jump to navigation

Biar Tergugat, Asal Tetap Berhala Disember 11, 2008

Posted by ummahonline in Artikel.
trackback

Falsafah lazimnya dimaknai sebagai ikhtiar ”memburu” kebenaran. Memburu hingga ke hujung yang paling hulu. Di sanalah kapal filsuf yang setia berlayar bakal berlabuh. Bila kebenaran hulu telah direngkuh, berakhir pulakah kelananya yang jauh?

Sepertinya tidak. Tidak seorang pun yang sebenarnya sungguh-sungguh dapat menggapai kebenaran hulu itu. Makin jauh mereka bergerak menuju hulu, biduk yang mereka kayuh justeru makin terseret ke hilir. Sebagaimana amsal para penggali sumur yang berharap hendak menemukan mata air. Akan tetapi, makin digali, sumur malah terasa makin dangkal. Seolah-olah mata air kebenaran itu tak pernah ada.

Kebenaran seakan-akan mengelak setiap usaha yang mahu menghampirinya. Inilah masalah rasionaliti moden yang telah melahirkan ”anak kandung” bernama logosentrisme. Cara berfikir yang selalu bergerak menuju sebuah telos dan arkhe transendental. Sebuah metafizik yang mengagungkan fikiran (cogito), Diri, Tuhan, Ada (being) sebagai hulu kebenaran, sebagai pusat yang stabil dan kukuh.

Tabiat berfikir macam ini mendedahkan sebuah anggapan yang dalam terminologi Jacques Derrida (1930-2004) disebut metaphysics of presence (Metafizik Kehadiran), yang mendaulatkan logos (kebenaran transendental) di sebalik semesta fenomena. Dalam teks, utamanya teks sastra, kehadiran logos begitu nyata dan kentara lewat hadirnya pengarang (author). Subyek yang memiliki autoriti terhadap makna. Lebih jauh, Derrida menganggap ”kehadiran pengarang” sebagai logos itu sendiri.

Inilah yang hendak dirobohkan filsuf itu gagasan: dekonstruksi. Agar makna (kebenaran) tak terpasung dalam ”kuasa tunggal” pengarang. Di tangan Derrida, falsafah sebagai perburuan mencari kebenaran bergeser menjadi ikhtiar penafsiran terhadap teks.

Teks, seumpama tenunan kain, terbentuk dari untaian-untaian benang yang jalin-menjalin tak terhingga banyaknya. Makna (kebenaran) ada dalam kerumitan tenunan itu. Dalam situasi itu, tidak ada lagi pusat dan hulu. Tak ada oposisi bineriknya: pinggiran. Semua dapat berkedudukan pusat dapat berkedudukan pinggiran.

Ketaklaziman cara berfalsafah Derrida yang hendak meruntuhkan tradisi logosentrisme itu antara lain dipetakan oleh Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya Derrida (2005). Lewat pembacaan teliti, sabar, dan hati-hati terhadap karya-karya Derrida (Of Grammatology, Writing and Difference, Dissemination, Margin of Philosophy), Fayyadl berhasil menggambarkan betapa tradisi logosentrisme falsafah pencerahan telah runtuh dan sedang di ambang kehancuran.

Selain menghadirkan Derrida sebagai ”masalah”, Fayyadl juga membangun pembelaan terhadap sosok kefalsafahan Derrida yang memang tak disambut ramah kalangan pendukung logosentrisme. Keberatan utama terhadap dekonstruksi adalah kerana ”kaedah” (sekaligus anti-kaedah) itu cenderung relatif.

Banyak yang menuduh proyek prestisius Derrida itu tak lebih dari intellectual gimmick (tipu-muslihat intelektual) yang tak berisi apa-apa selain permainan kata-kata. Oleh kerana itu, berkali-kali Fayyadl menegaskan bahwa dekonstruksi tak bermaksud menihilkan, apalagi menafikan makna (kebenaran). Makna tetap ada, tetapi ia tidak mungkin dicapai dengan sebuah rumusan mutlak. Cuma saja, penekanan dekonstruksi bukan pada makna, melainkan pada proses meraihnya.

Bila Derrida memaklumatkan afirmasi terhadap ”yang lain” (the Other) dengan menolak kehadiran pengarang (kuasa tafsir tunggal) dalam teks, bagaimana cara menemukan makna (kebenaran) pada sebuah peristiwa pembunuhan? Bukankah Derrida meniscayakan ”tak ada sesuatu di luar teks” (il n’y a pas de hors-texte)?

Ini berarti, seluruh semesta fenomena adalah teks, termasuk peristiwa pembunuhan di atas. Bagaimana cara menemukan pelaku (makna) bila si pembunuh (pengarang) telah disingkirkan? Pelaku harus hadir, bukan? Dilema ini tak sempat ditelaah Fayyadl. Ini akibat terlalu sibuk membela pembacaan dekonstruktif Derrida, hingga abai pada ”masalah” dekonstruksi yang tak kunjung terselesaikan itu.

Cara berfikir Fayyadl tampaknya sangat terpengaruh oleh ”pola permainan” Derrida. Padahal, istilah ”permainan” tanda-tanda dalam teks itu masih bermasalah. Bukankah dalam sebuah permainan masih ada logik kalah-menang?

Derrida belum terbebas dari perangkap oposisi biner yang hendak ditolaknya. Mungkinkah penafsiran teks ditempuh tanpa pretensi (tanpa tujuan, tanpa telos)? Tendensi penafsiran mutlak ada, yakni; makna (kebenaran). Meski, makna itu bukan sosok kebenaran tunggal. Bukan makna yang stabil dan tak sendeng.

Maka, pembacaan dekonstruktif Derrida ibarat permainan bolasepak yang paling ironi sepanjang sejarah. Semua pemain dari kedua pasukan dilarang untuk menciptakan gol. Para pemain hanya boleh menggiring bola, mengelecek, dan memberi umpan-umpan silang. Misalkan Fayyadl salah satu pemain dalam pertandingan itu, tentu ia akan bermain secantik mungkin.

Sialnya, ia akan selalu terhalang untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Sebab, dalam logic dekonstruksi tak boleh ada gol (telos). Bila ceroboh dan tidak mampu ”menjinakkan” hasrat ingin menang, dikhuatirkan pemain akan menjaringkan gol sendiri, iaitu menendang bola ke gawang sendiri. Senjata makan tuan. Dekonstruksi (yang berperilaku meruntuhkan) akhirnya merobohkan tatanan analisis komprehensif yang susah-payah dibangun Fayyadl sejak mula. Sia-sia ia menghadirkan Derrida sebagai ”masalah”. Hujung-hujungnya, Derrida malah tegak sebagai ”berhala”….

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: