jump to navigation

Potret Busana Muslimah Dalam Kehidupan Masyarakat Aceh April 7, 2009

Posted by ummahonline in Kolum, Nanggroe Aceh.
trackback

acehMuqaddimah

Semua muslimin yang mukminin menyadari, mengakui dan mengamalkan pemakaian busana Islam yang khusus bagi muslimah disebut busana muslimah. Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31 dan Al Ahzab 59. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (An-Nur ayat 31). Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada] ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al Ahzab 59).

Landasan tersebut di atas sifatnya muthlak dan tidak boleh dilanggar karena itu perintah Allah. Dalam kehidupan muslimah di zaman nabi juga mengamalkan perintah tersebut sehingga mereka menutup aurat sebagaimana ketentuan itu. Dalam perjalanan kehidupan muslim akhir zaman kebanyakan mereka mencoba menafsirkan berbeda dengan kepastian ayat tersebut sehingga ada yang beranggapan busana muslimah itu bukan perintah Allah, tetapi sekedar budaya orang-orang Arab zaman dulu.

Potret busana muslimah aceh

Di Aceh, dari dahul sebelum Aceh menjadi bahagian daripada Indonesia, budaya menutup aurat bagi kaum muslimah sudah ada. Namun ia sangat tergantung kepada zaman atau masa yang berkaitan dengan kelaziman kehidupan pada masa tersebut. Umpamanya; kita melihat gambar Pocut Baren, Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan lain-lain yang tidak berjilbab penuh, ini sangat terpengaruh oleh kondisi dan situasi pada zaman kehidupan mereka yang belum memliki jenis pakaian seperti hari ini, khususnya jilbab. Namun kita dapat melihat bahwa pakaian mereka semua lumayan rapi dengan menutup semua auratnya sampai ke leher kecuali kepala.

Pada zaman pra kemerdekaan busana muslimah Aceh umumnya masih mengandung nilai dan kebiasaan tradisional yang menutup aurat (khususnya kepala) dengan kain batik panjang sehingga terkesan menyibukkan dan tidak praktis. Suasana semacam ini lebih dominan terjadi di dayah-dayah tradisional dan juga dalam kehidupan masyarakat kampung. Sementara dalam kehidupan masyarakat kota pemakaiannya sedikit lebih praktis dan nampak bersahaja.

Beberapa tahun pasca kemerdekaan kondisi semacam ini masih wujud namun untuk murid-murid sekolah dan isteri-isteri para pejabat negara sudah mulai menggunakan busana muslimah yang agak praktis seperti memakai baju panjang dan menutup kepala dengan kain jilbab seperti kelihatan hari ini. Namun demikian ketika Aceh menjadi bahagian daripada Indonesia di bawah rezim Orde Lama dan Orde Baru busana muslimah Aceh mulai terpengaruh oleh sistem nasionalisme Indonesia yang sekuler.

Pengaruh nasionalisme

Selama berada dalam rezim Orde Lama pimpinan Soekarno, persoalan pakaian wanita tidak pernah diatur mengikut ketentuan Islam. Ia lepas begitu saja dan siapa yang mau berpakaian apa silahkan saja. Pada zaman Orde Baru pimpinan Soeharto bukan tidak diatur seperti itu, malahan anak-anak sekolah ada yang dikeluarkan dari sekolahnya karena memakai busana muslimah seperti yang terjadi di Sekolah Teknik Menengah (STM) Bireuen di awal tahun delapan puluhan.

Semua itu sangat terpengaruh oleh pemikiran sekuler yang dimiliki pemimpin negeri tersebut pada masa itu. Karena Aceh menjadi bahagian dari Indonesia maka pengaruh sekularisasi dan nasionalisasi tersebut juga melanda Aceh. Selain itu ada juga perempuan-perempuan Aceh yang tidak mantab iman dan akhlaknya yang senang dengan cara hidup kaum nasionalis dan sekularis sehingga pro-kontra busana muslimah di Aceh menebal pada waktu itu.

Walaubagaimanapun, adopsi Aceh kedalam wilayah Indonesia dapat merugikan Aceh bukan hanya pada persoalan busana muslimah tetapi juga menyangkut dengan pendidikan, hukum, moral dan lainnya. Walhasil sudah lebih tujuh tahun Syari’at Islam diisytiharkan di Aceh, persoalan busana muslimah belum lagi tuntas malah akhir-akhir ini ia semakin menantang. Yang patut disayangkan semua itu dimulai oleh mereka yang puya kewajiban menegakkan hukum atau mensuppot tegaknya hukum di Aceh. Akhirnya muslimah Aceh terus terbelah dua dalam berbusana, ada yang komit dengan busana muslimah dan ada pula yang komit dengan busana nasional Indonesia yang jauh dari model Islam.

Khatimah

Kalau kita mau evaluasi total maka yang harus diperbaiki adalah sistem pemerintahan, sistem pendidikan, hukum dan moral. Itu pilar-pilar utama yang menyebabkan semua itu berlaku. Sistem pemerintahan, pendidikan dan hukum masih erat sekali hubungannya dengan apa yang ditinggalkan Belanda yang kafir. Sementara sistem moral Indonesia tidak pernah merujuk kepada moral Islam (Akhlak karimah) secara sempurna. Jadi susahlah mengatur pemakaian muslim-muslimah Aceh dalam bingkai Indonesia. Kalau persoalan jilbab yang sering didiskusikan terkesan seolah-olah pakaian lelaki muslim sudah sempurna, padahal sangat banyak lelaki muslim di Aceh yang membuka aurat seperti memakai celana pendek di atas lutut, lelaki pergi ke sana kemari tanpa pakai baju dan sebagainya.

Untuk memastikan format baku busana muslimah Aceh dapat kita simpulkan bahwa; pada dasarnya muslimah Aceh suka menutup aurat dengan cara mereka masing-masing sesuai dengan zaman dan masa kapan mereka hidup. Namun gangguan nasionalisme Indonesia membuat pasang surut komitmen busana muslimah itu terjadi setiap masa. Dan itu terkadang terjadi secara alami, dan ada pula yang terjadi melalui proses pendidikan dan sistem pemerintahan yang tidak memihak kepada Islam. Wallahu a’lam…

Nota: Hasanuddin Yusuf Adan merupakan Ketua Umum Dewan Dakwah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Komen-komen»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: