jump to navigation

Benarkah Kemiskinan itu Mengancam? Januari 1, 2009

Posted by ummahonline in Catatan Kaki, Kolum.
trackback

Hidup sederhana
Gak punya apa-apa tapi banyak cinta
Hidup bermewah-mewahan
Punya segalanya tapi sengsara
Seperti para koruptor
Seperti para koruptor

(Seperti Para Koruptor, Slank)

Di Harian Kompas edisi Minggu 5 Oktober, ada judul yang menarik: Ketika Kemiskinan Mengancam. Itulah judul resensi filem Doa yang Mengancam, karya mutakhir Hanung Bramantyo. Masalahnya, apakah memang kemiskinan itu adalah ancaman?

Apakah itu kemiskinan, ataukah mentalitas dan respons masyarakat terhadapnya, yang merupakan ancaman? Kerana tulisan di atas memberikan contoh lewat filem, artikel ini juga akan memeriksa judul resensi di atas lewat filem-filem lainnya.

Jelas sekali kemiskinan tergambar dalam Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008). Tetapi apakah ia menjadi sebuah ancaman yang membuat orang yang mengalaminya bergidik ketakutan akan putus sekolah dan kemudian menjadi kuli atau apapun untuk keluar dari kondisi kemelaratan? Tidak terlihat ada keluhan apa pun dari ke 12 anak-anak Belitong, mau pun para guru dan orang tua yang ada di sana. Itu kerana prinsip “Hidup adalah memberi sebanyak-banyaknya, bukan meminta sebanyak-banyaknya” benar-benar diterapkan dalam hidup mereka. Dan, mereka siap berkorban apapun demi cita-cita dan harapan yang jauh lebih mulia bahkan dari diri mereka sendiri.

Mereka sedar, kemiskinan harus dijalani, dan hanya dengan pendidikan mereka boleh mengatasinya. Kerana itulah, alih-alih menjadi buruh atau nelayan membantu meringankan beban orang tua, mereka (didorong untuk) terus bersekolah–hal yang aneh pada saat itu. “Buat apa sekolah, kalau akhirnya jadi buruh juga,” celetuk salah satu dari pegawai PN Timah di awal filem. Tetapi, kemiskinan tidak serta merta membuat hidup mereka merasa penderitaan, kesengsaraan, atau derita. Serba kekurangan, banyak halangan dan rintangan, tentu saja hadir senantiasa. Tapi membuatnya menyalahkan keadaan atau bahkan meninggalkan bangku sekolah, atau bahkan Tuhan dan menghalalkan segala cara demi keluar dari garis kemiskinan.

Badut-Badut Kota (Ucik Supra, 1993), salah satu contoh filem terbaik tentang bagaimana manusia modern Indonesia menyiasati kemiskinan. Sang tokoh utama, Dedi dan Menul, begitu bijak dan sabar dalam menghadapi keserbakekurangan hidup–termasuk dimarahi Bu Kapten, sang pemilik rumah kontrakan, di depan banyak orang kerana menunggak bayar.

Tapi mereka masih memiliki humor. Sang anak memanggil Dedi dengan “Daddy”, plesetan namanya yang juga berarti ayah. Jika ingin berhubungan badan, mereka memakai istilah “pusing”. Dedi menjadi badut Ancol, sekadar untuk bertahan hidup, walau masih tak mencukupi. Tetapi dia masih terus berakhlak mulia, bahkan tetap jujur dengan mengembalikan dompet seorang kaya. Justru kejujuran itu yang membawanya pada pintu rezeki. Yang menarik adalah sosok filsuf nyentrik, rekannnya membadut yang menyatakan dengan sok merenung dan sok getir bahawa: “Sungguh Keterlaluan! Sungguh keterlaluan kemiskinan kita!”, tetapi tetap menyatakan bahawa usaha untuk keluar dari kondisi prihatin itu adalah dengan…tetap berfikir.

Si Mamad (Sjumandjaya, 1973) juga bercerita tentang pegawai negeri yang miskin tetapi tetap mempertahankan kejujuran dan nilai-nilai moral. Semangat kisah tentang seorang tua renta itu sekilas mengingatkan pada Ikiru (Akira Kurosawa, 1952) dan Umberto D (Vittorio de Sica, 1952). ia adalah satu-satunya orang yang tidak korupsi di kantornya. Hingga suatu saat istrinya hamil muda, dan ia terpaksa mencuri barang kecil-kecilan seperti ATK. Namun, justru di situlah tragedi terjadi. Dirundung rasa bersalah yang amat sangat, ia tak peduli lagi dengan kebutuhan hidup keluarganya, bahkan ia mengaku ke atasannya bahawa dia korupsi dan minta dihukum. Baginya, nilai-nilai moralitas dan spiritualitas di atas nilai materialistik.

Cemeng 2005 atau The Last Primadona (N Riantiarno, 1995) berkisah tentang rombongan kesenian tradisional. Menjelang akhir, digambarkan Nurkatonah dan Badri, dua orang yang tertinggal dari kelompok yang bangkrut itu, begitu tegar kerana memperjuangkan sebuah idealism e dan cita-cita yang luhur, mempertahankan tarian tradisional, walau harus mengamen dan hidup terpuruk.

Rindu Kami Pada-Mu (Garin Nugroho, 2004) dengan jelas menegaskan bahawa masyarakat urban di perkampungan tidak saja mencoba menjalani hidup apa adanya dengan berbagai usaha tanpa kenal lelah dan keluh, tetapi juga meninggikan semangat solidaritas dan gotong royong.

Misalnya, para tetangga yang mau mudik menitipkan kunci rumah dan bahkan ayam kepada pemilik warung dan penjaga masjid. Alih-alih saling menjegal dan menyikut, mereka saling bantu membantu dan tolong menolong. Dan sentilan-sentilan kritik sosial juga hadir. Misalnya, celetukan bahawa orang-orang lebih suka menyepuh emas dan berbelanja baju baru untuk berlebaran daripada mengeluarkan uang untuk sumbangan pembangunan masjid. Kemiskinan tidak membuat mereka nafsi-nafsi, saling menginjak, atau mengubah watak idealisme mereka menjadi makhluk pencari untung semata.

Tapi, bukankah konteks judul di atas adalah pembahasan soal filemnya Aming terbaru itu? Benarkah, di filem Doa yang Mengancam, kemiskinan itu sungguh mengancam dan menjadi sebuah alasan untuk melakukan hal-hal yang mengubah seseorang menjadi murtad, penyembah setan, atau menjadi jenayah, menghalalkan segala cara, pendek kata: menjadi jahat dan berlaku buruk?

Kalau kita melihat separuh jalan pertama, jawabannya iya. Bagi Madrim, sang tokoh utama, ia harus menjadi kaya raya agar boleh mendapatkan cinta Leha, istrinya, kembali–juga menjadi solusi bagi seluruh persoalannya. Tetapi, setelah kemiskinan menjadi kekayaan, dan uang berlimpah, apakah ia mendapatkan kebahagiaan yang didapat? Apakah persoalannya terselesaikan? Ternyata, di paruh terakhir, penonton disuguhi sebuah hikmah bahawa kebahagiaan spiritual lebih baik dari kebahagiaan material (uang, kekayaan), bahkan emosional (cinta , dihormati, dihargai)–jika kita memakai kategori dari pelatihan ESQ (kecerdasan emosi dan spiritual).

Ternyata di filem itu, bukan kemiskinan yang menjadi ancaman yang sebenarnya. Kerana saat Madrim kaya raya, ternyata ia merasa hampa dan uang bukan jawaban. Justru perenungannya terhadap kemiskinan, dan kejadian-kejadian aneh yang menimpanya membuatnya melakukan semacam perjalanan spiritual untuk meraih kebahagiaan yang menembus dari sekadar kekayaan dan kekuasaan. Sebenarnya, ia rindu akan istrinya, yang justru menjadi sumber awal segala cerita.

Ternyata , masalahnya bukan terletak pada kondisi obyektif kemiskinan itu sendiri. Tetapi pada respons, perilaku, dan pandangan-dunia sang manusia terhadap fenomena bernama kemiskinan. Jika manusianya punya visi dan misi yang mulia yang ingin dicapai, ingin mempertahankan nilai-nilai luhur seperti kejujuran dan pengorbanan (altruisme, itsaar), dan mencari kebahagiaan hakiki, maka kemiskinan bukan sebuah ancaman. Atau jika sang pejalan kehidupan itu boleh memaknai hidup (seperti diajarkan Victor Frankl lewat Logoterapi) lewat nilai-nilai kreatif, nilai-nilai penghayatan, dan nilai-nilai bersikap, seperti yang terpapar di filem-filem di atas.

Hal ini sejalan dengan ide KH Jalaluddin Rahmat dalam bukunya Meraih Kebahagiaan. Intinya: bahagia atau menderita itu pilihan. Musibah, seperti kehilangan anak, kebakaran rumah, penyakit, kecelakaan, kemelaratan, penghinaan, pengkhianatan, berasal dari luar dan sebuah keniscayaan atau realiti obyektif. Tetapi kebahagiaan bersifat subyektif. orang miskin boleh memilih apakah dia merasa tertekan atau bergembira dalam kondisi yang sama.

Jadi, sebenarnya bukan kemiskinan yang adalah realiti objektif itu yang menjadi ancaman. Tapi pandangan dunia dan reaksi masing-masing orang dalam menghadapi dan menyiasati musibah seperti kemelaratan. Wallahua’lam.

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: