya penuh dengan kesedihan seperti langit yang dibalut awan.

Larut memikirkan dan merenungkan kaumnya hingga ia menderita dan sedih. Ia berkeinginan menarik mata mereka ke arah satu cahaya yang ia peroleh di puncak gunung.

Namun, mereka menutup seluruh jalan baginya. Mereka berkebiasaan bak kelalawar yang membuat onar dalam kegelapan. Mereka berpaling dari langit malakut dan jatuh ke permukaan bumi, dan kini sirna di antara unsur-unsur debu dan tanah lahat.

Masyarakat ini, sama sekali tidak berhenti dari satu pekerjaan; menyakiti, melecehkan, dan menghinanya. Lalu, mereka berkata, “Muhammad adalah penyihir yang pembohong dan dia adalah lelaki yang tidak sempurna kerana tidak memiliki keturunan dan dengannya kematingannya kenangan tentangnya akan sirna kerana ia sama sekali tidak memiliki anak.”

Dengan mengingat celaan tersebut, ia merasakan sebilah belati tajam bersinggah di hatinya. Muhammad seperti Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa yang selalu resah emmikirkan umatnya. Dalam keadaan tersebut, ia tenggelam dalam renungan hingga ia tidak memperhatikan apa yang berkaitan dengan dirinya.

Mendadak cakrawala terbungkus oleh cahaya. Hijab yang bening seperti kabut menguasai sekelilingnya. Hening menelan segela sesuatu. Segala keramaian terdiam dan beku.

Sekarang, hanya Muhammad seorang diri yang mendengar kalimat-kalimat yang mengalir di kedalaman jiwanya. Seperti cahaya yang masuk ke dalam air yang menyerupai cermin.

Kalimat-kalimat yang dalam akan menyentuh, membuat air ludah pendengarnya mongering dan peluh bercucuran dari keningnya. Kalimat-kalimat itu seperti butiran-butiran permata yang bertebaran, menyerupai bintang yang bercahaya.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya, orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” – (al-Kauthar: 1-3)

Rasul kembali ke rumahnya dengan kegembiraan ketika ia melihat isterinya. Ia mengetahui bahawa isterinya pun dalam kegembiraan. Khadijah dengan mata yang penuh kasih saying memandang kepadanya dan dengan suara yang bercampur penyesalan berkata,

‘…Aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak lelaki tidaklah seperti anak perempuan…”– (al-Imran: 36)

Demikianlah, seperti mutiara dalam dekapannya. Fathimah lahir dengan bibir seperti putik bunga; mungil dan lembut. Bibirnya terbuka bak dua jendela yang mengangga mengadap semesta. Alam semesta diliputi pula dengan keheningan dan ketenangan.

Kini terpancarlah harapan di atas sebuah rumah kecil, dari sekian rumah yang ada di Makkah. Fathimah telah membuka matanya di dunia bak bunga yang bermekaran di muka bumi.

Kemudian, ia tumbuh dalam dekapan yang hangat dan dari setiap hati yang terdetak. Hati yang dipenuhi kecintaan terhadapnya, serta dengan perhatian yang bergelimangan kasih saying dan kelembutan.

Dengan cara demikianlah, Fatimah tumbuh membesar. Perlahan ia memahami apa yang diberikan lingkungannya. Ia menyaksikan berulang kali ibunya tenggelam dalam kesedihan. Seringkali ia meihat ayahnya tertekan oleh kesulitan dan penderitaan. Namun, hingga saat itu ia belum memahami apa akar dari kesulitan-kesulitan tersebut. Kalau keadaan seperti itu terjadi, ia segera membentangkan kedua tangan ke arah ibunya dan mendekap erat keduanya.

Dengan begitu, wajah sedih kedua orang tuanya berubah menjadi kerinduan yang mendalam. Menerbitkan cahaya kegembiraan dari kedua wajah mereka. Tampak seperti suria yang bersinar di sebalik awan hingga memenuhi bumi dengan kehangatan, cahaya dan harapan.

Hari-hari berlalu. Fathimah tumbuh membesar. Hari-hari menmapakkan raut kesulitan dan kesusahan di hadapannya. Anak kecil ini hidup bersama ibunya di tanah yang kering dan tandus saat kelaparan, ketakutan, dan kemiskinan yang berada di puncaknya.

Ia mendengar jeritan orang-orang yang dizalimi. Di tengah kegelapan ia melihat pedang-pedang yang perlahan-lahan terbangun dari tidurnya. Fathimah pun terpaksa menjejakkan kakinya di atas kerikil-kerikil Syi’ib Abi Thalib dan menderita di dalamnya. Walhal, ia masih memerlukan susu. Selama setahun keadaan itu dialaminya.

Setelah itu, ia pun menetap di syi’ib (lembah) dua tahun berikutnya. Tiba-tiba, jemari takdir merenggut ibunya. Fathimah kehilangan mata iar yang bergelimang dengan kecintaan dan kasih saying.

Fathimah dalam pencarian ibunya, lalu bertanya kepada sang ayahnya yang sedih atas kehilangan tersebut, “Wahai ayah, di manakah ibuku?”

Sang ayah yang tertimpa musibah dalam keadaan menahan kenangan berharga di dalam dadanya, membalas, “Ibumu berada di sebuah rumah yang terbuat dari yaqut yang di dalamnya tidak tampak kesusahan dan musibah.”

Si anak terus keheningan. Memikirkan tentang ibunya. Matanya, tanpa hasil, dalam pencarian mata air langit tersebut.

Benar. Fathimah tumbuh membesar dalam masa-masa yang tidak menguntungkan. Hari-harinya sulit. Hari-hari hidup sebagai yatim dan masa-masa kesendirian.

Oleh kerana itu, Fathimah seperti pohon yang patah. Tubuhnya yang sakit dan kurus tumbuh menjaid remaja. Lewat matanya yang lebar, terlukis sebuah hamparan keheningan dan ketenangan.

Ketika itu, ia larut dalam renungan. Ia menyerupai para nabi yang menenggelamkan seluruh jiwanya dalam solat.

Fathimah tumbuh terbina dalam keadaan dan hari-hari yang penuh dengan kekurangan makanan dan keheningan. Bak pohon yang menghujamkan akar-akarnya yang dalam dan kukuh ke jantung bumi, ia tumbuh besar.

Kerananya, ia tampak lebih tua dari umurnya sendiri. Ia gantikan kedudukan ibunya yang kosong. Seorang puteri kecil yang menadi ibu yang penuh kasih sayang bagi ayahnya yang ditinggal sendirian.

Hari-hari telah berlalu hingga satu masa. Orang-orang yang tersisih di Syi’ib Abi Thalib dan yang berada di Makkah kembali menjadi hidup dalam kesusahan dan penderitaan hingga sejarah baru dimulai. Sebuah sejarah yang bersemi saat berada di gua Hira’—tempat langit dan bumi bertautan.

Komen-komen»

1. Hypecottota - November 13, 2008

??????? ?? ????! ??????? ???? ? RSS-?????, ?????? ?????? ???? ?????????..


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: