jump to navigation

Mazhab Frankfurt – Adorno, Horkheimer, Marcuse et all Februari 8, 2010

Posted by ummahonline in Editorial, Kolum.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

institut

Frankfurt, di mana berdirinya Institut fur Sozialforschung, di mana berdirinya Universitat Frankfurt, iaitu almamater-nya bagi banyak filsuf. Di kalangan filsuf ini, nama Frankfurter Schule (Mazhab Frankfurt/Sekolah Frankfurt) memang cukup mekar.

Tapi, sebenarnya apa yang ada pada Mazhab Frankfurt ini? Di sana, ada satu kata, iaitu Teori Kritis atas Masyarakat (eine Kritische Theorie der Gesselschaft), atau Teori Kritis saja–begitu mereka memanggilnya sendiri. Kata ini, adalah jawapan pada keengganan mereka menerima kata Mazhab Frankfurt. Walau bagaimanapun, nama Mazhab Frankfurt tetap hidup, dan paling mudah untuk dikenal. Tapi, siapa yang berbaris dalam mazhab ini? Ada Adorno, Horkheimer, Marcuse, juga disusuli Fromm, Benjamin, Pollock, Neuman, Kracaeuer, Habermas, dll. Nama-nama ini, semenjak 1930-an—terutamanya Habermas yang dianggap generasi kedua Teori Kritis–bukanlah nama terkenal. Namun, pada dekad-dekad kemudiannya, terutama-nya 1960-an kian menjadi sebutan, terutamanya dari kalangan anak-muda. Ketika tahun 1961 juga, ada sebuah debat besar antara kalangan Positivisme yang diwakili Popper dan Albert, dengan Teori Kritis sendiri, yang diwakili pula Adorno dan Habermas. Debat itu dikenali, Der Positivismusstreit in der deutschen Soziologie (perdebatan positivis dalam sosiologi Jerman), dan dari sini memuncakkan lagi nama Teori Kritis.

Baik, barangkali lebih meriah untuk kita jelajah satu demi satu, terutamanya tiga nama tersebut. Dari sana, kita lihat apa idea-nya, dan apa kritikannya.

Adorno & Horkheimer

Untuk Adorno dan Horkheimer, mereka sering dikenal dwi-serangkai, kerana sering menulis-bersama. Ekoran keakraban ini, mereka menaakul apa yang terjadi terhadap manusia ketika itu, terutamanya setelah Perang Dunia II. Pada waktunya, Adorno dan Horkheimer melihat manusia sudah diatur dengan segala macam teknik dan teknologi moden, yang semua ini kononnya adalah lambang Aufklarung (pencerahan), serta lambang sebuah kebebasan. Namun, pada mereka, manusia kini tidak lagi manusia sejati, malahan sudah tenggelam dalam kebergantungan pada modeniti. Lantas, dalam Dialektik der Aufklarung, mereka menanyakan, “mengapa manusa tidak menuju ke zaman manusiawi yang unggul, malahan terbenam pula ke dalam barbarisme baru.” Setelah itu, hadhir lagi regim Nazi Jerman seakan mengesahkan lagi pertanyaan mereka—bahawa apakah ini yang dihasilkan pencerahan?

Namun, bagaimana analisa mereka sebelum menjatuhkan kesimpulan ini? Mari kita semak, bagaimana mereka mencari simbol-simbol sejarah, seperti yang dikemukakan dalam magnum-opus mereka itu, Dialektik der Aufklarung. Di situ, mereka menunjukkan bahawa zaman-nya sebenarnya saling tidak tumpah dengan zaman mitologi. Ini semua adalah jalan yang salah dari Aufklarung. Hasilnya—mirip dengan pandangan Marx—bahawa mereka membaca sejarah juga dalam sejarah dominasi, iaitu sejarah penguasaan oleh manusia. Pada Marx, sejarah-nya adalah sejarah di mana manusia mahu menguasai total manusia lain (Herrschaft). Lantaran dari itu, maka terbentuknya kelas-kelas sosial.

Tapi sedikit berbeza dari Marx, Adorno dan Horkheimer menjelaskan sejarah dominasi ini tidak lagi berdasarkan hubungan produksi, atau hubungan ketegangan antara pemilik modal (kapitalis) dengan kaum buruh (proletar). Tidak begitu lagi. Jika kita membaca Das Kapital, itu jelas Marx menganalisa berdasarkan pola-pola produksi. Namun, bila membaca Dialektik der aufklarung, Adorno dan Horkheimer, tidak mahu menuruti analisa Marx tersebut. Lalu, mereka meninjau sampai pada dorongan-dorongan psikologi manusia. Jadi, pada mereka, jiwa manusia memang sudah punya kecenderungan untuk menindas manusia lain, dan ini selari seperti yang diujarkan Nietzsche, sang filsuf aneh itu, der Wille zur Macht (kehendak untuk berkuasa).

Jadi, dibentangkan bagaimana kritik Adorno dan Horkheimer tidak lagi atas kritik hak milik. Sebab, hakikatnya ini bukan lagi masalah hak milik, tapi telah melampaui kesedaran manusia itu. Maka, kritik ditujukan pada kesedaran, bukan pada produksi. Untuk ini, Adorno dan Horkheimer terilham dari Kant, terutamanya dari Kritik der reinen Vernunft. Bagaimana ilham ini terjelma pada mereka? Kerana, Kant secara konsisten merupakan seorang filsuf yang mengkritik secara tajam tentang kesedaran manusia itu. Lihat saja kritik Kant pada nalar, dan bagaimana dia membuat penyelidikan terhadap nalar manusia itu sendiri.

Jadi, pada Kant, kita harus tentukan batas-batas Vernunft (rasio) kita, dan kemudiannya barulah dapat kita kemukakan kritik pada rasio sendiri. Kemudian, di tangan Adorno dan Horkheimer, rasio itu dipandang sebagai alat penguasaan manusia ke atas manusia yang lain. Di sini yang menarik, bagaimana mereka berdua menjelaskan kecenderungan terhadap rasio sebegini? Begini, pertama, mereka mengakui bahawa manusia menguasai alam, dan kemampuan ini lahir dari bantuan konsep-konsep (Begriffen), yang menata alam itu. Mithalnya, kita sebenarnya dapat menyusun kehidupan kita dengan memisahkan mana yang kita mahu atau tidak, serta mengasingkan apa yang disuka atau tidak, dll. Begitu juga, kalau dalam masjid, manusia di tata di mana bahagian lelaki dan mana bahagian wanita. Jadi, sistem itu disusun untuk memudahkan manusia. Jadi, manusia dikenal dari piawai yang ditentukannya sendiri

Tentu pandangan ini, dikira konsep secocok juga dengan pandangan Yahudi. Ini ketika Adam dan Eva diciptakan, dan manusia diberikan kekuasaan, maka bersama dengan kekuasaan itu dikepilkan sekali ketamakan. Maka, dengan ketamakan itu, manusia dapat menyusun dan menguasai alam. Sebab, tamak sudah menjadi alat untuk tujuan tersebut. Malah, dalam kitab Penjajian Baru juga, ketika Jesus bertemu dengan syaitan, dan syaitan bertanya “siapa namamu.” Namun, Jesus tidak menyebut “nama saya….”. Sebab, sebaik Jesus menyebut namanya, maka mudah sekali untuk dikuasai. Jadi, kategori itu penting sekali dalam pengenalan. Bahkan, syaitan juga tidak sebut namanya. Sebaleknya, ketika ditanya siapa kau, dijawabnya, “kami adalah Legion.” Jadi, manusia menguasai alam ini dengan konsep-konsep yang diciptakannya. Lalu, dengan demikian, manusia menemukan dirinya sebagai subjek yang menguasai, sementara alam itu adalah objek yang dikuasai. Maka, ketika ini, proses manusia menuju kepada dirinya sendiri. Ini berlanjut, sehingganya manusia mengenal siapa dirinya sebagai subjek itu, yang mana itu didasarkan atas pengakuan kekuasaannya sebagai sebuah prinsip.

Nah, dalam kaitan ini, antara subjek yang menguasai, dan objek yang dikuasai, di situ ada dialektika. Adorno dan Horkheimer menyatakan bahawa, “manusia membayar kekuasaannya dengan rasa keterasingan dirinya dari apa yang dikuasainya.” Maksudnya, berkat rasio, manusia kemudiannya dapat menguasai alam ini. Namun, malangnya, manusia akhirnya mengalami keterasingan dari realiti, dan mengalami pemisahan antara subjek dan objek. Jadi, pemisahan ini berlaku untuk tujuan menguasai. Meskipun begitu, hal ini bukan baru dalam pandangan manusia.

Sebelumnya, hubungan manusia dengan alam sudah wujud semenjak mitos lagi. Adorno dan Horkheimer memaparkan dalam mitos pun, manusia sudah menjelaskannya dalam cerita ghaib dan dalam beragam ritual. Ini semua, pada mereka, adalah sakral, suci, kudus, dll. Tapi, kita harus hati-hati di sini, kerana pada zaman mitos, manusia belum lagi tersedut melakukan Versachlichung (pengobjekan). Sebab di situ, manusia terpaksa beradaptasi dengan alam, bukan menundukkan alam seperti yang berlaku pada zaman Aufklarung, dan pasca-nya. Dalam bahasa Yunani, penyesuaian manusia dengan alam pada zaman mitos ini disebut mimesis, bererti peniruan. Jadi, terjadi peniruan, mithalnya dalam ritual-ritual kuno, di mana orang menari-nari mengelinggi unggun api. Itu, kalau menurut penjelasan Zoroaster adalah sebuah penghayatan terhadap alam. Mereka meniru unsur-unsur alam, dan lewat peniruan mereka turut terlibat sekali. Ini memang suasana pada zaman mitologis. Begitu juga ketika mereka bertani, maka mereka terpaksa menyesuaikan diri dengan alam, dengan menuruti musim-musimnya.

Jadi, ketika itu, manusia memang masih bersatu dengan alam, belum ada jarak dan pemisahan pada zaman mitologis. Namun, pada zaman Aufklarung, jarak antara subjek dan objek itu mula berlaku, dan mula jelas. Lalu, manusia mula melihat alam sebagai sesuatu yang asing, sesuatu yang di luar dirinya. Alam ini diselidiki, dimiliki, dikuasi, dimanipulasi, diekspoloitasi, dan akhirnya menjadi bahagian yang bukan dari manusia. Kini, atas nama pencerahan, manusia berdiri sebagai subjek yang lebih berkuasa, dan dengan demikian mahu/telah menundukkan alam sebagai objek. Ternyata, pada akhirnya berkat rasio, manusia tampil sebagai pemenang. Manusia jadi hebat, dan alam telah kalah. Adorno dan Horkheimer mengungkapkan lagi, bahawa Aufklarung difahami oleh mereka adalah sebagai ikhtihar manusia untuk menguasai berkat kehadhiran rasio. Pokoknya, segala usaha manusia untuk jadikan dirinya hebat atas alam, itu dilakukan menerusi rasio. Jadi, Aufkarung jika dibandingkan dengan mitos, hanya dibezakan pada tingkat rasionalisasi, tidak lebih. Maka, sebab itu, saat kita memahami Aufkarung, itu merujuk kepada rasionalisasi juga.

Kemudian, dalam proses manusia menjadi diri penguasa atas alam, maka ilmu berkembang menjadi positif. Lalu, positivisme mendapat tempat, di mana hanya ilmu yang berasaskan empirisme dan dapat diamati saja boleh diterima. Postivisme ini bergerak dari proses Aufklarung dan percaya bahawa ini satu-satunya jalan untuk pembebasan manusia dari pengaruh mitos. Dan dari ilmu itu, manusia bertakhta ke atas alam. Jadi, manusia menjadi tuan atas alam. Kalau dalam bahasa Hegel, tuan dan hamba, di mana manusia adalah tuan, dan alam adalah hamba.

Atas analisa inilah, Adorno dan Horkheimer menanyakan kembali, apakah benar manusia menjadi tuan atas alam? Maka, di sini, Adorno dan Horkheimer menampik kepercayaan itu. Bagi mereka, kerana sikap manusia yang memperluaskan teknologi, dan adanya piawai, kategorisasi, metalisasi, maka ilmu positivisme ini hanyalah mendorongkan alam sebagai objek, menjadi pengobjekan. Tapi, celakanya, proses pengobjekan ini tidak berlaku terbtas pada alam saja. Malah, terlimpah pada sesama manusia. Ini yang dalam bahasa Marxisme disebut reifikasi/ Versachlichung/pengobjekan), bermakna melakukan pembarangan, atau melakukan pembendaan.

Jadi, akhirnya, manusia dengan positivisme menampilkan alam serta manusia sekaligus sebagai objek. Namun, hal ini hanya mula berlaku sebermulanya masyarakat Spatkapitalismus (kapitalis-lanjut), yang beranjak perlahan-lahan dari zaman Aufkarung memasukan zaman Industri, dan seterusnya. Kalau kita lihat masyarakat moden dewasa ini, ternyata terjadi banyak reifikasi dalam hubungan manusia, seperti sebuah hubungan kebendaan. Lihat saja kehidupan kita, ada birokrasi, ada kategorisasi, ada jaringan kerja, ada mekanisme, dan semua ini secara struktural adalah kaedah manusia untuk mengatur barang, menyusun alam, juga membahagi manusia. Tapi, sekali lagi, celakanya itu berfungsi (berjaya). Kaedah manusia dalam mengatur alam dengan sistematik, kategorisasi, piawaisasi, birokrasi, itu semua hasil dari proses Aufkalurng. Sekarang dengan kekuatan rasio ini, manusia telah menata manusia lain pula, bukan saja pada alam. Itulah dia pengobjekan.

Apapun, kaedah ini berkerja, berfungsi, berhasil. Namun, kritik Adorno dan Horkheimer maseh tidak terhenti di sini. Sebaleknya, melimpah pula dalam mengatur jiwa kita. Kata Adorno dan Horkheimer, pengobjekan ini sudahnya mengatur mentaliti, dan jiwa manusia juga. Maka, Adorno dan Horkheimer bilang, dahulu-kala, “Der Animismus hatte die Sache beseelt, der Industrialismus versachlicht die Seelen” (dahulu-kala, animisme mejiwakan benda-benda, lalu saat ini industrialisme pula membendakan jiwa-jiwa). Kini jiwa-jiwa diatur seperti barang.

Memang, semua ini berjalan baik dan teratur. Semua ini berprosedur. Tapi hakikatnya ini sebuah kesan semu, dan menabirkan kita pada kenyataan buruk yang berada di sebaleknya. Kenyataan ini buruk, kerana tidak bahagiakan manusia. Kenyataan ini buruk, kerana menindas. Kenyataan ini buruk, kerana memasifkan. Jadi, ini akhirnya menghasilkan manusia yang dalam dirinya, terukir sebuah keterasingan. Lihat saja, borjuis-borjuis, itu tampak sekali pembendaan dalam jiwanya, dan di satu sudut mewujudkan keterasingan dalam dirinya. Dalam bahasa Jerman itu disebut, Verblendungszusammenhang. Kata Verblendungszusammenhang ini bermaksud, “sebuah kemilauan yang akhirnya membutakan mata kita.” Jadi, kita sepertinya terupa di balek sesuatu itu ada apa yang sebenarnya. Maka, itu kalimat merujuk kepada rasa terpesona, tapi dibaleknya kita tidak tahu, bahawa itu sebenarnya adalah raksasa yang menganggu kita.

Jadi, apakah positivisme dan teknologi ini membebaskan manusia? Apakah, kini manusia telah beremansipasi? Jawapan Mazhab Frankfurt jelas, negatif! Positivisme itu ternyata bertolak ke belakang dari kemanusian. Lebih dashyat, dan lebih mengeramkan, modeniti telah memperbaiki proses penindasan manusia atas panji Aufklarung. Positivisme itu sah-sah merupakan hasil dari proses Aufklarung, dan ternyata mempunyai kerasionalan yang tersendiri.

Justeru, sistem yang buruk ini, terus dilanjutkan, dan diobjekkan, bahkan hari demi hari makin canggih pengobjekan itu. Di bawah panji modeniti, juga terjadi penindasan manusia atas manusia. Semuanya atas nama kerasionalan, dengan beberapa perbezaan pengistilahan. Dalam Aufklarung, rasio itu dirujuk kepada beberapa versi, seperti instrumentelle Vernunft (rasio-instrumental), kerana menekankan segi tertentu, iaitu sebagai alat, dan sekali lagi, itu berfungsi cemerlang. Selain rasio-instrumental, rasio seperti ini juga dikaitkan dengan istilah, kalkulierende Vernunft (rasio-perhitungan) atau Zweckrationalitat (kerasionalan-tujuan). Inilah rasio dari manusia moden. Manusia moden, pokoknya yang boleh mengatur realiti kerana ini, kerana rasio-nya tidak mempersoalkan sasarannya, melainkan berfungsi secara bendul serta membuat jalan yang bagus ke arah sasaran itu, dan mengartikulasikan segala halangan.

Namun, kerana sama sekali tidak kritis terhadap diri dan sasaran sendiri, maka rasio itu boleh dimanipulasi, dan dimanipulasi pada kepentingan apa-apa pun—termasuk demi kepentingan politik, ekonomi, idealogi, sepertimana yang terjadi pada Fasisme dan Nazisme. Di sana, rasio dipakai untuk melancarkan kekuasaan seperti yang dilakukan Adolf Hitler. Kesimpulannya jelas, dari positivisme, mustahil untuk kita harapkan emansipasi buat manusia. Bayang-bayang dari penyelidikan Adorno dan Horkheimer ini adalah Nazisme.

Pada waktunya, Nazi Jerman adalah rejim yang memakai teknologi untuk menghancurkan negara lain, demi kepentingannya, demi cita-cita politiknya. Kalau kita lihat kem Auschwitz itu, maka kita lihat dalam kem konsentrasi terdapat sistem kategorisasi. Setiap Yahudi didaftarkan, jelas dicatat ciri-cirinya, fizikalnya, dll. Lalu kemudian, di dalam kem tersebut, terdapat blok-blok yang jelas dikategorinya, di mana blok kuning untukk tahanan politik, dll. Jadi, inilah juga kaedah manusia dalam menangani barang, yang kini digunakan untuk menangani manusia. Jadi, lihat, rasio tidak kritis di sini, malahan membuatkannya efektif. Kalau kita himbau lagi, Nazi itu tidak memusnahkan Yahudi begitu saja, sebaleknya memanipulasinya terlebih dahulu. Pada mereka, amat rugi jika dibunuh begitu saja. Maka, Yahudi disuruh berkerja untuk menghasilkan barang-barang industri, dan kemudian dirinya akan mati sendiri. Inilah yang mereka sebut sebagai “the final solution of the Jewish problems.” Kerana rasio sebegini, akhirnya Jerman dapat mengalahkan negara-negara tetangga dengan waktu yang singkat. Mithalnya, Poland dalam tujuh hari, Belanda dalam tiga hari, Perancis dalam dua minggu, dan itu semua adalah berkah dari teknologi. It’s work. Tapi, it’s work dari rasio yang sudah tidak kritis lagi.

Jadi, dari positivisme, usah sama sekali harapkan emansipasi dan pembebasan. Kerana positivisme tidak kritis terhadap rasionya. Mereka hanya berfungsi melaksanakan tujuan itu, tanpa mempersoalkan apakah tujuan itu baik atau tidak. Lalu mereka menjadi pesimis. Hujungnya, Adorno dan Horkheimer bertanya, “apa ertinya segala kemajuan dan kecanggihan ini untuk perkembangan perabadan manusia?” Nihil. Maka, ini bererti Aufklarung—usaha manusia untuk emanispasi dirinya berkat rasio—ternyata berbalek kembali menjadi sebuah mitos. Singkatnya, Aufklarung itu berakhir sebagai mitos (baru). Jika, sewaktu mitos, manusia melakukan mimesis dengan alam. Pada Aufklarung, manusia masuk lagi dan harus menyesuai dirinya dengan teknologinya, tunduk pada teknologinya. Ini juga sebuah peniruan. Manusia yang rasional ini hilang dirinya dalam rekaannya sendiri. Adorno dan Horkheimer melihat hal ini sangat ketara pada Nazisme tersebut.

Sebenarnya, ada sebuah cerita bagus yang diungkapkan kembali Adorno dan Horkheimer, iaitu kesah mitos dalam Homer tentang perjalanan Odyssey. Itu adalah suatu mitologi, yang menceritakan usaha untuk memusnahkan Troy. Kesahnya, Odyssey ini awal-awal sudah menjangkakan bahawa Akilis akan menang dan Hektor akan kalah dalam pertempuran itu. Jadi, sewaktu Akilis ini kecil, dirinya telah disembunyikan oleh orang tua-nya di sebuah sekolah di Ithaca, dan penuh dengan puteri-puteri. Kerana anak kecil, maka sudah tentu sulit untuk dibezakan antara putera dan puteri. Malahan, suara di kalangan anak kecil hampir sama.

Sementara, Odyssey ini pintar, maka dia bilang kalau begitu mudah saja untuk mengenal Akilis. Dia bagi emas, wangian, patung, dll, serta pedang. Lalu juga dibunyikan gendang perang, dan pada waktu panik tersebut, semua puteri mengambil segala perhiasan tersebut, manakala hanya ada seroang yang mencapai pedang, dan kata Odyssey, itulah Akilis. Lalu, Akilis itulah yang membunuh Hektor, dan dengan kecerdasan Trojan Horse, Troy berjaya ditaklukkan. Malangnya, Odyssey bertindak sombong atas Poseidon, dewa-nya Troy, juga dewa laut. Lantaran itu, Poseidon bersumpah takkan membenarkan Odyssey pulang semula ke Athena untuk menemui isterinya, Penelope. Maka, laut pun diombak-ombak sampai Odyssey terdampar di tempat lain. Selain itu, Odyssey turut dicari oleh Cyclops, anak-nya Poseidon hasil dari sleingkuhan haram dengan manusia. Cyclops bermata satu. Hari demi hari, Cyclops hanya mencari Odyssey. Tapi, saat bertemu Odyssey, dan ditanya ditanya siapa dirinya? Lalu, Odyssey menjawab, “I am nobody.” Maka, kerana tidak melakukan kategorisasi pada dirinya, dan tidak dikenal, maka Odyssey tidak jadi dibunuh.

Demikian cerita Adorno dan Horkheimer yang dipinjamnya dari Homer tersebut. Katanya, kerana Odyessy itu pintar, maka dirinya dapat survive sebab tidak menerangkan dirinya yang sebenar. Jadi, begitu juga manusia moden, jika mereka mahu survive maka mereka juga seharusnya menolak dirinya sendiri, dan menolak kategorisasinya. Tapi, yang berlaku, ternyata manusia kemudiannya hilang dalam sistem moden, sistemnya itu sendiri, dan gagal. Akhirnya, kedua filsuf ini menjadi pesimis dengan modeniti. Dengan rasio modeniti ini, tumbh sebuah barbarisme baru. Bak kata Adorno dan Horkheimer, “”Mit der Ausbreitung der bürgerlichen Warenwirtschaft wird der dunkle Horizont des Mythos von der Sonne der kalkulierenden Vernunft aufgehellt, unter deren eisigen Strahlen die Saat der neuen Barbarei heranreift” (Dengan meluasnya ekonomi perdagangan dalam masharakat, ufuk gelap mitos memang berhasil dihalau oleh terang matahari rasio-perhitungan).

Namun, di sebalek pancaran gelombang dingin rasio ini, benih barbarisme baru (terutama fasisme) tumbuh menjadi ranum). Lalu, mereka sangat merasa begitu pesismistik, yang jelas berbeza dengan pesimistik pada situasi penindasan kaum buruh pada zaman Marx. Ini kerana, sekarang manusia tenggelam dan terperangkap dalam paradigma yang dibinanya sendiri. Buruh dan kapitalis, hujungnya masing-masing tertekan dalam sistem buatannya sendiri. Manusia mengalami keterasingan dari dalam dirinya sendiri, juga pada sesamanya. Di zaman industri ini, kata Adorno dan Horkheimer lagi, keperibadian keperibadian itu hanyalah diketahui pada zahir (kategori), sebelebihnya kita tidak tahu. Jiwa manusia hilang dalam sistemnya.

Marcuse

Lalu, hadhir Marcuse. Di sini, Marcuse mula mencanangkan “one dimensional man,” manusia satu dimensi. Mengapa manusia moden itu satu dimensi? Kerana, pada Marcuse, manusia ini merupakan kelangsungan dari sistem ekologi sebagai penguasa total. Di sini, manusia hanya bertujuan untuk melakukan perlawanan. Di sini, manusia hanya menegaskan dan membenarkan lingkungannya begitu saja. Marcuse masuk ke dalam idea perlawan ini. Sekiranya Adorno dan Horkheimer berpangku pada analisa tentang rasio, maka Marcuse menekankannya lagi dalam analisanya tentang teknologi dan komsuwang (keterpaksaan membeli). Marcuse mencermati manusia dalam teknologi. Begitu, mithalnya dalam zaman industri, terdapat usaha memproduksi barang sebanyak-banyaknya menjadi keutamaan. Ini semua dilakukan menerusi bantuan teknologi. Jadi, tujuannya untuk memperoleh keuntungan yang tinggi, dengan pertambahan jumlah pasaran.

Tapi, dari hukum ekonomi kita memahami, bahawa melimpahnya barang belum tentu membawa keuntungan berganda. Justeru, sistem kapitalis moden punya suatu cara, iaitu mereka gunakan iklan. Pada mereka, kata Marcuse, iklan itu bukanlah semata untuk memperkenalkan barang baru buat manusia. Itu bukan tujuan tunggal iklan. Itu hanyalah salah satu bahagian.

Ternyata, di tangan kapitalis, iklan menciptakan keperluan-keperluan baru, serta menjalinkan sebuah hubungan yang hakikatnya tidak tersirat pun. Lalu, kita dengan pengaruh iklan ini terpaksa menuruti agar tidak dilihat berbeza dengan lingkungan, selain untuk memastikan wujudnya saling pengertian. Keadaan ini, dalam bahasa psikoanalisis disebut, neoresis, iaitu sakit saraf. Lalu, neoresis, bersama memisis ini, bersama-sama dalam menajamkan lagi rasio-instrumental dalam masyarakat industri tersebut. Jadi, akhirnya, manusia akan tetap berlanggan, dan berbelanja selalu, setiap kali ada iklan yang baru. Takkan habis-habis keperluan mereka. Inilah mangsa dari mentaliti “bergantungan pada teknologi.” Justeru, kita lihat, bagaimana iklan membentuk rasio-instrumental, dan meletakkan awal-awal sasarannya, tanpa semak-ulang.

Persoalannya, bagaimana untuk mengatasi semua ini? Kerana sudah jelas, pengaruh rasio-instrumental amat kuat. Maka dari itu Marcuse, seperti sebelumnya pada Adorno dan Horkheimer, masing-masing merasa berada di jalan buntu. Dan, semua ahli Mazhab Frankfurt (generasi pertama), berakhir pada pesimis. Mereka kian merasa bahawa masyarakat sudah begitu terasing secara total—sehingga rasio baru tidak dapat dipakai lagi.

Jalan keluar — seni, kerinduan yang serba lain, dan the great refusal

Namun, di celah-celah itu, mereka tetap cuba mencari jalan keluar. Lalu, Adorno menemukan dalam seni, terutamanya musik klasik. Memang, dirinya tidak senang dgn musik pop, kerana terlalu bingit, cin-cang-cin-cang, dan hasil dari produk rasio-instrumental yang dijaja kapitalis. Tidak seperti musik klasik, yang digubah khusus untuk sesuatu. Mithalnya, musik Mozart, Bethovan, dll, itu ada kekhasan ciptaannya. Pada Adorno, dalam musik klasik ada dinamika jiwa yang bebas. Justeru, kerana dinamika ini, musik klasik dapat berkerja serta menyelami dengan penuh-perasaan, di samping mengangkat jiwa kita. Bahkan, Adorno sendiri adalah seorang musikus, dan kerana itu dirinya sangat merasakan tercantumnya hubungan antara batin dan zahir dari musik.

Sementara itu, Horkmeimer menemukan sebuah Sehnsucht nach dem ganz Anderen (kerinduan pada yang serba lain). Dalam analisis filsafatnya, ada yang meyatakan bahawa pandangan Horkheimer ini berupa jejak-jejak agama. Pada Horkheimer, kalau sistuasinya begitu bobrok, maka di sana terdapat suara kerinduan dalam diri manusia. Pertanyaannya, kenapa bobrok? Maka, jawabnya, kerana dalam diri manusia, ada satu kriteria untuknya menilai sesebuah situasi. Mithalnya kalau saya menilai itu adil, maka pasti ada yang tidak adil. Sehubungan dengan itu, menurut Horkheimer, jalan keluar itu ialah kerinduan yang serba lain itu.

Lalu, pada Marcuse turut mencari jalan keluar menerusi tesis-nya, “the great refusal” itu. Akhirnya, dari Marcuse, terdamba-nya sebuah gerakan perlawanan total terhadap segala kebejatan yang menghimpit masyarakat. Jadi, tidak hairan, hasrat penolakkan ini yang melahirkan kelompok Hippi, yang memandang keji pada kapitalis, serta sentiasa mahu kekal hidup dalam kemiskinan, kejelikan, dll. Maksudnya, untuk melawan establishement. Mereka seolah-olah ingin melaungkan, “kalian yang terasing, kami yang bebas.” Inilah salah-satu simbol pemberontakan dalam masyarakat Eropah ketika itu. Tesis Marcuse ini disambut mahasiswa, dan menjadikan One Dimensional Man sebagai Kitab Suci buat mahasiswa. Sebelumnya, kalau dalam musik sendiri, perlawanan juga pernah ditunjukkan oleh beberapa pemusik yang enggan menggunakan gitar elektrik—kerana itu dianggapnya sebagai barang kapitalis.

Jadi, dari Marcuse, ada nama lain yang terkenal yang dilekatkan padanya, The New Left. Ini menjadi sebuah gerakan kekiri-kirian. Kata ini bukan bermakna harfiah seperti Marxisme atau sosialisme. Tapi, sebuah sikap yang diertikan pada liberte, egalite, fraternite. Kerana itu, Mazhab Frankfurt juga dikenali sebagai neo-marxisme, iaitu usaha untuk menolak pembakuan pandangan Marx, seperti yang dilakukan Engels, dan dituruti oleh Leninisme-Stalinisme. Pada masa mereka, Mazhab Frankfurt turut mengkritik Prussia kerana membakukan ajaran Marx, dan meninggalkan jiwa sebenar Marx, iaitu dimensi kritik idealogi-nya. Jadi, Marx, pada kalangan neo-marxisme ini adalah bertujuan untuk membebaskan manusia, bukannya menghambakan manusia, seperti apa yang dilakukan oleh kapitalis. Sebab itu, kalau kita membaca Marx muda, The Paris Manuscript, itu ternyata sarat sekali humanisme-nya. Marx dalam wajah inilah yang digemari oleh kalangan Mazhab Frankfurt.

Untuk Marcuse, dirinya turut dikenal sebagai Nabi Gerakan Mahasiswa. Pada 1960an, juga berlanjut pada 1970-an, gerakan New Left ini mula melancarkan hasrat revolusi untuk menghapuskan kebobrokan masyarakat ini. Namun, buat Marcuse, juga buat Adorno dan Horkheimer, semuanya menolak luncuran sebuah revolusi. Sebab, pada mereka, revolusi akhirnya akan menghasilkan rasio-instrumental yang sama. Tidak ada apa yang berubah. Buktinya, ada pada Revolusi Perancis, di mana berapa banyak yang digoulatine, dan ada pada Revolusi Russia, berapa banyak yang terkorban. Bukankah yang terkorban itu atas nama rasio-sasaran, rasio-instrumental, di mana ada tujuan yang tertentu.

Sudahnya, perintis Mazhab Frankfurt ini disisihkan oleh pengikutnya sendiri, dikeji oleh mahasiswa-nya sendiri. Lalu, gerakan New Left, tanpa guru-gurunya, mula melancarkan kekerasan, dengan menduduki universiti, menjarah kekayaan borjuis, dan ada antaranya cuba merampas pesawat. Kalau membaca cerita Adorno dan Horkheimer, bagaimana dirinya begitu sedih dihina oleh mahasiswa-nya sendiri, dan kuliyyah-kuliyyah-nya sering diganggu, serta dicerca sebagai Spinner. Pernah, Adorno dicegat oleh mahasiswa sampai jaketnya ditarik, dan dicaci-caci. Namun, meskipun terdapat bantahan keras, tetap Mazhab Frankfurt menolak revolusi, sebagai jalan-keluar.

Kritikan-kritikan

Walau bagaimanapun, seperti aliran filsafat lain, Mazhab Frankfurt tidak lepas dari kritikan, biarpun mereka mengelarkan alirannya sebagai Teori Kritis atas Masyarakat. Terdapat dua butir kritik utama. Yang pertama adalah, Teori Kritis menurunkan (reduction) manusia sebagai makhluk yang berkeperluan, walhal keperluan hanya sebahagian dari identiti manusia. Sebab, pada pengkritik Mazhab Frankfurt ini, mereka melihat bahawa keperluan itu turut ditentukan oleh lingkungan, kesadaran diri, dan cara penilaian kita. Yang kedua adalah, kritik datangnya dari Habermas. Menurut murid Horkheimer ini, Teori Kritis maseh lagi menganalisa manusia dalam polarisasi subjek-objek, sesuai juga dengan perspektif Marx. Pada Marx, segala hubungan manusia berasaskan paradigma “pekerjaan,” di mana itu adalah sebentuk polarisasi hubungan. Maka, begitu juga Teori Kritis (generasi pertama), yang menekankan lagi paradigma begini dalam analisanya.

Justeru, di tangan Habermas, paradigma ini dialihkan kepada “komunikatif.” Darinya, lahirlah Teori Kritis yang baru. Maknanya, dalam teorinya, manusia seharusnya berhadapan sesamanya, dalam erti seimbang, saling setaraf, dan sama berdaulat. Maka, di sini, tidak lagi berlaku usaha dominasi antara satu sama lain, atau tiada lagi penindasan total, terhapusnya pengobjekan, juga sekaligus membuka ruang kebebasan. Sebab, kalau dipakai kata penindasan total, maka sudah tentu tiada lagi jalan keluar. Tapi, Habermas jelas memberi harapan baru. Ternyata, bukan penindasan/penguasaan total yang berlaku. Cumanya, modeniti yang terhasil dari Aufklarung itu adalah sebuah projek yang belum selesai. Justeru, mungkin ada pertanyaan, mengapa Habermas memikirkan citra komunikasi ini penting? Kerana, pada Habermas, lingkungan pasca perang ternyata tidak lagi sama sewaktu Marx menganalisa zaman-nya.

Pada dewasa ini, kaum buruh sudah berada dalam keadaan yang lebih baik, terutamanya di Eropah. Jadi, jurang siapa mendominasi siapa, itu semakin menipis. Kini, buruh sudah mendapat perhatian, meskipun tidak semua. Mithalnya, kaum buruh sudah ada insurans, ada subsidi, ada tabungan hari-tua, bahkan ada elaun untuk penganggur. Jadi, hubungan yang tidak seimbang secara ketara seperti zaman Marx tidak lagi berlaku sepenuhnya. Cuma, barangkali analisa keterasingan mungkin maseh bertahan dari Teori Kritis (generasi pertama) ini, dan sulit untuk dibantah bahawa semaju mana pun peradaban manusia, tetap rasa keterasingan tersemi dalam jiwa-nya.

Apapun, dalam seluruh kritikan ini, rasio-komunikatif Habermas kemudiannya berjaya menarik kita ke ranah baru, iaitu ranah yang lebih rata lagi.

Nota: Aqil Fithri adalah editor Ummahonline.com, juga zamil Cendikiawan Awam Asia 2009/2010, tajaan Nippon Foundation, Jepun. Ia dapat dihubungi menerusi aqilfithri@gmail.com.

Komen-komen»

1. agung prabowo wisnubroto - Julai 16, 2010

Terima kasih untuk informasinya! Sangat membantu, dan benar atau tidak, demikian juga memang apakah seperti itu atau sebaliknya, tetap sangatlah menarik untuk disimak! Sekali lagi, terima kasih…


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: